Malam di Jalan Sekelimus Tengah, Kelurahan Batununggal, Kota Bandung, sebenarnya berjalan seperti biasa. Menjelang pukul 20.30 WIB, suasana di kawasan itu mulai lengang. Gerbang akses menuju permukiman warga sebentar lagi akan ditutup, sementara kendaraan yang melintas semakin jarang terlihat.
Namun di bawah remang lampu jalan, tepat di persimpangan menuju Jalan Soekarno-Hatta, seorang pria tampak mondar-mandir sejak siang hari. Sesekali ia duduk, lalu kembali berjalan ke arah Tugu Kujang sebelum berbalik lagi ke depan gerbang. Warga sekitar tak banyak menaruh curiga.
Pria itu adalah Cecep Muktar Maulana (30), sosok yang beberapa jam kemudian menggemparkan kawasan tersebut setelah diduga membunuh mantan adik iparnya sendiri, Nanda Tritami Raina (26).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hamzah (40), petugas keamanan rumah makan Padang di lokasi kejadian, menjadi salah satu orang terakhir yang sempat berbincang cukup lama dengan Cecep sebelum tragedi berdarah itu terjadi.
Menurut Hamzah, sejak awal Cecep terlihat tenang. Tak ada gelagat kasar ataupun perilaku mencurigakan dari wajah pria yang terus menunggu di sekitar jalan tersebut.
"Sempat ngobrol, orangnya sopan, enggak terlihat urakan. Saya hampiri dia, dia kaya lagi nunggu seseorang. Saya tanya, a nuju ngantosan saha, a?" kata Hamzah sambil menghampiri Cecep.
Cecep lalu mengaku sedang menunggu istrinya, yang belakangan diketahui sudah berpisah dengannya. Dengan nada santai, ia bercerita soal persoalan rumah tangga yang sedang dihadapinya.
"Emang gimana gitu? Katanya sudah ke kosannya, tapi tidak ada kunci duplikatnya, katanya ada masalah keluarga," ujar Hamzah.
Mendengar pengakuan itu, Hamzah mencoba menenangkan Cecep. Ia tak menyangka percakapan sederhana tersebut justru menjadi awal dari tragedi yang merenggut nyawa seseorang.
"Sabar a, namanya juga berkeluarga, pasti ada saja masalah. Terus pelaku bilang sempat ke rumah mantan istrinya di Sumedang, katanya sepertinya ada di sini dan mengatakan akan menunggu di sini," terang Hamzah.
Waktu terus berjalan. Langit mulai gelap. Cecep masih berada di lokasi yang sama. Kadang ia berjalan ke arah Tugu Kujang, lalu kembali lagi ke depan gerbang. Bahkan, menurut Hamzah, Cecep sempat membantu seorang pengendara motor gede yang rantainya terlepas di jalan.
Tak ada yang mengira pria ramah itu sedang menyimpan emosi besar di dalam dirinya.
"Dia juga sempat bantu pengendara yang motornya mogok, lepas rantainya, terus mondar-mandir saja, ke sini ke tugu kujang, terus keluar lkagi, jam 8 masih di sini, enggak lama sebelum menutup gerbang mobil korban datang dan dia menabrakkan diri dan terjadi penikaman," jelasnya.
Detik-detik mencekam itu terjadi begitu cepat. Mobil putih yang dikendarai korban datang memasuki jalan tersebut. Dalam sekejap, Cecep menghadang kendaraan itu dan menabrakkan tubuhnya hingga mobil berhenti mendadak. Setelah itu, ia langsung membuka pintu dan masuk ke dalam mobil korban.
Tak lama berselang, suara teriakan minta tolong memecah kesunyian malam. Hamzah yang mendengar jeritan itu segera berlari mendekati mobil. Pemandangan di dalam kendaraan membuatnya terpaku.
Korban sudah berada di jok kiri dengan sabuk pengaman masih terpasang. Sebagian tubuhnya terkulai di pangkuan pelaku. Darah tampak keluar dari mulut korban.
Awalnya Hamzah mengira korban hanya dipukul. Namun saat melihat darah terus mengalir dari bagian dada, ia sadar situasinya jauh lebih mengerikan.
"Ternyata di tusuk, pisaunya patah dan menancap di dada korban. Katanya ada delapan tusukan di tubuh korban," tuturnya.
Warga yang berdatangan langsung mengamankan pelaku sebelum polisi tiba di lokasi. Sementara korban sempat dilarikan menggunakan ambulans ke rumah sakit. Namun nyawanya tidak tertolong.
Bagi Hamzah, malam itu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Ia masih tak percaya pria yang beberapa jam sebelumnya berbicara dengan sopan kepadanya, berubah menjadi pelaku pembunuhan sadis.
"Wah kaget banget, trauma saya lihatnya, baru ada kejadian seperti ini di sini," tuturnya.
Kini, Cecep Muktar Maulana telah diamankan di Mapolsek Bandung Kidul untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut.
(wip/dir)
