Ada yang berbeda dari sajian minuman kopi khas Bantaragung, Majalengka. Kopi yang dikenal dengan sebutan Kopi Hawu ini dibuat dengan cara tradisional, mulai dari biji kopi yang ditumbuk hingga air untuk menyeduhnya direbus menggunakan tungku kayu bakar.
Prosesnya cukup sederhana. Biji kopi ditumbuk menggunakan lumpang dan alu sampai lembut. Setelahnya, bubuk kopi diseduh dengan air panas yang direbus di atas hawu.
Api dari hawu membuat air panas tanpa bantuan kompor. Cara inilah yang kemudian membuat kopi tersebut dikenal sebagai Kopi Hawu.
"Karena memang proses pembuatannya pakai hawu. Ini khas Bantaragung. Untuk kopinya, kita pakai 50 persen robusta sama 50 persen arabika agar rasanya lebih balance," kata Rega Syarif Pradana, penjual Kopi Hawu saat ditemui di Kota Cirebon, Jumat (15/8/2026) malam.
Kopi itu diracik dan disajikan sebagai kopi tubruk. Rasanya bisa ditambah dengan gula cakar khas Majalengka yang berbentuk kotak dan berwarna merah muda.
Menurut Rega, gula cakar memang biasa disajikan bersama kopi di Bantaragung. Kopi Hawu juga bukan sekadar minuman, karena cara membuat dan menyajikannya sudah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat setempat.
Rega mengatakan proses menumbuk kopi seperti itu sudah dilakukan sejak zaman dulu. Kopi tubruk dan gula cakar juga biasa disajikan saat ada kegiatan tertentu di tengah masyarakat.
"Ini disajikanya dengan gula cakar khas Majalengka. Jadi ini tuh kayak semacam kegiatan ngopi orang tua kita zaman dulu. Udah jadi tradisi. Kalau mau ada acara ritual, terus kayak ada hajatan, kopi tubruk sama gula cakar ini emang harus ada," ujarnya.
Kopi Hawu dari Bantaragung ini dibawa ke Kota Cirebon dalam gelaran TRIKARSA FEST 2026 di halaman parkir Grage Mall. Di stan tersebut, pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatannya, bahkan mencoba menumbuk biji kopi.
"Pengunjung yang datang ke sini bisa ngerasain pengalamannya. Mungkin ada yang pengen coba tumbuk," kata Rega.
Di lokasi acara, ada pedagang lain yang menjual beragam makanan. Pengunjung pun bisa mencicipi aneka kuliner yang tersedia di area festival. Seperti empal gentong khas Cirebon dan masih banyak lagi.
37 Kegiatan dan 103 UMKM
Kopi Hawu menjadi salah satu produk yang hadir dalam TRIKARSA FEST 2026. Acara ini digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cirebon bersama pemerintah daerah dan sejumlah pihak lainnya.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis mengatakan TRIKARSA FEST berlangsung pada 14-17 Agustus 2026. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya soal festival, tetapi juga diharapkan memberi dampak bagi pelaku usaha di Ciayumajakuning.
"Kami ingin keberhasilan TRIKARSA FEST tidak hanya diukur dari ramainya kegiatan selama empat hari. Yang lebih penting adalah outcome setelah festival berakhir, semakin banyak UMKM memperoleh pasar baru, usaha mendapatkan pembiayaan, produk lokal masuk ke rantai pasok dan pasar ekspor, muncul tenaga kerja terampil baru, serta masyarakat semakin nyaman memanfaatkan transaksi digital," kata dia.
"Pada akhirnya, seluruh rangkaian ini diharapkan ikut memberikan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi Ciayumajakuning," ujar Wihujeng.
Selama empat hari, kata dia, TRIKARSA FEST menghadirkan 37 kegiatan dengan estimasi 20 ribu pengunjung, partisipan, dan peserta. Kegiatannya mulai dari pameran UMKM, business matching, talkshow, kompetisi, kelas kreatif, edukasi Rupiah dan QRIS, olahraga, pertunjukan seni budaya, hingga aktivitas komunitas.
Ia menambahkan, ada 103 tenant UMKM yang ikut meramaikan acara tersebut. Produk yang ditawarkan beragam, mulai dari wastra, aksesoris, makanan, minuman, kriya, kopi dan lain-lain.
"Kehadiran UMKM dalam TRIKARSA FEST tidak berhenti pada kegiatan pameran. Pelaku usaha dipertemukan secara langsung dengan pasar, calon pembeli, lembaga pembiayaan, dan rantai nilai yang lebih luas," kata dia.
(yum/yum)