Di luar sana, Merah Putih sedang berkibar. Di momen peringatan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, jalan-jalan dihiasi umbul-umbul, bendera dipasang di depan rumah, dan berbagai perlombaan disiapkan untuk menyambut hari bersejarah bangsa ini.
Namun, di sebuah rumah sederhana di Desa Karanganyar, Kecamatan Pasekan, Kabupaten Indramayu, ada seorang lelaki yang mungkin belum pernah merasakan arti kemerdekaan dalam bentuk yang paling sederhana: berjalan dengan kaki sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namanya Kasirin. Usianya kini 38 tahun. Selama belasan tahun, kaki Kasirin diikat dengan tali. Ia tinggal di bagian belakang rumah, di sebuah ruangan sederhana yang menjadi area tidur sekaligus tempat buang air.
Ketika pertama kali didatangi, Kasirin bahkan sedang dalam keadaan tanpa busana. Ibunya kemudian memakaikan celana kepadanya.
Ruangan itu tidak luas. Sebagian lantainya telah dikeramik. Di salah satu sudut terdapat area yang digunakan sebagai toilet. Bau menyengat terasa di dalam ruangan, bercampur dengan suasana pengap yang menjadi keseharian Kasirin.
Di sanalah sebagian besar hidupnya berlangsung. Kakinya terikat. Bukan sehari, bukan sebulan. Belasan tahun.
Kasirin disebut sebagai Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Namun, dari pertemuan singkat itu, ia tidak tampak sebagai sosok yang agresif. Ia justru terlihat patuh kepada ibunya.
Ikatan pada kakinya, menurut penuturan sang ibu, dilakukan karena kekhawatiran Kasirin akan pergi ke mana-mana jika tidak diawasi.
Apa arti merdeka bagi seseorang yang bahkan tidak bisa melangkahkan kakinya keluar rumah?
Di rumah itu, ada seorang perempuan berusia sekitar 80 tahun yang masih setia merawatnya. Namanya Suliha.
"Sudah semakin parah sakitnya sejak selesai sekolah, sekitar umur 20 tahun. Saya sudah tua, kalau dia pergi-pergi saya susah nyarinya. Makanya saya ikat saja kakinya," ujar Suliha kepada detikJabar, di kediamannya, Senin (17/8/2026).
Selama belasan tahun, ia menjadi orang yang paling dekat dengan Kasirin. Setiap pagi, setelah bangun, ia mengerjakan pekerjaan rumah. Setelah itu, ia menyiapkan sarapan untuk putra bungsunya.
Makanan yang disantap sehari-hari pun tidak selalu berasal dari dapur sendiri. Suliha biasanya mendapat makanan dari para tetangga.
"Alhamdulillah tetangga-tetangga peduli semua, sering ngasih makanan, ngasih apa saja, banyak," ungkap Suliha.
Ada kehidupan yang berjalan sangat sederhana di rumah tersebut. Namun, kesederhanaan itu menyimpan beban yang tidak ringan.
Suami Suliha telah meninggal sekitar 12 tahun lalu, ketika Kasirin masih duduk di bangku SMP. Kasirin merupakan anak bungsu dari 11 bersaudara.
Kini, usianya telah 38 tahun. Sementara itu, perempuan yang selama belasan tahun menjadi tangan, kaki, sekaligus penjaganya telah berusia 80 tahun.
"Awalnya sering ngamuk kalau minta makan," kata Suliha.
(orb/orb)
