Penampakan Botol 'Pembawa Petaka' di Tasikmalaya

Penampakan Botol 'Pembawa Petaka' di Tasikmalaya

Faizal Amiruddin - detikJabar
Selasa, 05 Mei 2026 11:11 WIB
Penampakan 2 botol cairan kimia berbahaya yang dibawa pelaku.
Penampakan 2 botol cairan kimia berbahaya yang dibawa pelaku. (Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar)
Tasikmalaya -

Aksi brutal pria berinisial D yang menyerang sembilan pegawai konveksi di Tasikmalaya dengan cairan kimia berbahaya mengejutkan publik. Serangan tersebut mengakibatkan para korban mengalami luka serius dan rasa sakit luar biasa di sekujur tubuh.

Para korban yang terkena cipratan cairan kimia berbahaya itu seketika merasakan perih akibat kulit yang melepuh dan menghitam seperti terbakar. Bahkan, bagian tubuh yang tertutup pakaian pun tetap terdampak karena cairan tersebut merusak serat kain hingga menembus kulit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pihak kepolisian saat ini masih melakukan pendalaman terkait jenis cairan kimia tersebut. Meski banyak pihak menduga cairan itu adalah air keras, polisi masih meneliti detail kandungan cairan serta asal-usul pelaku mendapatkannya.

"Soal cairan yang digunakan pelaku ini masih pendalaman, diduga itu air keras. Tapi pelaku sudah kita bawa ke Polres untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut," kata Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya Kota, AKP Herman Saputra, Selasa (5/5/2026).

ADVERTISEMENT

Berdasarkan keterangan saksi, pelaku terlihat membawa dua botol plastik warna putih saat melakukan penyerangan. Keterangan ini selaras dengan temuan polisi saat olah TKP. Tim Inafis Satreskrim mengamankan dua botol plastik dengan volume masing-masing tidak lebih dari 500 ml.

Pada salah satu botol tertera tulisan HNO yang diduga merujuk pada jenis senyawa kimia cairan tersebut. Sementara itu, di botol lainnya tertulis "nitric" dengan menggunakan spidol.

Kedua botol tersebut telah diamankan polisi untuk kepentingan penyelidikan. Selain itu, polisi menyita barang bukti lain berupa kain-kain konveksi yang rusak akibat terkena cairan, serta rekaman CCTV dari lokasi kejadian.

Hasil penyelidikan sementara menunjukkan bahwa cairan tersebut didapatkan pelaku dengan membelinya melalui toko online.

"Si pelaku belinya secara online, dipesan tanggal 28 April, pesanan datang beberapa hari kemudian. Tapi baru beraksi di tanggal 4 Mei malam," ujar Herman Saputra.

Fakta yang digali polisi ini semakin mengukuhkan bahwa aksi pelaku telah direncanakan. Pelaku diduga menyimpan dendam sehingga mempersiapkan penyerangan secara matang, termasuk mengenakan jas hujan dan helm saat beraksi.

"Ini penganiayaan yang direncanakan oleh seorang pelaku, yang mana pelaku sekarang sudah kita amankan," ungkap Herman.

Sementara itu, dikutip dari berbagai sumber literasi, kode HNO pada botol yang dibawa pelaku diduga merujuk pada asam nitrat (HNO3). Ini merupakan cairan asam kuat yang bersifat korosif atau merusak jaringan.

Cairan ini lazim digunakan untuk membersihkan logam atau melarutkan karat. Dalam skala industri, cairan ini digunakan dalam produksi pupuk, bahan peledak, dan kebutuhan lainnya.

Selain bersifat korosif, cairan ini juga menghasilkan uap beracun ketika terjadi reaksi kimia. Paparan uap dari cairan ini dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan organ pernapasan.

Hal ini selaras dengan pengakuan saksi Angga, salah seorang pegawai yang luput dari serangan. Angga mengaku melihat kepulan asap pekat ketika serangan terjadi.

"Tiba-tiba banyak yang menjerit, pas saya lihat ruangan juga sampai berasap pekat, mungkin dari cairan air keras itu," jelas Angga.

Seketika itu, menurut Angga, para korban yang terkena cipratan cairan langsung berlarian ke arah dapur menuju keran air.

"Semua berebut keran air, akhirnya saya buka pintu belakang, mereka merendam lukanya di selokan. Direndam air selokan," tandas Angga.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads