Kebakaran melanda kawasan Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat. Polisi turun tangan mengusut penyebab kebakaran tersebut.
Kapolres Kuningan, AKBP Bellen Anggara Pratama, menegaskan telah menginstruksikan Satuan Reserse Kriminal guna mencari titik awal munculnya api.
"Kita lakukan penyelidikan kemarin sudah perintahkan kasat reskrim untuk penyebab awal terjadinya karhutla ini harus diselidiki kalau bisa diungkap segera," tutur Bellen, Sabtu (24/10/2026).
Bellen menjelaskan, meski mayoritas titik api telah berhasil dipadamkan, petugas masih berupaya menjinakkan api di area terjal blok Karang Dinding. Mengingat medan yang ekstrem, operasi pemadaman di lokasi tersebut mengandalkan bantuan helikopter water bombing. Tim gabungan juga terus bersiaga untuk memastikan titik-titik yang sudah padam tidak kembali menyala.
"Mengecek beberapa spot dan memastikan titik titik yang telah terbakar itu tidak akan kembali berulang. Ada satu titik yang agak curam di karang dinding itu dalam tahap pemadaman tadi sudah dibantu water bombing. Kita berdoa semua semua karhutla ini padam untuk titik yang sulit dijangkau rencana akan di water bombing," tutur Bellen.
Operasi pemadaman ini melibatkan kekuatan besar yang terdiri dari 45 personel Polres Kuningan, 20 anggota Brimob, satu kompi TNI, serta tim dari BNPB, BPBD, TNGC, Damkar, hingga relawan Masyarakat Peduli Api (MPA). Selain upaya fisik di lapangan, Bellen mengimbau warga, terutama para petani penggarap lahan di bagian atas, untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau guna mencegah kebakaran susulan.
"Dari Polres Kuningan ada 45 orang dan Brimob 20 orang, TNI satu kompi, dari BNPB dan TNGC juga termasuk masyarakat peduli api. Di atas relawan cukup baik karena didroping relawan dan logistik juga. Saya menghimbau masyarakat supaya lebih hati hati khususnya masyarakat yang berladang di atas. Sehingga karhutla ini tidak terjadi," tutur Bellen.
Senada dengan hal tersebut, Ketua MPA Silihwangi Majakuning, Nandar Juniar Arif, melaporkan bahwa situasi di area Bukit Seribu Bintang (BSB) kini sudah terkendali. Namun, ia mengonfirmasi bahwa api masih aktif di beberapa titik sulit lainnya.
"Alhamdulillah pada pagi hari area di sekitar BSB bisa dikatakan terkendali. Justru yang membesar di area Gunung Sundul sama Karang Dinding dan Arca," tutur Nandar.
Menurut Nandar, teknik pemadaman disesuaikan dengan kondisi geografis. Petugas menggunakan jet shooter jika terdapat akses air dan jalur yang bisa dilalui. Namun, untuk wilayah seperti Gunung Sundul yang hanya bisa diakses dengan mendaki tebing, tim terpaksa menggunakan metode manual berupa pembuatan sekat bakar.
"Teknik pemadaman kita melihat kondisi dan lokasi tersebut. Kalau memungkinkan untuk disemprot oleh mesin dan ada dekat sumber air kita lakukan. Karena ini semua lokasi yang di Karang Dinding, di Gunung Sundul dan dekat BSB sana itu rata-rata semua berkilo-kilo dari titik air dan kendaraan roda empat tidak bisa dilalui. Jadi ketika di Gunung Sumbul juga nggak bisa bawa jet shooter karena beban yang berat dan harus melewati tebing. Kita dengan metodenya buat sekatan, ketika memungkinkan untuk memukul api langsung kita pukul," pungkas Nandar.
Simak Video "Video: 64 Pesawat Perkuat Operasi Pemadaman Karhutla"
(dir/dir)