Perjuangan Sukimah: Buruh Cuci, Jual Roti, hingga Mengejar Sarjana

Serba-serbi Warga

Perjuangan Sukimah: Buruh Cuci, Jual Roti, hingga Mengejar Sarjana

Burhannudin - detikJabar
Rabu, 29 Jul 2026 06:00 WIB
Sukimah sedang melakukan pekerjaan rumah.
Sukimah sedang melakukan pekerjaan rumah. (Foto: Burhannudin)
Indramayu -

Sepeda tua itu terus dikayuh menyusuri jalan-jalan di Desa Sukaurip, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu. Di keranjang sepedanya tersusun roti dan aneka kue yang dijajakan dari satu rumah ke rumah lainnya.

Tak banyak yang tahu, perempuan yang mengayuh sepeda itu bukan hanya sedang mencari nafkah. Ia juga sedang memperjuangkan masa depan dua anaknya sekaligus mengejar mimpinya menjadi seorang sarjana.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namanya Sukimah. Sejak tahun 2016, hidupnya berubah drastis. Rumah tangga yang dibangun bersama suaminya berakhir. Sejak itu ia harus memikul sendiri tanggung jawab membesarkan kedua putranya.

Tak ada waktu untuk larut dalam kesedihan. Sukimah sadar, kedua anaknya membutuhkan kehidupan yang terus berjalan. Apa pun pekerjaan yang bisa dilakukan, ia jalani.

ADVERTISEMENT

Pagi hingga sore ia menjadi buruh cuci dan buruh setrika di rumah-rumah tetangganya. Di sela-sela kesibukan, ia berjualan di kantin sekolah yang tak jauh dari rumah. Ketika masih ada tenaga dan waktu, ia kembali mengayuh sepeda menjual roti dan berbagai kue ke pelosok kampung.

Semua dilakukan demi memastikan dapur tetap mengepul dan kedua anaknya tetap bisa melanjutkan pendidikan.

Rumah yang ditempatinya pun jauh dari kata layak. Bangunannya sempit dan pernah berada dalam kondisi memprihatinkan. Namun, bagi Sukimah, rumah itu bukan alasan untuk berhenti berjuang. Justru dari tempat sederhana itulah ia menata kembali hidupnya.

Perjalanan hidup Sukimah sesungguhnya telah ditempa sejak muda. Lahir pada 30 Agustus 1977, selepas lulus SMA ia pernah menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW). Penghasilannya saat itu digunakan untuk membantu kedua orang tua serta membiayai kedua adik perempuannya.

Pengalaman hidup yang keras membuatnya terbiasa menghadapi kesulitan. Ketika badai kembali datang dalam bentuk perceraian, ia memilih berdiri, bukan mengeluh.

Yang menarik, kesibukan mencari nafkah ternyata tidak membuat Sukimah berhenti belajar. Di tengah rutinitas yang padat, ia tetap melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Agama Islam Sayid Sabiq, Jurusan Pendidikan Agama Islam.

Baginya, gelar sarjana bukan sekadar simbol keberhasilan.

"Saya ingin menjadi sarjana. Meskipun nantinya tidak menjadi pegawai, saya berharap ilmu yang saya miliki bisa bermanfaat bagi banyak orang, terutama di tengah masyarakat," ujarnya saat ditemui pada Senin (27/7/2026).

Menurut warga yang mengenalnya, Sukimah merupakan sosok yang memiliki semangat juang luar biasa. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia tetap mampu mengurus keluarga, kuliah, aktif di masyarakat, sekaligus menjadi inspirasi bagi perempuan lain yang mengalami nasib serupa.

Perjuangan panjang itu akhirnya mengundang perhatian banyak pihak. BAZNAS Kabupaten Indramayu memberikan bantuan renovasi rumah, sehingga tempat tinggal Sukimah menjadi lebih layak dan nyaman untuk dihuni bersama kedua anaknya.

Perubahan itu menjadi titik terang setelah bertahun-tahun ia hidup dalam keterbatasan.

Bahkan, ketika masih berjualan menggunakan sepeda tuanya, seorang dermawan tergerak memberikan sebuah sepeda listrik untuk membantunya bekerja. Bantuan tersebut bukan hanya meringankan pekerjaannya, tetapi juga menjadi simbol bahwa ketulusan dan kerja keras sering kali menemukan jalannya sendiri.

Meski demikian, bagi Sukimah, bantuan bukanlah tujuan utama. Yang paling penting adalah menjaga semangat untuk terus mengayuh sepeda, dan bertahan hidup dari hari ke hari.

"Syukuri, nikmati, dan jangan pernah ada kata menyerah," katanya. Kalimat itulah yang menyemangati dirinya sendiri.

Kalimat sederhana itu menjadi pegangan hidupnya. Ketika ditanya apa pesan untuk perempuan yang harus membesarkan anak-anaknya seorang diri, jawabannya tetap sama.

"Tetap semangat menjalani hidup. Nikmati, syukuri, dan pokoknya jangan pernah ada kata menyerah," ucapnya.

Di tengah derasnya cerita tentang kesulitan hidup, kisah Sukimah mengingatkan bahwa harapan tidak selalu lahir dari keadaan yang mudah. Kadang, harapan justru tumbuh dari rumah yang sederhana, dari tangan yang tak pernah berhenti bekerja, dari kaki yang tak pernah berhenti mengayuh sepeda, dan dari hati yang tetap tegar setiap kali kehidupan mengujinya.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads