Udara asin di kawasan pesisir Cimaja, Kabupaten Sukabumi, mendadak tegang pada Selasa dini hari, 14 April 2026. Rencana operasi senyap yang disusun rapi oleh petugas Imigrasi Sukabumi nyaris menjadi sia-sia. Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel detikJabar tepat pukul 00.36 WIB.
"Segera ke TKP bang, dapat informasi sebagian pada mau kabur," bunyi pesan tersebut.
Pesan itu adalah lonceng peringatan bahwa sebuah rencana besar telah terendus oleh sejumlah Warga Negara Asing (WNA) yang belakangan diketahui sebagai kelompok Fengda karena ditemukan bukti nama Fengda Wealth Management di salah satu dinding kamar hotel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Drama ini bermula sehari sebelumnya, Senin, 13 April. Informasi awal masuk ke meja redaksi detikJabar mengenai aktivitas ganjil di Grand Desa Resort, sebuah penginapan di Desa Cimaja, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi.
Penelusuran mandiri mengungkap sebuah pemandangan yang tak lazim bagi sebuah penginapan wisata. Di salah satu ruangan, meja dan kursi kayu ditata berjejer menyerupai barak kerja digital.
Di atasnya, layar-layar komputer berpendar, menampilkan antarmuka dengan karakter Mandarin yang sibuk. Di sela-sela kabel yang semrawut, para pria asing tampak tekun mengoperasikan perangkat tersebut.
Temuan ini dikonfirmasikan kepada Kepala Seksi Intelijen dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Sukabumi, Torang Pardosi.
Lantaran tengah menjalani pendidikan, Torang mendelegasikan tugas kepada Kasubsi Intelijen, Daniel Putra. Di balik meja koordinasi, terungkap bahwa Imigrasi sebenarnya sudah mencium aroma tak sedap dari aktivitas di resor itu. Namun, kehadiran bukti visual investigasi mandiri menjadi katalis yang mempercepat pergerakan.
Sore itu, rencana dipatok, penggerebekan akan dilakukan Selasa pagi pukul 10.00 WIB. Pertimbangannya taktis menunggu puncak aktivitas para WNA. Namun, rencana yang disusun di atas kertas itu bocor ke telinga para penghuni resort.
Di balik operasional siber ini, tersimpan transaksi ekonomi yang fantastis. Pemilik penginapan, Koh Leleung, mengaku tergiur tawaran kontrak senilai Rp 1 miliar untuk menyewa seluruh area penginapan yang mencakup sekitar 50 kamar selama satu tahun penuh.
Para WNA ini masuk dengan kedok sebagai agen wisata yang ingin membawa investor asal China ke kawasan Ciletuh dan Sawarna.
Namun, alih-alih merawat fasilitas, para WNA ini justru melakukan perombakan besar-besaran secara ilegal. Kamar hotel standar wisata dipaksa berganti rupa menjadi barak atau asrama padat bergaya backpacker demi menampung puluhan pekerja dalam satu atap. Tempat tidur digeser, diganti dengan kasur-kasur tipis yang diletakkan berhimpitan di lantai.
"Si kamar tuh karena kamar hotel diganti jadi kayak kamar backpacker-an lah gitu," ungkap Koh Leleung saat dikonfirmasi.
Saat fajar menyingsing pukul 05.36 WIB, Grand Desa Resort sudah mendingin. Jejak kepanikan terlihat jelas di setiap sudut. Petugas hanya mendapati satu orang yang tertinggal, identitasnya Xu Jinchun, pria 51 tahun asal Fujian, Tiongkok.
Di kamar-kamar bernama Kalimaya, Topaz, Berlian, dan Zamrud, petugas menemukan sisa-sisa kantor darurat. Di salah satu dinding, tertempel logo mentereng Fengda Wealth Management, sebuah nama yang asing dalam daftar perizinan usaha di Sukabumi.
Koh Leleung sendiri mengaku tak tahu soal pengecatan logo tersebut. "Enggak ada informasi ke saya. Baru tahu sekarang ada tulisan begitu di dalam," dalihnya.
Misteri kabel setan dan monitor PC itu kian benderang saat warga mulai bersuara. Sekitar pukul 02.00 WIB, suara derap langkah kaki massal memecah keheningan permukiman menuju arah pantai. Kelompok ini berpencar.
Validasi dilakukan mulai dari area pantai hingga hotel-hotel terbengkalai yang menyeramkan.
Perburuan yang diwarnai aksi kejar-kejaran ini akhirnya membuahkan hasil. Informasi mengenai mobil bak terbuka putih membawa petugas ke sebuah minimarket di kawasan Cisolok.
Di sana, empat orang diringkus, termasuk seorang perempuan asal Malaysia. Penyisiran berlanjut hingga total 16 WNA berhasil diciduk dari berbagai persembunyian.
Namun, keberhasilan penangkapan ini menyisakan noktah hitam, siapa yang membocorkan informasi?
Daniel Putra tak menepis adanya duri dalam daging. "Terindikasi ada kebocoran informasi untuk keluar. Jadi begitu kita datang ke sini, awalnya kita hanya temukan satu WNA berkewarganegaraan China, baru setelah itu kita lakukan pengejaran," ujarnya.
Dugaan kuat mengarah pada lingkaran dalam yang mengetahui pergerakan petugas pada Senin sore. Komplotan Fengda ini melakukan eksodus hanya beberapa jam setelah koordinasi aparat terdeteksi.
Pelarian yang terorganisir ini menunjukkan bahwa di balik layar monitor komputer di pesisir Cimaja, ada jaringan besar yang memiliki telinga hingga ke tembok-tembok pertahanan aparat.
(sya/sud)
