Kopi Java Buana Ciremai: Dari 'Kopi Melinjo' ke Pasar Dunia

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Selasa, 08 Sep 2026 17:16 WIB
Kopi buana Kuningan. (Foto: Fahmi Labibinajib)
Kuningan -

Industri kopi di kawasan Gunung Ciremai, Jawa Barat, terus mengalami transformasi, terutama dalam meningkatkan taraf hidup para petani lokal. Namun, perjalanan menuju keberhasilan ini tidak lepas dari bayang-bayang minimnya pemahaman petani terhadap pengolahan kopi serta akses pasar yang terbatas.

Siang itu, dalam acara Ciremai Coffee Culture Festival di Kuningan, Taufik Hernawan selaku Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Buana Ciremai tampak sedang sibuk berkomunikasi dengan para pelaku industri kopi yang lain. Menurutnya, momen seperti ini memang paling cocok untuk dijadikan sebagai ajang promosi sekaligus memperkenalkan Kopi Java Buana Ciremai Buana.

Kopi Java Buana Ciremai sendiri merupakan kopi kelompok tani sekaligus merek (brand) kolektif kopi yang mengelola dan memasarkan hasil panen kopi khususnya varietas Arabika dari lereng Gunung Ciremai. Keberadaan Kopi Buana Ciremai bermula dari keresahannya terhadap praktik pencatutan merek yang merugikan petani lokal. Menurutnya, kopi dari Gunung Ciremai kerap kehilangan identitas asalnya begitu masuk ke tangan pembeli besar dari luar daerah.

Padahal, eksistensi kopi di wilayah ini bukan barang baru. Taufik menyebut budi daya kopi di Kuningan-Majalengka merupakan warisan zaman Belanda sejak 1853. Selama 150 tahun lebih, varietas Arabika, Robusta, hingga Liberika tumbuh subur di tanah Pasundan ini.

"Kopi dari Gunung Ciremai ini banyak diambil orang luar kota. Brand-nya lepas. Kalau diambil kota A, namanya jadi kopi kota A. Asal geografis Kuningannya hilang. Kami mau melindungi ini, jangan sampai identitas aslinya hilang. Arabika, Robusta, Liberika. Ketiga kopi ini hasil sebenarnya warisan dari nenek moyang kita yang ditanam Belanda 1852," tutur Taufik saat ditemui pada Sabtu (5/9/2026).

Nama 'Java Buana Ciremai' sendiri merujuk pada dua lokasi utama, yakni Gunung Cakra Buana di Majalengka dan Gunung Ciremai yang melintasi dua kabupaten. Menurutnya, kopi Gunung Ciremai memiliki karakteristiknya tidak jauh dari kopi Jawa Barat lain yang cenderung fruity dengan aroma unik seperti melati, aren, hingga nanas yang keluar secara alami.

Saat ini, lebih dari 50 kelompok tani atau sekitar 500 orang terlibat dalam ekosistem Java Buana Ciremai. Fokus utama asosiasi sekarang adalah memperketat standar operasional prosedur (SOP) pascapanen. Tujuannya jelas: memastikan petani mendapat harga tinggi melalui kualitas yang konsisten, sekaligus memutus ketergantungan pada rantai tengkulak yang selama ini menggerus keuntungan mereka.

Kopi Ciremai Kuningan. Foto: Fahmi Labibinajib

Dari Kopi Melinjo hingga Jerat Tengkulak

Taufik memaparkan sebelum adanya Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Buana Ciremai, kondisi para petani kopi di Gunung Ciremai sangat memprihatinkan. Kala itu, meski memiliki lahan yang subur, namun karena ketidaktahuan budidaya kopi yang baik dan benar membuat banyak petani kopi Gunung Ciremai sering mengalami kerugian.

Bahkan, kopi Arabika yang kini paling digemari, dianggap sebagai kopi melinjo yang memiliki kualitas buruk dan rasa yang pahang karena tidak dibudidaya dengan baik. Saat itu, karena tidak tahu cara mengolah kopi, membuat para petani tidak pernah menikmati hasil panen mereka sendiri karena seluruh produk dijual mentah. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya para tengkulak yang membeli hasil kopi dari petani dengan harga murah.

"Tahun 2015 itu masyarakat, petani nggak tahu itu namanya kopi Arabika. Taunya kopi melinjo katanya. Karena ketika matang mirip melinjo, gede-gedenya tuh. Mereka punya Arabika tapi full 100% dijual, nggak pernah dicicipi. Petani kopi enggak tahu rasa kopi. Untuk tengkulak sekarang saja ini di angka Rp52.000 sekilo. Kalau yang berkualitas, itu di atas Rp180.000. Kan kasihan, jauh banget," tutur Taufik.

Kopi Ciremai Kuningan. Foto: Fahmi Labibinajib

Pendampingan Hulu ke Hilir dan Menembus Pasar Internasional

Melihat kondisi tersebut, pada tahun 2017, ia mulai mengumpulkan para petani lokal di kawasan Gunung Ciremai. Mereka mulai diberi pelatihan serta akses pasar yang lebih luas. Transformasi besar ini didukung oleh Bank Indonesia (BI) Cirebon yang memberikan pendampingan hulu ke hilir. Fokus utamanya bukan kucuran modal tunai, melainkan edukasi, bantuan mesin, hingga pembukaan akses pasar melalui business matching.

Dalam prosesnya, BI mendatangkan ahli dari pusat penelitian untuk menangani masalah hama. Dukungan sarana seperti mesin barista juga diberikan guna menunjang hilirisasi produk. Di sisi pemasaran, program business matching yang mempertemukan petani dengan calon pembeli menjadi kunci kenaikan transaksi.

Bahkan, fasilitas studi banding ke Gayo, Aceh, yang diberikan BI membuat para petani belajar langsung mengenai sistem industri dan pertanian kopi berkualitas untuk kemudian diterapkan di daerah asal.

"BI mereka kan punya program nih, mulai concern melihat potensi kopi. Mereka support sistem sama dengan visi-misi kita bahwa ingin meningkatkan kualitas dan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani. Ada program business matching antara pelaku kopi dengan buyer, calon buyer. Dipertemukan gitu," tutur Taufik.

Sejak masifnya edukasi dan pendampingan, produktivitas kopi di wilayah ini meroket tajam. Dari yang semula hanya menghasilkan 200 ton per tahun, kini total produksi menyentuh angka 1.700 ton dengan total kapitalisasi nilai mencapai miliaran rupiah. Kopi tersebut dipasarkan tak hanya di dalam negeri, tapi juga luar negeri seperti Thailand, Taiwan, Hong Kong, Inggris, Australia, hingga Amerika Serikat meski dalam jumlah yang masih terbatas, karena terkendala jumlah petani dan luas lahan.

"Kalau saya 100% malah, jadi dua kali lipat. Setelah ada pendampingan tuh brand kita naik, kualitas kita naik, pengetahuan kita naik. Yang waktu dulu belum ada pembinaan cuma 200 ton kan. Sekarang setiap tahun naik dari 700 ton, 1.300 hingga sekarang 1.700 ton. Meskipun permintaan internasional sangat besar, ekspor saat ini masih terbatas pada skala kiloan hingga hitungan ton, seperti pengiriman 3 ton ke Taiwan dan 2 ton ke Amerika Serikat," tutur Taufik.

Sementara itu, salah satu petani muda kopi asal Palutungan, Kuningan, Robi (34) dari Kenandra Kopi memaparkan bahwa pendampingan yang diberikan BI tidak hanya sebatas promosi, melainkan mencakup fasilitasi akses pasar hingga penyediaan bantuan alat pengolahan (processing) serta sarana pendukung pertanian.

Robi menjelaskan, sebagai petani yang pernah tertipu pembeli fiktif dan mengakibatkan kerugian hingga puluhan juta rupiah, program akses pasar dari BI jelas sangat penting baginya. Lewat akses pasar tersebut ia bisa bertemu dengan calon pembeli (buyer) dengan aman dan nyaman. Kondisi tersebut membuat jumlah produksi dan omzet yang dihasilkan juga menjadi semakin meningkat.

"Alhamdulillah fasilitas akses pasar dari BI ini sangat membantu. Soalnya dulu sekitar dua tahun lalu, pernah tertipu atau kerugiannya Rp 40 jutaan lebih. Jadi barangnya sudah nggak ada, dikirim, orangnya malah hilang. Dari awal-awal lahan hanya setengah hektar, sekarang hampir 15 sampai 20 hektar. Kalau sekarang hasil panen dari 5 hektar yang produktif bisa dapat 2 ton sekali panen. Kita dapat 2 ton kali itu hampir sudah hampir 60 sampai 70 juta sekali musim panen," tutur Robi.




(sud/sud)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork