Mengenal Kampung Silat Majalengka: 30 Persen Warganya Bisa Silat

Mengenal Kampung Silat Majalengka: 30 Persen Warganya Bisa Silat

Erick Disy Darmawan - detikJabar
Jumat, 30 Okt 2026 10:31 WIB
Kampung Silat Majalengka
Kampung Silat Majalengka (Foto: Erick Disy Darmawan/detikJabar).
Majalengka -

Suara kendang berpadu dengan gerakan jurus yang lincah. Para pesilat menggerakkan tubuh mengikuti irama, memainkan ibing penca yang diwariskan turun-temurun. Di Desa Nagarakembang, Kecamatan Cingambul, Kabupaten Majalengka, pencak silat bukan sekadar seni bela diri, melainkan bagian dari kehidupan masyarakat.

Di desa ini, tradisi silat masih tumbuh di tengah perubahan zaman. Mulai dari orang tua hingga anak-anak, banyak warga yang akrab dengan pencak silat. Tak heran, sekitar 30 persen warga Desa Nagarakembang disebut terlibat sebagai penggerak kebudayaan pencak silat.

Kehidupan masyarakat yang lekat dengan tradisi itulah yang membuat Nagarakembang dikenal sebagai Kampung Silat. Sebuah upaya untuk menjaga warisan leluhur agar tetap hidup, sekaligus memberi ruang bagi para pelaku seni untuk menunjukkan kemampuannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pendiri Kampung Silat, Muhammad Yusnil Azidda, mengatakan bahwa gagasan tersebut berangkat dari keberadaan Padepokan Fajar Kencana, salah satu padepokan silat tertua di Desa Nagarakembang. Padepokan itu selama ini dikenal dengan pertunjukan silat tradisional, terutama ibing penca.

"Awalnya dari salah satu padepokan yang tertua di Desa Nagarakembang, itu namanya Padepokan Fajar Kencana. Di situ padepokan ini bergerak di bidang pertunjukan silatnya, yaitu dengan ibing penca," kata Yusnil kepada detikJabar, Rabu (29/10/2026).

ADVERTISEMENT

Namun, seiring perkembangan zaman, pertunjukan silat tradisional mulai menghadapi tantangan. Kesempatan untuk tampil semakin terbatas, sementara kesenian yang diwariskan para leluhur membutuhkan ruang agar tetap dikenal masyarakat.

"Karena pertunjukan ini tergilas oleh zaman, mungkin mereka sudah tidak ada tempat panggungannya lagi. Dari dasar itulah kita bikin Kampung Silat," ujarnya.

Selain ingin menghidupkan kembali ruang pertunjukan, Yusnil melihat pencak silat sudah mengakar kuat dalam kehidupan warga Nagarakembang. Tradisi tersebut tidak hanya dijalankan oleh kalangan tertentu, tetapi juga diwariskan kepada anak-anak sejak usia dini.

"Dari kakek nenek sampai anak kecil balita itu bersilat," ucapnya.

Dua hal itulah yang kemudian menjadi landasan pengembangan Kampung Silat pada 2022. Saat itu, para pelaku silat juga mengikuti kejuaraan tingkat nasional dan internasional. Tradisi yang tumbuh di desa pun berjalan beriringan dengan upaya meraih prestasi.

Bagi Yusnil, mempertahankan pencak silat di tengah arus globalisasi tidak cukup hanya dengan mengajak masyarakat mengingat budaya leluhur. Para pelaku seni membutuhkan ruang untuk berlatih, tampil, dan memperkenalkan kemampuan mereka kepada publik.

Karena itu, Kampung Silat dikembangkan sebagai ruang pertemuan bagi para pesilat dan masyarakat. Festival yang digelar menjadi kesempatan bagi para pelaku seni untuk menunjukkan kemampuan sekaligus menjaga tradisi pertunjukan silat tetap hidup.

"Tujuannya untuk mencari sentrum, menjadi ruang agar tidak hilang. Mereka punya panggung sendiri, talentanya bisa ditampilkan melalui beberapa event yang kita lakukan," tutur Yusnil.

Menurutnya, pelestarian budaya juga tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Warga Nagarakembang yang sebagian berprofesi sebagai petani dan peternak tetap menjalankan aktivitas tersebut sembari menjaga tradisi silat.

Bagi Yusnil, kemajuan zaman tidak seharusnya membuat masyarakat meninggalkan akar kehidupannya. Bertani, beternak, dan bersilat bisa berjalan beriringan sebagai bagian dari identitas warga desa.

Upaya itu sekaligus menjadi cara agar pencak silat tidak berhenti sebagai pertunjukan sesaat. Tradisi tersebut diharapkan terus hidup melalui aktivitas masyarakat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Majalengka, Rachmat Kartono, mengatakan bahwa tradisi pencak silat di Nagarakembang memiliki sejarah panjang. Keberadaan Padepokan Fajar Kencana yang telah hadir lebih dari setengah abad lalu menjadi salah satu penanda kuatnya akar budaya tersebut.

Menurut Rachmat, para sesepuh dan maestro silat turut berperan menjaga keberlangsungan tradisi melalui regenerasi. Upaya itu terus dilakukan meski perkembangan zaman menghadirkan tantangan bagi keberadaan kesenian tradisional.

"Para penggiat, para leluhur, kemudian para maestro silat di sini juga terus melakukan regenerasi. Tantangan zaman di era globalisasi seperti sekarang ini memang mengikis, namun bukan berarti menghentikan tradisi ini untuk punah," kata Rachmat.

Dia menyebut, Festival Kampung Silat yang rutin digelar setiap tahun menjadi salah satu upaya konkret untuk menjaga tradisi tersebut. Kegiatan itu juga telah masuk dalam kalender event Kabupaten Majalengka.

Dengan masuknya festival tersebut ke kalender daerah, Kampung Silat diharapkan semakin dikenal dan menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyaksikan sekaligus mengenal seni pencak silat tradisional.

"Festival Kampung Silat ini sudah masuk dalam kalender eventnya Kabupaten Majalengka. Ini salah satu langkah nyata, bukan lagi teori, dalam hal melakukan upaya pemajuan kebudayaan yang dilakukan oleh Kabupaten Majalengka khususnya di Kecamatan Cingambul," ujarnya.

Rachmat menilai, pemajuan kebudayaan perlu dilakukan melalui kegiatan nyata yang melibatkan para pelaku seni dan masyarakat. Regenerasi menjadi bagian penting agar tradisi tidak hanya bertahan di kalangan generasi tua, tetapi juga diteruskan oleh anak-anak muda.

Di tengah kebiasaan generasi muda yang semakin dekat dengan gawai dan teknologi digital, tantangan pelestarian budaya menjadi semakin nyata. Namun, Rachmat menilai perkembangan zaman tidak harus dipertentangkan dengan tradisi.

Menurutnya, budaya lokal tetap dapat berkembang dengan menyesuaikan diri terhadap perubahan. Hal yang perlu dijaga adalah nilai dan identitas asli yang menjadi ruh dari kebudayaan tersebut.

"Kita memang tidak bisa menghindari yang namanya arus globalisasi. Namun, bagaimana melakukan pemaduan dalam rangka pemajuan kebudayaan, mari kita akulturasikan," ujarnya.

"Namun, tetap berakar pada akar budaya dan DNA aslinya, sehingga budaya tidak akan kehilangan ruhnya," lanjut Rachmat.

Dia berharap pencak silat tidak hanya dipandang sebagai tontonan atau rangkaian gerakan jurus dalam sebuah festival. Lebih dari itu, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui Kampung Silat, masyarakat Nagarakembang berupaya menjaga warisan leluhur tetap relevan bagi generasi sekarang. Panggung festival menjadi salah satu jalannya, sementara regenerasi menjadi kunci keberlanjutannya.

"Kami berharap (festival Kampung Silat) tidak hanya sebagai tontonan, sebagai ajang gerak jurus dan sebagainya, namun bagaimana esensinya nempel dalam kehidupan sehari-hari, bisa diaplikasikan dalam setiap gerak langkah kehidupan untuk menjaga budaya dan melestarikan tradisinya," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Bangun Generasi Tangguh, BNN Gelar Kuliah Umum di Universitas Majalengka"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads