Sejarah Konferensi Asia-Afrika: Latar Belakang dan Tujuan

Sejarah Konferensi Asia-Afrika: Latar Belakang dan Tujuan

Firyal Hanan Maulida - detikJabar
Selasa, 14 Apr 2026 08:00 WIB
Bagian dalam Museum Konferensi Asia Afrika, Kota Bandung.
Bagian dalam Museum Konferensi Asia Afrika, Kota Bandung. Foto: Muhammad Jadid Alfadlin
Bandung -

Konferensi Asia-Afrika merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah dunia di mana negara-negara dari dua benua berkumpul untuk menyampaikan semangat tentang kemerdekaan, perdamaian, dan kerja sama. Di tengah kondisi dunia yang sedang penuh dengan ketegangan, konferensi ini menjadi tanda persatuan antara negara-negara yang baru merdeka dan negara-negara yang masih berperang melawan penjajah.

Pertemuan penting tersebut diadakan tahun 1955 di Bandung, dan kemudian dikenal sebagai Konferensi Asia-Afrika. Dari situ muncul semangat persatuan dan kerja sama antar negara yang dikenal sebagai Dasasila Bandung, yang sampai saat ini masih menjadi contoh dalam hubungan internasional.

Sejarah Konferensi Asia Afrika?

Setelah Perang Dunia II selesai, kondisi dunia masih belum tenang dan aman. Ketegangan politik semakin intens karena munculnya Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Dunia dibagi menjadi dua kelompok besar yang saling berkompetisi dalam pengaruh politik dan ideologi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, banyak negara di Asia dan Afrika masih mengalami masa penjajahan. Kondisi ini membuat banyak orang khawatir, terutama bagi negara-negara yang baru merdeka atau masih berusaha memperoleh kemerdekaan dari penjajah. Dari rasa ketidaknyamanan itu, muncul keinginan untuk membangun kerja sama antar negara yang memiliki nasib yang sama.

Gagasan pertama untuk membahas situasi ini dimulai dari pertemuan informal yang berlangsung dari 28 April hingga 5 Mei 1954 di Kolombo. Konferensi Kolombo ini mengumpulkan lima tokoh pemimpin dari berbagai negara, yaitu Sir John Kotelawala dari Sri Lanka, Jawaharlal Nehru dari India, Muhammad Ali dari Pakistan, U Nu dari Myanmar, serta Ali Sastroamidjojo dari Indonesia.

ADVERTISEMENT

Dari pembicaraan itu, muncul gagasan untuk memperluas forum tidak hanya sampai negara-negara Asia saja, tetapi juga melibatkan negara-negara Afrika. Rencana tersebut kemudian dibahas lagi dalam pertemuan berikutnya pada 28 sampai 29 Desember 1954 di Bogor, yang dikenal sebagai Konferensi Panca Negara.

Dalam pertemuan di Bogor, para pemimpin sepakat menentukan tujuan konferensi, materi yang akan dibahas, dan daftar negara yang akan diundang. Ini menjadi alasan kuat mengapa konferensi dengan skala yang lebih besar bisa diadakan.

Akhirnya, Konferensi Asia-Afrika diselenggarakan pada 18 hingga 24 April 1955 di Bandung dan diikuti oleh 29 negara dari Asia dan Afrika. Kebanyakan peserta adalah negara-negara yang baru merdeka, jadi pertemuan ini menjadi kesempatan penting untuk memperjuangkan kesetaraan, kemerdekaan, dan kerja sama antar negara.

Konferensi ini juga membantu memperkuat peran negara-negara berkembang di tengah persaingan antara dua kelompok utama di dunia, yaitu kelompok di Barat dan kelompok di Timur. Dari acara Konferensi Asia-Afrika (Konferensi Bandung) tersebut muncul semangat baru yang menolak berpihak dalam urusan politik, melainkan lebih memperhatikan perdamaian dan persatuan antarbangsa.

Apa Tujuan KAA?

Tujuan diadakannya konferensi para pemimpin negara-negara Asia dan Afrika adalah sebagai berikut :

Mempromosikan Perdamaian dan Kerjasama Internasional

Mendorong perdamaian dan kerja sama antar negara-negara Asia dan Afrika. Melalui pembicaraan dan negosiasi, konferensi ini diharapkan bisa mengurangi perang dingin, mempererat hubungan antar negara, serta menciptakan kondisi yang stabil di kedua wilayah demi mencapai dunia yang lebih damai dan adil.

Memperkuat Persahabatan dan Solidaritas antara Negara-negara Asia dan Afrika

Memperkuat hubungan antar negara Asia dan Afrika yang memiliki sejarah serupa, yaitu pernah mengalami penjajahan. Melalui konferensi ini, terbangun rasa persatuan, persahabatan, dan empati yang sama untuk memperkuat kerja sama dan bersama-sama memperjuangkan kemerdekaan serta kedaulatan.

Mempromosikan Kemerdekaan dan Hak Asasi Manusia

Konferensi Asia-Afrika diadakan agar bisa mendorong kemerdekaan dan hak-hak dasar manusia di berbagai negara di dunia. Pada masa itu, banyak negara di Asia dan Afrika masih berusaha memperoleh kemerdekaan politik dan kemandirian ekonomi dari pemerintahan penjajah. Selain itu, konferensi ini juga menekankan pentingnya memenuhi hak-hak dasar manusia, seperti akses ke pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan yang layak, sebagai bagian dari upaya menciptakan kehidupan yang lebih adil dan makmur bagi seluruh bangsa.

Mempromosikan Perdagangan dan Ekonomi yang Adil

Mendorong terbentuknya perdagangan dan kerja sama ekonomi yang lebih adil di antara negara-negara Asia dan Afrika. Ini dilakukan agar negara-negara berkembang tidak terus bergantung atau dipengaruhi oleh kekuatan ekonomi dari negara-negara di Barat. Dengan bekerja sama yang saling memberi manfaat, konferensi ini diharapkan bisa memperkuat kemampuan ekonomi sendiri serta meningkatkan kesejahteraan bagi negara-negara yang hadir.

Tokoh-tokoh penting dalam KAA

Beberapa tokoh penting yang berperan besar dalam penyelenggaraan KAA, antara lain :

  • Ir. Soekarno (Indonesia) : Sebagai tuan rumah, Soekarno menyampaikan pidato pembukaan yang sangat bersejarah dalam Konferensi Asia-Afrika, yang berhasil membangkitkan semangat persatuan dan kerja sama antar bangsa.
  • Mohammad Ali Bogra (Pakistan) : Perdana menteri Pakistan yang turut aktif dalam menyusun agenda KAA
  • U Nu (Myanmar) : Perdana menteri Burma (kini Myanmar) yang mendorong kerja sama antarnegara asia
  • Gamal Abdul Nasser (Mesir) : Tokoh nasionalis Arab yang memperjuangkan kemandirian politik negara-negara berkembang
  • Jawaharlal Nehru (India) : Perdana menteri India yang berperan dalam diplomasi antarnegara Asia-Afrika

Pengaruh Konferensi Asia Afrika bagi Dunia

Konferensi Asia-Afrika memiliki dampak besar dalam hubungan internasional karena berhasil memperkuat persatuan dan kerja sama di antara negara-negara Asia dan Afrika. Pertemuan ini menjadi tempat penting bagi negara-negara berkembang untuk menyampaikan suara mereka, terutama dalam berjuang mencapai kemerdekaan, kedaulatan, dan kesetaraan di dunia.

Dari konferensi tersebut muncul semangat yang dikenal sebagai "Semangat Bandung", yang kemudian menjadi inspirasi untuk munculnya gagasan Dunia Ketiga dan menjadi dasar terbentuknya Gerakan Non-Blok. Gerakan ini mengajak negara-negara berkembang untuk tetap bersatu dan tidak tergoda untuk memihak pihak besar di dunia, sekaligus membantu mereka memperkuat kemampuan dalam menghadapi perubahan politik di tingkat global.

Dasasila Bandung

KAA menghasilkan beberapa keputusan dalam bentuk Dasasila Bandung, yaitu :

  • Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam piagam PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa)
  • Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa
  • Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil
  • Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain
  • Menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai dengan piagam PBB
  • Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukannya terhadap negara lain
  • Tidak melakukan tindakan-tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah maupun kemerdekaan politik suatu negara
  • Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi (penyelesaian masalah hukum), ataupun cara damai lainnya, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan piagam PBB
  • Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama
  • Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional

Sebagai peristiwa penting dalam sejarah, Konferensi Asia-Afrika tidak hanya mengumpulkan negara-negara dari Asia dan Afrika, tetapi juga mendorong lahirnya semangat persatuan, kerja sama, serta semangat berjuang bersama. Nilai-nilai tersebut masih relevan sampai saat ini sebagai dasar dalam membangun hubungan internasional yang damai.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads