PMI Asal Kuningan Ditemukan Meninggal di Gedung Konstruksi Laos

PMI Asal Kuningan Ditemukan Meninggal di Gedung Konstruksi Laos

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Kamis, 10 Sep 2026 11:22 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi mayat (Foto: Dok.Detikcom)
Kuningan -

Kabar duka menyelimuti keluarga Jamil (28), seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Desa Timbang, Kecamatan Cigandamekar, Kabupaten Kuningan. Jamil ditemukan meninggal di area gedung yang sedang dibangun di Zona Ekonomi Khusus Golden Triangle, Laos.

Bibi Jamil, Iyah Samsiah mengatakan kabar duka tersebut ia terima pada 31 Agustus 2026 lalu, namun, dalam laporan kematian disebutkan bahwa Jamil telah meninggal 11 Agustus 2026 di sebuah gedung yang sedang dibangun di kawasan Triangle, Laos. Saat ditemukan, jasad Jamil sudah dalam kondisi membusuk.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ditemukan tanggal 11 Agustus di gedung Konstruksi Triangle. Kondisi mayat sudah tidak bisa dikenali, tapi di sampingnya ada identitas ponakan saya. Yang ngabarin dari KBRI Laos, terus ke KBRI Indonesia, terus dari pihak kepolisian sampai ke pihak desa. Jamil anak ketiga, orang tuanya merantau di Jakarta. Ponakan saya itu saya yang mengurus dari kecil," tutur Iyah. Kamis (10/9/2026).

Jamil berangkat ke luar negeri berawal dari ajakan seorang tetangganya pada akhir tahun lalu. Meski saat itu Jamil sudah bekerja sebagai satpam di Jakarta, namun, karena tergiur tawaran gaji besar, Jamil akhirnya berangkat. Saat itu, pihak keluarga tidak mengetahui keberangkatan Jamil ke luar negeri bahkan tidak mengetahui secara spesifik jenis pekerjaan yang akan dijalani Jamil.

ADVERTISEMENT

Pihak keluarga baru mendapatkan informasi dari Jamil setelah dua bulan hilang kontak. Di mana pihak keluarga diberi tahu bahwa Jamil sedang berada di Singapura dan bekerja di bidang perusahaan ekspedisi.

"Kalau nggak salah berangkat dari Jakarta itu sekitar bulan November 2025. Ada yang ngajak, kebetulan warga di sini juga, tetangga saya juga. Diiming-imingi gaji besar gitu kan, ya mungkin tergiurlah keponakan saya. Mungkin syarat-syaratnya ditanggung sama perusahaan. Jadi tidak mengeluarkan ongkos. Hilang kontak nah, 2 bulan kemudian itu baru ada tetangga saya ngabarin ke saya bahwa ada di Singapura kerja di perusahaan ekspedisi," tutur Iyah.

Sebelum hilang kontak total, komunikasi antara Jamil dan keluarga sempat berpindah-pindah lokasi dari Singapura hingga akhirnya diketahui berada di Laos. Menurut Iyah, sebelum dikabarkan meninggal dunia, Jamil sempat merayakan ulang tahunnya pada pertengahan Juli bersama rekan-rekannya di Laos sebelum akhirnya hilang kontak sepenuhnya pada akhir Juli.

Bahkan, Jamil juga berencana untuk pulang ke Indonesia dan sudah menabung untuk membayar denda kontrak sebesar Rp50 juta. Iyah sendiri tidak mengetahui secara pasti apakah Jamil menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) atau bukan.

Namun, setelah hilang kontak satu bulan lebih, pihak keluarga malah mendapatkan kabar bahwa Jamil sudah meninggal. Kini, pihak keluarga berharap jenazah Jamil dapat segera dipulangkan ke Tanah Air untuk dimakamkan secara layak.

"Harapan saya anak saya kembali. Walaupun istilahnya dia tidak ada, sudah tidak utuh lagi apa bagaimana, pokoknya pengennya anak saya kembali. Mohon dibantunya kepada pihak-pihak yang terkait. Semoga anak saya bisa pulang walaupun istilahnya dalam keadaan apapun," tutur Iyah.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Kuningan Toto Toharuddin mengatakan pihaknya sudah mendapatkan laporan tersebut. Menurutnya, pagi ini Disnaker bersama tim Kementerian Migran Indonesia turun langsung ke lapangan.

"Infonya baru tadi sore. Kami langsung turun ke lapangan dan semalam udah komunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat Timbang. Pagi ini tim investigasi Disnaker mau turun ke lapangan. Dan sekaligus bertemu dengan tim dari kementrian PMI," kata.

(iqk/iqk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads