Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, dicopot dari jabatannya. Pencopotan ini dilakukan imbas dugaan keracunan yang menimpa ratusan penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG), termasuk siswa sekolah.
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Cirebon, Yulian Septa Pratama, mengatakan pencopotan tersebut merupakan sanksi yang diberikan kepada kepala SPPG tersebut. Namun, proses pemeriksaan terhadap yang bersangkutan masih berlanjut untuk menentukan sanksi berikutnya.
"Untuk saat ini, yang bersangkutan sudah dicopot dari (jabatan) Kepala SPPG. Cuma tetap akan ada tindak lanjut berdasarkan hasil pemeriksaan nanti," kata Yulian di Cirebon, Jumat (23/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, pencopotan itu berkaitan dengan temuan dalam pengelolaan dapur MBG, khususnya soal pengadaan dan pengolahan bahan makanan. Kepala SPPG diketahui mengaku membeli telur puyuh dari pihak luar.
Padahal, kata Yulian, berdasarkan petunjuk teknis (juknis) yang berlaku, bahan makanan untuk program MBG seharusnya diproses dan diolah di dapur SPPG.
"Iya, itu sudah jadi satu poin temuan. Kepala SPPG mengaku membeli telur puyuh dari pihak di luar SPPG, yang seharusnya seluruh bahan makanan itu sesuai juknis diproses dan diolah di dapur," ujarnya.
Yulian menegaskan, pihaknya masih akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan sanksi terhadap yang bersangkutan. Jika terbukti melakukan kelalaian, sanksi akan diberikan sesuai ketentuan yang berlaku.
Di sisi lain, dapur MBG di Kelurahan Kalijaga tersebut juga terancam ditutup permanen. Saat ini, operasional SPPG telah dihentikan sementara hingga waktu yang belum ditentukan.
Menurut Yulian, investigasi terhadap dapur MBG tersebut sudah dilakukan. Pemeriksaan mencakup kondisi fisik dapur, manajemen, hingga pengelolaan SPPG.
"Untuk saat ini, SPPG sudah berhenti beroperasional sampai batas waktu yang belum kami tentukan, menunggu hasil investigasi dari Kedeputian Pemantauan dan Pengawasan," jelasnya.
Menurut Yulian, penutupan permanen menjadi salah satu sanksi terberat yang bisa dijatuhkan. Namun, keputusan tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dan hasil investigasi tim.
"Bisa sampai tutup permanen sebenarnya. Tapi itu masih menunggu hasil lab dan hasil investigasi kemarin," ungkapnya.
Meski temuan soal telur puyuh menjadi salah satu perhatian, Yulian mengatakan penyebab pasti dugaan keracunan yang menimpa ratusan penerima manfaat belum bisa dipastikan. Sejumlah sampel makanan lain, seperti nasi dan menu lainnya turut diperiksa. Sampel air juga telah diambil untuk memastikan tidak ada faktor lain yang terlewat.
"Memang masih dugaan, meskipun mungkin itu yang paling kuat, tapi kami masih menunggu hasil lab," katanya.
Diketahui, jumlah korban dugaan keracunan menu MBG di Kota Cirebon tercatat mencapai ratusan orang, termasuk di antaranya merupakan anak-anak sekolah.
Pada Kamis (22/10), Dinas Kesehatan Kota Cirebon mencatat jumlah korban dugaan keracunan MBG di daerahnya mencapai 395 orang. Jumlah itu bertambah 64 orang dibandingkan data sehari sebelumnya yang tercatat sebanyak 331 orang.
"(Jumlah korban) di angka 395, hari sebelumnya itu di 331. Jadi ada penambahan 64," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon Siti Maria.
Siti Maria menyebut korban dugaan keracunan ini mayoritas terdiri dari anak-anak sekolah tingkat TK hingga SD. Selain itu ada juga orang dewasa, lansia hingga balita.
"Anak-anak paling banyak. Usia TK paling tinggi, kedua SD. Selain itu, ada yang dewasa, ada balita, ada juga nenek-nenek," kata dia.
Siti Maria mengatakan menu sup telur puyuh menjadi salah satu makanan yang banyak dikeluhkan oleh para korban dugaan keracunan MBG di Kota Cirebon.
Ia menyebut, berdasarkan hasil wawancara langsung yang dilakukan petugas kepada para korban, banyak di antara mereka yang mengeluhkan rasa kuah sup yang asam.
"Kalau sejauh dari hasil anamnesa dan wawancara langsung, itu rata-rata mengeluhkan sup telur puyuh. Informasinya asam," kata Siti Maria.
Meski begitu, untuk memastikan penyebabnya, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang telah diambil.
