Infografik: 4 Sumur Keramat Cirebon dan Kisah di Baliknya

Tim detikJabar - detikJabar
Minggu, 06 Sep 2026 10:00 WIB
Foto: Dibuat menggunakan Notebooklm.
Cirebon -

Cirebon memiliki kekayaan budaya dan sejarah yang lekat dengan kehidupan masyarakat. Kota yang berjuluk Kota Wali ini menyimpan sejumlah peninggalan leluhur yang hingga kini masih dikeramatkan. Salah satunya berupa sumur tua yang tersebar di kawasan keraton dan situs bersejarah.

Sejumlah sumur tersebut masih ramai didatangi peziarah yang meyakini airnya memiliki khasiat tertentu. Salah satunya Sumur Ketandan yang berada di bawah pohon beringin berusia ratusan tahun. Situs ini berkaitan dengan kisah Pangeran Cakrabuana dalam menyebarkan Islam di pesisir utara Jawa. Juru kunci Sumur Ketandan, Raden Syarifuddin, mengatakan pengelola mengambil air menggunakan ember tanpa pompa untuk menjaga kesakralan sumur. Dahulu, masyarakat memanfaatkan sumur tersebut untuk mencuci jala dan membuat terasi dari ikan rebon karena lokasinya berada dekat pantai.

Selain Sumur Ketandan, terdapat Sumur Kejayaan di kawasan Petilasan Dalem Agung Pakungwati, kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon. Juru kunci Mang Pardi (68) menyebut masyarakat dari Cirebon dan sejumlah daerah sekitar datang untuk berwudu, mandi, atau mengambil air. Meski kedalamannya hanya sekitar tiga meter, air sumur itu diyakini tidak pernah kering saat kemarau dan tidak meluber ketika musim hujan. Pengunjung juga datang dengan berbagai tujuan, termasuk berharap kelancaran usaha dan terkabulnya hajat.

Sumur Ketandan Cirebon yang konon bisa melunturkan sihir Foto: Sudirman Wamad/detikTravel

Cirebon juga memiliki Sumur Jala Tunda yang berada di samping Masjid Pejlagrahan, Kampung Grubugan, Kelurahan Kasepuhan. Sumur yang menurut pengelola menjadi peninggalan Pangeran Cakrabuana itu memiliki kedalaman sekitar enam meter dan terbagi untuk laki-laki serta perempuan. Ketua DKM Masjid Pejlagrahan, Sulaeman, menjelaskan masyarakat dahulu memanfaatkan sumur tersebut untuk memudahkan nelayan berwudu sebelum melaksanakan salat. Hingga kini, masyarakat dan peziarah dari luar daerah masih mengambil airnya.

Berbeda dengan tiga sumur lainnya, Sumur Upas atau Sumur Soka di Petilasan Keraton Dalem Agung Pakungwati kini tidak berfungsi dan tertutup. Kepala Bagian Informasi dan Pariwisata Keraton Kasepuhan, Iman Sugiman, menyebut masyarakat mengenal sumur tersebut sebagai tempat merendam senjata agar mengandung racun untuk menghadapi penjajah. Nama Sumur Upas sendiri berkaitan dengan kata "upas" yang berarti racun. Sumur itu juga berada di bawah pohon soka besar yang memiliki keunikan karena bunganya tumbuh pada dahan.

Keempat sumur tersebut memperlihatkan bagaimana peninggalan sejarah Cirebon masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat hingga sekarang. Sumur Ketandan, Sumur Kejayaan, Sumur Jala Tunda, dan Sumur Upas tidak hanya menyimpan cerita tentang masa lalu, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi ziarah dan budaya setempat. Bagi masyarakat dan peziarah, keberadaan sumur-sumur tua itu menjadi pengingat terhadap sejarah Cirebon serta warisan leluhur yang terus terjaga.




(sud/sud)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork