Langkah Shandy Logay di jagat maya terhenti seketika. Kreator konten asal Tasikmalaya yang karib beken di media sosial itu kini harus meringkuk di balik jeruji besi.
Shandy Logay sendiri sudah jadi tersangka sejak Selasa (27/1/2026) malam. Penetapan itu dilakukan setelah pemeriksaan hingga gelar perkara.
Kini, panggung digital yang melambungkan namanya ambruk setelah polisi mengendus praktik eksploitasi anak di balik konten 'sewa pacar' yang ia produksi demi meraup cuan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu bikin publik geger. Topeng kreativitas pria berusia 40 tahun itu tersingkap, menyisakan testimoni pahit dari banyak perempuan yang mengaku pernah menjadi sasaran perilaku cunihin alias genit sang kreator.
Seiring kasus ini mencuat, sederet akun mulai berani bersuara. Para korban membeberkan pengalaman buruk mereka saat berinteraksi dengan tersangka.
Data yang dihimpun UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Tasikmalaya menunjukkan skala kasus yang mengkhawatirkan. Sedikitnya 10 pelajar di bawah umur teridentifikasi menjadi korban. Kepala Unit PPA Kota Tasikmalaya, Epi Mulyana, menjelaskan bahwa data tersebut dihimpun dari informasi lisan berbagai pihak, termasuk lembaga pendamping.
"Informasi awal yang kami terima secara lisan dari beberapa rekan, kurang lebih ada 10 orang," ujar Epi, Rabu (28/1).
Dari jumlah tersebut, bola salju hukum mulai bergulir. Sebagian korban telah resmi melapor, sementara sisanya masih tertahan oleh beban psikologis. "Ada yang sudah menyusun laporan, ada juga yang masih menunggu karena kondisinya dalam pemulihan trauma," lanjut Epi.
Menurutnya, proses pemulihan korban tidak bisa dilepaskan dari persoalan stigma sosial dan potensi perundungan di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Remaja yang menjadi target kreator konten tersebut rentan mengalami perundungan karena dianggap permisif terhadap tindakan tersangka.
"Posisinya yang bersangkutan masih pemulihan stigma, bahkan menjadi bahan perbincangan dan dikhawatirkan mengalami bullying dari lingkungan," ungkap Epi.
Di sisi hukum, M Naufal Putra selaku kuasa hukum tiga korban yang telah melapor, mengapresiasi gerak cepat kepolisian. Namun, ia menegaskan perjuangan masih panjang.
"Kami selaku kuasa hukum korban sangat mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih kepada jajaran Polres Tasikmalaya Kota. Kami juga tidak berhenti di sini, kami akan terus mengawal proses ini hingga ke meja hijau," tegas Naufal.
Naufal juga membuka pintu bagi korban lain yang ingin mencari keadilan. Ia menjamin kerahasiaan identitas bagi siapa pun yang berani melapor. "Tidak menutup kemungkinan akan kembali membuat laporan terkait kasus yang sama yang dilakukan oleh pelaku. Seiring jumlah korban yang terus bertambah. Apabila ada yang merasa punya pengalaman yang sama jangan sungkan untuk melaporkan. Kami siap menampung dan melindungi identitas," paparnya.
Kejutan ini pun merambah hingga ke Balai Kota. Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi, mengaku tak menyangka sosok yang dikenalnya sebagai pemuda kreatif ternyata menyimpan sisi gelap. Viman bahkan sempat berkunjung ke rumah tersangka sebelumnya.
"Ya, kaget lah pastinya, nggak menyangka sih, ternyata seperti itu, dengan kesehariannya. Keluarganya juga, saya pernah berkunjung ke sana, tidak menyangka sih," kata Viman.
Sebagai pemimpin daerah, Viman mengaku merangkul semua pegiat media sosial di Tasikmalaya untuk pemberdayaan. Namun, ia menegaskan bahwa perilaku pribadi di balik layar adalah tanggung jawab masing-masing individu.
"Saya memang kenal, bukan hanya dia saja, tapi semua influencer kenal, para pemuda kreatif juga. Apa yang terkait di balik itu, kemudian juga cerita hitamnya, kan itu di luar kontrol kita. Kita hanya bagaimana bersilaturahmi, memberdayakan anak-anak muda," paparnya.
Meski mengenal tersangka, Viman memastikan tidak ada karpet merah bagi pelaku kejahatan terhadap anak. Tak ada toleransi bagi pelaku.
"Sikap kami jelas, zero tolerance (tidak ada toleransi) terhadap aksi child grooming, pelecehan terhadap anak, perempuan, dan sebagainya. Kami serahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum (APH)," tegas Viman.
Kini, Pemerintah Kota Tasikmalaya fokus pada dua lini, memulihkan mental para korban dan memperkuat benteng sosialisasi. Tujuannya agar panggung digital tak lagi memakan korban di masa depan.
"Kami memfasilitasi dan mengadvokasi para korban. Kami juga terus mensosialisasikan agar kejadian ini tidak terulang kembali," pungkasnya.











































