Kabar Nasional

Panas Sidang Edy Mulyadi hingga Jaksa Tuding Hakim Berat Sebelah

Tim detikNews - detikJabar
Selasa, 21 Jun 2022 22:58 WIB
Sidang Edy Mulyadi
Sidang Edy Mulyadi (Foto: Zunita/detikcom)
Jakarta -

Sidang lanjutan perkara 'tempat jin buang anak' dengan terdakwa Edy Mulyadi berlangsung panas. Bahkan jaksa sempat menuding hakim berat sebelah dalam sidang tersebut.

Debat panas Edy Mulyadi ini bermula saat jaksa menghadirkan saksi Kabid Kepemudaan Kemahasiswaan SEMMI Hengky Prima. Dalam sidang yang digelar pada Selasa (21/6/2022) itu, Edy awalnya mempertanyakan BAP Hengky yang menilai pernyataan Edy Mulyadi soal aset negara dijual merupakan pernyataan bohong.

"Saya katakan (di video Tolak IKN) negara jual aset, saudara katakan itu bohong betul?" tanya Edy dan diamini Hengky sebagaimana dikutip dari detikNews.


Dalam persidangan, Hengky meyakini perkataan Edy itu bohong sebab dia tidak pernah melihat kuitansi jual beli aset negara. Edy menganalogikan aset negara dengan sebuah mobil.

"Karena saudara nggak lihat kuitansi. Misal jaksa X punya mobil, Anda pernah lihat kuitansinya?" tanya Edy.

"Karena mobil beliau itu bukan hak milik saya," jawab Hengky.

Mendengar jawaban dari Hengku, Edy terpancing. Suaranya kemudian meninggi bahkan meneriaki Hengky meminta jawaban.

"Anda pernah atau tidak!" ucap Edy.

"Itu bukan hak milik saya!" timpal Hengky.

"Anda pernah atau tidak, jawab pernah atau tidak!" teriak Edy.

Majelis hakim yang dipimpin Adeng AK lantas menengahi. Dia sampai mengetuk palu hingga tiga kali dan meminta Edy sopan dalam persidangan.


"Bentar-bentar ini kenapa ribut-ribut ini," ujar hakim.

Edy meminta maaf dengan menggerakkan kedua tangannya ke kepala. Dia meminta maaf karena telah membuat kegaduhan.

Jaksa lantas menimpali. Jaksa menyebut berbicara mengenai perkara yang dimaksud bukan berkaitan dengan UU ITE.

"Izin majelis hakim janganlah terlalu... izin biar kami teruskan dulu majelis hakim. Satu, terdakwa menyatakan terhadap saksi kami yang kami hadirkan menyatakan bahwa terkait UU ITE padahal kami bukan hanya menerapkan UU ITE, kami sudah mendiamkan majelis hakim. Kedua terdakwa juga seperti itu, tolonglah biar kita juga fair. Tadi didiamkan majelis, terdakwa menyatakan UU ITE padahal ini bukan UU ITE saja," kata jaksa.

Hakim meminta jaksa tidak berkesimpulan dan meminta Edy melanjutkan pertanyaannya ke Hengky dengan syarat Edy harus bersikap sopan.

"Bukan, bukan. Ini kita selesaikan saudara bisa lebih sopan nggak?" tanya hakim Adeng ke Edy dan dijawab 'bisa' oleh Edy.

Jaksa Nilai Hakim Berpihak

Edy kembali diberi kesempatan oleh majelis hakim untuk melanjutkan pertanyaan ke saksi Hengky. Edy kembali bertanya seputar pernyataan Hengky yang mengatakan Edy berbohong kala menyebut aset negara dijual dalam video 'Tolak IKN' yang ada di channel YouTube Edy Mulyadi.

Setelah Edy selesai bertanya dan majelis ingin selesaikan sidang. Saat itulah, tiba-tiba jaksa menyampaikan keberatan dan menganggap majelis hakim mendiamkan keberatan jaksa, hakim lantas keberatan dengan pernyataan jaksa.

"Lho kami bukan diamkan. Lah kalau pertanyaannya (pengacara) nggak ini, saya cut kok. Kok saudara jadi menilai kami ini... saudara jadi menilai kami berpihak? Bagaimana kami menilai kalau saudara... silakan bilang bahwa majelis ini tidak bermartabat lagi kalau saudara bilang seperti itu," kata Adeng.

Hakim Adeng kemudian meminta jaksa menulis surat keberatan. Hakim Adeng juga meminta panitera mencatat keberatan jaksa.

"Silakan kalau Saudara keberatan dengan majelis ini, saudara adukan kepada ketua kami, dengan senang hati, dengan senang hati. Silakan melalui Jaksa Agung sekalipun ya agar majelis ini diganti karena sudah tidak fair. Dicatat, Pak, karena (jaksa) menilai kami sudah berpihak," kata hakim Adeng.

(dir/bbn)