HUT RI di TPSA Ciniru: Upacara di Antara Puing dan Bara

HUT RI di TPSA Ciniru: Upacara di Antara Puing dan Bara

Fahmi Labibnajib - detikJabar
Senin, 17 Agu 2026 13:49 WIB
Suasana petugas gabungan upacara di TPSA Ciniru Kuningan yang terbakar
(Foto: Istimewa/detikJabar).
Kuningan -

Suasana berbeda mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Kabupaten Kuningan. Petugas gabungan penanggulangan bencana yang terdiri dari Pemadam Kebakaran, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Dinas Lingkungan Hidup setempat menggelar upacara bendera di tengah kepulan asap dan puing-puing sampah yang terbakar di Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPSA) Ciniru.

Sambil mengenakan masker pelindung, puluhan petugas melaksanakan upacara peringatan dengan khidmat. Mereka menghadap ke bendera Merah Putih yang terpasang pada tiang bambu sederhana yang ditancapkan di area TPSA tersebut.

Kepala UPT Damkar Kuningan, Andri Arga Kusuma, memaparkan bahwa pihaknya sengaja melaksanakan upacara di TPSA Ciniru sebagai bentuk peringatan sekaligus simbol kesiapsiagaan dalam menanggulangi bencana kebakaran di lokasi tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Maknanya kita kan sedang masih dalam rangka penanganan, penanggulangan kebakaran di TPSA Ciniru ini. Statusnya kan masih darurat bencana, jadi kita tidak bisa meninggalkan atau mengabaikan tugas kita di TPSA ini selama apinya masih ada dan belum betul-betul dingin," tutur Arga, Senin (17/8/2026).

Arga menegaskan bahwa momen kemerdekaan bukan menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban. Sebaliknya, hal ini harus dijadikan dorongan semangat dan refleksi bagi para personel di lapangan yang masih berjibaku memadamkan api.

ADVERTISEMENT

"Bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 tahun 2026, ya kita sekalian menggelar upacara benderanya di sini. Sambil gelar pasukan, persiapan, sambil memaknai Hari Kemerdekaan bahwa kita juga sama-sama berjuang. Kalau dulu berjuang untuk kemerdekaan, kami berjuang untuk masyarakat Kabupaten Kuningan supaya pengelolaan sampahnya bisa beroperasi kembali," tutur Arga.

Arga menjelaskan bahwa memasuki hari keenam, kebakaran di TPSA Ciniru belum kunjung padam. Menurutnya, masih banyak titik api yang sulit ditaklukkan akibat embusan angin kencang dan material sampah yang sangat mudah terbakar.

"Ya hampir sepekan. Ini masuk hari ke-6. Ada tinggal satu titik di sebelah utara yang sama sekali belum kita sentuh. Jadi kita sekarang fokus yang besarnya dulu. Sisanya di beberapa wilayah yang sudah kita padamkan juga ada timbul lagi api, gitu, titik panas. Tapi mungkin ee tidak berisiko, tapi nanti setelah yang hamparan besarnya sudah kita tangani, baru kita nanti pilih-pilih lagi mana titik-titik yang masih ada mengeluarkan titik panas. Hampir semua memang sudah terbakar," tutur Arga.

Sejumlah kendala teknis dihadapi petugas, terutama sulitnya akses terhadap sumber air. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya penarikan armada pengangkut air. Menurut Arga, dari sembilan armada suplai air yang beroperasi pada hari-hari pertama, kini jumlahnya menurun drastis.

"Kendalanya mungkin yang utama itu suplai air Karena di sini sumber airnya jauh. Jadi ngambil juga jauh, terus kendaraannya juga sekarang sudah mulai berkurang. Kalau kita enggak ada air, ya mau memadamkan pakai apa. Hari pertama sampai sembilan truk supply water ke kita, nggak ada berhenti. Yang ngisi datang lagi, silih berganti. Mesin itu nyala terus. Kalau sekarang ya kita tunggu dulu, nggak bisa continue. Banyak waktu terbuang. Untuk pengisian paling cepat setengah jam, kadang lebih. Sekarang truk air tersia tiga, sisanya sudah pada ditarik," tutur Arga.

Selain kendala teknis, Arga memaparkan bahwa api yang tak kunjung padam selama berhari-hari membuat petugas mengalami kelelahan fisik dan mental akibat paparan asap tebal serta jam kerja yang tidak menentu. Hingga kini, pihaknya belum bisa memastikan kapan kebakaran di TPSA Ciniru tersebut berhasil dipadamkan sepenuhnya.

"Ketika penanganan langsung, kebanyakan anggota itu kelelahan karena dehidrasi dan pengap karena asap. Tapi di sini disediakan juga petugas dari Dinkes dan Puskesmas untuk oksigen. Bahkan kalau asapnya sangat tebal seperti beberapa hari ke belakang, belum selesai juga sudah pada berlarian saling berganti. Kita sudah tidak mengabaikan lagi jam kerja, gimana situasi. Tiga hari awal itu dari pagi sampai jam 2 malam. Hari kedua sampai jam 10 malam, balik lagi jam 2 pagi. Jam 6 pagi selesai, lanjut lagi jam 9 pagi. Belum bisa diprediksi karena suplai airnya kita terkendala itu," pungkas Arga.

TPSA Ciniru Kuningan sendiri pertama kali terbakar pada Rabu (12/8/2026). Kala itu, api mulai muncul di area tengah TPA sejak pukul 05.00 WIB. Embusan angin kencang serta tumpukan sampah yang mudah terbakar membuat api cepat meluas dan memicu kepulan asap pekat. Hingga saat ini, penyebab pasti kebakaran tersebut masih dalam penyelidikan.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Kenalan sama Desainer Logo HUT ke-81 RI"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads