Round-up

Kisah Cinta Guru Penyebar Video Mesum Ciamis Berakhir di Balik Jeruji

Tim detikJabar - detikJabar
Selasa, 27 Sep 2022 15:28 WIB
Gambar ilustrasi soal video viral nan mesum. (Danu Damarjati/detikcom)
Foto: Gambar ilustrasi soal video viral nan mesum. (Danu Damarjati/detikcom)
Bandung -

KR, pemeran video mesum oknum guru SD di Kabupaten Ciamis telah ditetapkan sebagai tersangka. Bahkan Satreskrim Polres Ciamis juga telah menahan guru pria tersebut.

"Tersangka diduga menyebarluaskan video rekaman persetubuhan tersangka dengan pelapor. Dalam kasus ini yang menjadi pelapor adalah korban salah satu pemeran wanita di video tersebut," ujar Kapolres Ciamis AKBP Tony Prasetyo Yudhangkoro saat press rilis di Mapolres Ciamis, Selasa (27/9/2022).

Sebelumnya jagat pendidikan Ciamis sempat dihebohkan dengan beredarnya video mesum oknum guru. Video itu menyebar di sejumlah grup komunitas. Diketahui, video mesum itu terjadi di Sukadana, Ciamis pada 12 Juli 2022.


Tony menjelaskan, tersangka nekat menyebar video mesumnya itu karena sakit hati setelah diminta putus oleh pelapor yang tak lain adalah pemeran wanita di video tersebut.

Keduanya diketahui menjalin hubungan asmara meski sama-sama telah berkeluarga. Keduanya juga bekerja di sekolah yang sama, tersangka sebagai operator dan pelapor berinisial LR sebagai guru.

"Video itu pertama kali disebarkan tersangka di grup whatsapp PGRI dan di grup operator sekolah. Adegan itu direkam di sebuah hotel di Majenang sudah cukup lama," ucap Tony.

Dari kasus itu, Tony menjelaskan polisi mengamankan barang bukti berupa dua buah ponsel dan tiga lembar tangkapan layar bukti percakapan pesan singkat di Whatsapp grup.

Akibat perbuatannya, tersangka dijerat pasal 29 Undang-undang Nomor 44 tahun 2008 tentang pornografi dengan ancaman hukuman pidana penjara minimal 6 bulan dan paling lama 12 tahun.

Tony menjelaskan sampai saat ini pihaknya masih menindaklanjuti laporan korban pemeran dalam video tersebut. Terkait dengan status pemeran korban perempuan, polisi akan melakukan evaluasi.

"Kita akan evaluasi lebih lanjut, karena memang bahan keterangan awal tidak ada niat dari pihak korban untuk menyebarluaskan," ujarnya.

(bba/yum)