Beredar sebuah video di media sosial saat seorang pengantin pria diarak menggunakan kendaraan pengangkut barang atau forklift. Terlihat forklift yang sudah dihias dengan aneka bunga dan payung pengantin tersebut mengangkut pria berjas dan berkacamata hitam.
Di sekitarnya tampak ratusan orang ikut mengiringi arak-arakan pengantin yang tidak biasa tersebut. Di depan iring-iringan terlihat banner bertuliskan Mas Beo Ganteng (MBG) "Sang Pangeran Telah Menemukan Cintanya".
Setelah ditelusuri, peristiwa tersebut ternyata terjadi di Desa Purwasari, Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan pada Jumat (28/8/2026). Adapun orang yang sedang diarak menggunakan forklift tersebut bernama Maman Rohiman (44) yang menikah dengan Novita Eka Sari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maman atau yang akrab disapa Mas Beo Ganteng (MBG) memaparkan bahwa peristiwa tersebut memang terjadi di pernikahannya. Kala itu, ia tidak menyangka teman-temannya menyiapkan alat pengangkut barang sebagai kendaraan arak-arakan yang mengantarkannya menuju pelaminan.
Menurutnya, tradisi mengarak pengantin pria memang sudah menjadi bagian dari adat istiadat warga setempat. Namun biasanya, sarana yang digunakan adalah gerobak atau kuda hias, bukan alat berat industri seperti yang ia alami.
"Jadi kalau ide kreatif itu kan saya enggak tahu ya. Karena itu ide dari teman-teman yang ada di wilayah saya. Saya tidak tahu-menahu kalau mau ada hal-hal seperti itu. Biasanya kan itu adat istiadat di daerah sini kalau ada pemuda yang menikah pakai arak-arakan seperti itu. Tapi beda-beda, ada yang pakai gerobak. Nah ini pakai forklift yang suka naik-turun barang tuh. Kebetulan di sini kan ada perusahaan mebel dan kayu di daerah saya. Mungkin teman-teman pada berembuk, minta bantuan atau apa, tiba-tiba kayak gitu," tutur Maman, Senin (31/8/2026).
Maman memaparkan perasaan campur aduk menghinggapi batinnya saat bertengger di atas forklift hias yang berjalan pelan membelah gang-gang desa sepanjang hampir satu kilometer tersebut. Rasa malu, tegang, dan haru menyatu menjadi satu pengalaman yang tak bakal dilupakan seumur hidupnya.
"Gimana ya campur aduk. Kayak malu ada, tegang ada, jadi segala macam lah campur aduk. Terharu juga ada. Terharunya itu banyak orang yang merespons ke pernikahan saya gitu. Malunya ya gitu, banyak orang-orang yang ngeliatin saya. Satu desa ngeliatin saya semua, jadi gimana gitu. Itu kan perjalanan sebelum akad dari rumah saya menuju mempelai wanita, jaraknya sekitar 700 meteran lah," tutur Maman.
Maman memaparkan, di balik kemeriahan arak-arakan tersebut, ada alasan emosional mengapa warga desa begitu antusias dan terharu merayakan pernikahannya. Setelah melewati perjalanan hidup dan asmara yang penuh liku serta kegagalan, kini di usianya yang menginjak 44 tahun, ia akhirnya bisa menikah untuk pertama kali.
"Perasaannya sih kayak mimpi gitu, nggak nyangka. Saya juga nggak nyangka bisa sampai ke jodohnya saya seperti ini. Ya intinya saya bersyukur lah bisa menemukan jodoh. Karena dulu-dulu saya juga pernah berhubungan tapi selalu tidak disetujui oleh orang tua (pihak wanita). Mungkin karena dari saya orang biasa atau orang yang kurang berkecukupan, penilaian orang tua kan beda-beda seperti itu," tutur Maman.
Maman sendiri merupakan figur yang sangat familiar di desanya. Mantan Ketua Pemuda Desa Purwasari ini kini dipercaya memegang amanah mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Setelah menjalin hubungan sekitar 1,5 tahun dengan Novita Eka Sari yang juga tetangga satu desanya, ia akhirnya mantap melangkah ke jenjang pernikahan. Ke depan, ia berharap pernikahannya senantiasa dilimpahi kebahagiaan serta keberkahan.
"Nah, masalahnya kenapa banyak orang yang nganterin, intinya banyak orang yang iba sama saya karena mereka itu tahu perjalanan saya memperjuangkan untuk ingin menikah itu seperti apa. Makanya kemarin pas acara nikah itu banyak yang menangis, ibu-ibu ke saya, sampai mengucapkan selamat," pungkas Maman.
Simak Video "Keindahan Alam dari Puncak Gunung Tilu, Kuningan"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
