Semarak HUT RI, Desa Cieurih Majalengka Bentangkan Bendera 900 Meter

Semarak HUT RI, Desa Cieurih Majalengka Bentangkan Bendera 900 Meter

Erick Disy Darmawan - detikJabar
Senin, 10 Agu 2026 16:43 WIB
Bendera panjang di Desa Cieurih, Majalengka.
Bendera panjang di Desa Cieurih, Majalengka (Foto: Erick Disy Darmawan/detikJabar).
Majalengka -

Semarak menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia mulai terasa di berbagai penjuru Kabupaten Majalengka. Ornamen serba merah putih mulai menghiasi jalan perkotaan hingga pelosok desa.

Salah satunya terlihat di Desa Cieurih, Kecamatan Maja, Majalengka. Di salah satu ruas jalan desa, bendera merah putih membentang panjang hingga hampir 1 kilometer.

Pemandangan tersebut membuat suasana Desa Cieurih terasa berbeda menjelang HUT ke-81 RI. Pemasangan bendera itu bukan sekadar mempercantik lingkungan. Ada cerita tentang gotong royong warga yang ikut menghidupkan suasana kemerdekaan di desa tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Desa Cieurih Acep Beny Bunyanudin mengatakan, ide tersebut muncul setelah pemerintah desa mengevaluasi tradisi pemasangan ornamen kemerdekaan pada tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, pemerintah desa memasang lampu yang digantung pada bambu di sepanjang jalan.

Namun, penggunaan lampu menimbulkan persoalan tersendiri. Setelah rangkaian Agustusan berakhir, lampu-lampu yang dipasang di sepanjang jalan justru kerap menjadi rebutan warga untuk diambil. Kondisi itu membuat pemerintah desa harus kembali membeli lampu baru setiap tahun.

ADVERTISEMENT

"Awalnya kan tiap tahun di sini itu bukan pakai bendera, tapi di bambu itu pakainya lampu. Itu kan kita lampu nyoloknya dari rumah masyarakat. Nah, jadi ketika pas selesai bulan Agustus itu, masyarakat ngeduluin daripada panitia pelaksana. Jadi rebutan gitu. Makanya tiap tahun harus beli lagi, beli lagi," kata Acep kepada detikJabar, Senin (10/8/2026).

Dari situlah muncul gagasan untuk mengganti lampu dengan bendera merah putih. Tahun ini, Pemerintah Desa Cieurih kemudian memfasilitasi kebutuhan pemasangan tersebut, mulai dari bendera, bambu, hingga berbagai peralatan lainnya.

"Makanya untuk tahun sekarang, saya penasaran juga dengan bendera gitu ya. Ya akhirnya untuk tahun ini mah kami dari Pemerintah Desa memfasilitasi untuk bendera merah putih, bambu, dan peralatan lainnya," ujarnya.

Pemasangan bendera tidak dikerjakan pemerintah desa seorang diri. Warga turut turun tangan dalam proses pengerjaannya.

Acep menyebut, seluruh bahan dan peralatan disiapkan pemerintah desa. Sementara proses pemasangannya dilakukan secara gotong royong bersama masyarakat.

Antusiasme warga bahkan terlihat dari hal-hal sederhana selama proses pengerjaan. Ketika kaum pria sibuk memasang dan membelah bambu, sejumlah ibu ikut membantu dengan menyiapkan makanan bagi warga yang bekerja.

"Kalau untuk pemasangan swadaya, kalau untuk alat bahan-bahan semua difasilitasi oleh desa. Kalau untuk bahan swadaya dengan masyarakat, bahkan ya antusias masyarakatnya pun luar biasa," ucap Acep.

"Ketika kami para bapak-bapak sedang memasang atau membelah bambu itu, ada sebagian dari masyarakat ibu-ibu yang sengaja masak untuk makan yang kerja. Alhamdulillah antusiasnya sangat luar biasa," sambungnya.

Pengerjaan pemasangan bendera dimulai pada 4 Agustus. Meski dilakukan secara mendadak, warga berhasil menyelesaikannya dalam waktu sekitar lima hari.

"Untuk pengerjaan kita mulai tanggal 4. Karena ini dadakan, tanggal 4 kita mulai. Sekitar baru selesai itu kemarin. Selesai kemarin tanggal 9," jelasnya.

Sementara itu, untuk bentangan bendera merah putih tersebut melewati tiga blok dan mencakup empat RT serta dua RW. "Kalau RT berarti kita melintasi 4 RT, 2 RW. Kalau untuk blok, kita tiga blok. Ada Blok Senin, Blok Jumat, dan sebagian ada Blok Minggu. Tapi sebenarnya sih ini bloknya Blok Cieurih," ungkapnya.

Panjangnya pun tidak main-main. Bendera yang terpasang membentang sekitar 900 meter atau hampir mencapai 1 kilometer.

"Kalau ini kisaran kurang lebih 900 meteran lah, 1 kilo kurang lah," kata Acep.

Acep mengatakan, pemasangan bendera tahun ini memang baru dilakukan di satu bagian wilayah desa. Selain karena idenya muncul secara spontan, waktu persiapan yang tersedia juga terbatas.

"Pertama memang idenya itu datangnya itu dadakan, terus waktu juga tidak memungkinkan untuk dilanjutkan," ujarnya.

Meski begitu, ia berniat konsep tersebut bisa dikembangkan pada perayaan kemerdekaan tahun depan.

"Mudah-mudahan tahun depannya gebrakannya semua satu desa kita lingkarin dengan bendera merah putih," kata Acep.

Bagi Acep, yang paling penting dari pemasangan bendera tersebut bukan sekadar panjangnya bentangan merah putih yang menghiasi jalan desa. Ada semangat kebersamaan yang justru menjadi bagian utama dari perayaan kemerdekaan.

Ia melihat pemasangan bendera menjadi ruang bagi warga untuk kembali berkumpul, saling membantu, dan mempererat hubungan antarwarga.

"Makna yang didapat untuk tahun ini, antusiasme dari masyarakat, gotong royong, peduli terhadap hari kemerdekaan. Istilahnya antusiasnya ini luar biasa gitu," ujarnya.

"Peduli terhadap kemerdekaan, gotong royongnya luar biasa, saling membantu sesama tetangga, silaturahminya juga ada," sambungnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Top 5: Pernikahan Taylor Swift hingga Investigasi Kematian dr Icha"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads