Warga Kabupaten Kuningan digegerkan dengan beredarnya video penemuan kerangka manusia di area perkebunan Desa Sukamukti. Video tersebut viral di media sosial dan memperlihatkan kondisi kerangka yang sudah tidak utuh lagi.
Di sekitar lokasi penemuan, ditemukan sejumlah barang yang diduga milik korban, mulai dari topi, celana, baju, hingga rokok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Telah ditemukan tengkorak manusia yang sudah berceceran di sampingnya masih ada celana, topi dan juga rokok. Rokoknya juga masih ada," tutur suara dalam video tersebut.
Kapolsek Jalaksana, AKP Imam Rubianto, membenarkan adanya penemuan kerangka manusia tersebut. Kerangka itu ditemukan di Blok Cimanceng, Desa Sukamukti, pada Minggu (20/9/2026) sekitar pukul 15.30 WIB oleh seorang petani bernama Kurned (45) yang sedang mencari burung.
"Lagi nyari burung di sekitar situ. Nah, begitu dapatnya kerangka manusia, karena dia kaget juga takut, laporlah ke desa. Nah, dari desa lapor ke Polsek dari Polsek berkoordinasi dengan Polres, langsung ke TKP. Lokasinya jauh dari pemukiman. Mungkin sekitar dua kilo lah dari pemukiman ke atas," tutur Imam, Senin (21/9/2026).
Imam menjelaskan, selain pakaian, tim di lapangan juga menemukan kartu identitas berinisial YS, warga Desa Sidamulya, Kuningan, yang diketahui telah lama merantau di Bekasi. Selain itu, ditemukan pula tali yang terikat pada dahan pohon di dekat kerangka. Diperkirakan, korban telah meninggal dunia sejak beberapa bulan lalu.
"Di lokasi ditemukan KTP atas nama korban, YS orang Desa Sidamulya. Tapi dia KTP-nya Bekasi. Selain itu, tim Inafis dan Polsek menemukan tali yang terikat di pohon.Ya diduga sih, diduga (bunuh diri). Tapi kan itu kan sudah tulang-belulang, diperkirakan korban telah meninggal dunia sekitar dua hingga tiga bulan yang lalu," tutur Imam.
Berdasarkan keterangan pihak keluarga, YS diketahui meninggalkan rumah sejak Mei lalu. Saat itu, korban berpamitan untuk menyelesaikan persoalan ekonomi dan keuangan rumah tangga. Sejak saat itu, korban tidak pernah kembali.
Pihak keluarga menyatakan telah menerima musibah ini dengan ikhlas. Mereka juga menolak untuk dilakukan autopsi terhadap jasad korban.
"Karena ada keluarganya juga menjelaskan memang sebelumnya dia ada masalah dengan ekonomi, masalah keuangan. Dari keluarganya juga menyatakan nggak mau diotopsi, dan bikin pernyataan tidak mau diotopsi. Dan mereka mengikhlaskan karena mungkin mereka sudah paham keadaannya keluarganya. Waktu pamit kan masalah ekonomi," pungkas Imam.
(orb/orb)
