Malam sudah semakin larut ketika Rini Setyowati masih terdiam di sudut sebuah SPBU di Jalur Pantura Indramayu. Di sampingnya, sejumlah barang bawaan tergeletak. Tak ada teman seperjalanan, tak ada pula kendaraan yang bisa membawanya melanjutkan perjalanan.
Yang tersisa hanya rasa bingung dan cemas.
Minggu (30/8/2026) malam itu, Rini sebenarnya tengah berupaya pulang ke Yogyakarta setelah bepergian dari Jakarta. Namun perjalanan pulang yang semula ia bayangkan sederhana justru berubah menjadi situasi yang membuatnya tak tahu harus berbuat apa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perempuan asal Desa Jaraksari, Kecamatan/Kabupaten Wonosobo, tersebut memilih menggunakan taksi online untuk menempuh perjalanan dari Jakarta. Sayangnya, uang yang dibawanya ternyata tidak mencukupi hingga tujuan.
Perjalanan pun berhenti di tengah jalan. Rini diturunkan di SPBU Tulungagung, Kecamatan Kertasemaya, Indramayu. Di tempat itulah ia kemudian berada seorang diri, tanpa bekal uang untuk melanjutkan perjalanan.
Waktu terus bergerak menuju tengah malam. Dalam kondisi tersebut, Rini akhirnya mengambil keputusan yang mungkin sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Ia menghubungi layanan darurat kepolisian melalui nomor 110.
Panggilan itu menjadi awal dari pertolongan yang kemudian membawanya kembali mendekati tujuan.
Sekitar pukul 23.00 WIB, laporan tersebut diterima jajaran Polsek Sukagumiwang, Polres Indramayu. Petugas yang mengetahui kondisi Rini segera mendatangi lokasi.
Kapolsek Sukagumiwang AKP Suripto mengatakan, ketika ditemukan, Rini terlihat duduk seorang diri bersama barang bawaannya. Wajahnya menunjukkan kecemasan karena tidak memiliki uang lagi untuk meneruskan perjalanan.
Kepada petugas, Rini kemudian menceritakan apa yang dialaminya. Ia ingin pulang ke Yogyakarta dari Jakarta, tetapi perjalanan dengan taksi online terpaksa berakhir di Indramayu karena persoalan biaya.
"Kami juga tidak tahu latar belakangnya bagaimana, yang jelas dia diturunkan oleh taksi online itu di SPBU Tulungagung," ujar Suripto kepada detikJabar, Senin (31/8/2026).
Bagi petugas, persoalan malam itu bukan sekadar bagaimana mengamankan seorang warga yang membutuhkan pertolongan. Ada satu hal lain yang harus segera dipikirkan: bagaimana Rini bisa meneruskan perjalanan pulang dengan aman.
Polisi kemudian mencari pilihan transportasi yang memungkinkan. Koordinasi dilakukan dengan petugas Stasiun Jatibarang. Harapannya, masih ada kereta yang bisa membawa Rini menuju Yogyakarta pada malam tersebut. Upaya itu membuahkan hasil.
Ada KA Singasari yang dijadwalkan berangkat dari Stasiun Jatibarang pada pukul 00.20 WIB dengan tujuan Stasiun Lempuyangan.
Waktunya sempit. Petugas kemudian menggunakan mobil patroli untuk mengantar Rini dari SPBU menuju Stasiun Jatibarang. Bukan hanya mengantarkan, polisi juga membantu membelikan tiket kereta untuknya. Harga tiket tersebut mencapai Rp330.000.
Sesampainya di stasiun, petugas tidak langsung meninggalkan Rini. Mereka tetap mendampinginya di peron hingga perempuan tersebut benar-benar masuk ke dalam gerbong kereta.
Perjalanan Rini akhirnya kembali memiliki arah. Dari malam yang sempat dipenuhi kecemasan di sebuah SPBU di jalur Pantura, ia kembali melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta.
Belakangan, Rini menyampaikan rasa terima kasihnya kepada jajaran Polsek Sukagumiwang melalui sebuah rekaman video.
"Saya Rini asal dari Yogyakarta, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Polsek Sukagumiwang Polres Indramayu yang telah membantu saya untuk pulang," ucapnya dalam sebuah video Jabar pada Senin (31/8/2026).
Bagi Suripto, apa yang dilakukan anggotanya merupakan bagian dari tugas kepolisian dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat.
Menurut dia, kepolisian tidak hanya hadir ketika terjadi tindak pidana. Masyarakat yang berada dalam kondisi membutuhkan pertolongan juga dapat meminta bantuan.
Karena itu, layanan darurat 110 dapat dimanfaatkan masyarakat ketika membutuhkan kehadiran polisi dalam situasi yang mendesak.
"Jangan ragu meminta bantuan ke kepolisian. Setiap laporan masyarakat akan kami tindak lanjuti sesuai kebutuhan dan kondisi di lapangan," kata Suripto.
Malam itu, bagi Rini, nomor 110 bukan sekadar deretan angka di layar telepon. Panggilan tersebut menjadi jalan keluar ketika perjalanan pulang terhenti dan ia tak lagi tahu harus mencari pertolongan ke mana.
(yum/yum)
