Asa Casmita di Balik Dinding Rapuh Desa Kenanga Indramayu

Asa Casmita di Balik Dinding Rapuh Desa Kenanga Indramayu

Burhannudin - detikJabar
Senin, 20 Jul 2026 06:30 WIB
Irwan sedang membantu Casmita bangun dari tempat tidurnya.
Irwan sedang membantu Casmita bangun dari tempat tidurnya. (Foto: Burhannudin/detikJabar)
Indramayu -

Di sebuah sudut Blok Dukuh Kerupuk, Desa Kenanga, Indramayu, waktu seolah berjalan merayap. Di dalam sebuah rumah sederhana yang atapnya mulai menyerah pada cuaca, Casmita (78) menghabiskan hari-harinya. Sudah empat tahun lamanya, dunia lelaki tua ini menyempit hanya sebatas kasur tempatnya berbaring.

Setiap kali fajar menyingsing dan cahaya matahari menyelinap di antara retakan dinding, Casmita akan berusaha bangkit untuk duduk. Sebuah galon air di samping tempat tidur menjadi tumpuannya untuk sekadar membasuh muka, sebuah ritual kecil yang menandai dimulainya hari yang panjang dan sunyi.

Hidupnya berubah total dalam sekejap mata, empat tahun silam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Semuanya bermula dari insiden jatuh yang tampak sepele di depan pintu rumah. Namun, kaki kirinya justru membengkak hebat. Alih-alih ke rumah sakit, Casmita sempat dibawa ke pengobatan tradisional. Kakinya dipijat dan ditarik berulang kali dengan harapan bisa kembali normal, namun yang terjadi justru sebaliknya. Rasa sakitnya kian mengunci langkahnya hingga ia tak lagi mampu berjalan.

ADVERTISEMENT

"Kalau berdiri sakit sekali. Sudah empat tahun begini," tuturnya lirih kepada detikJabar belum lama ini.

Bagi Casmita, rasa nyeri di kakinya mungkin masih bisa ditoleransi. Namun, kehilangan kemandirian adalah luka yang jauh lebih dalam. Di masa mudanya, ia adalah sosok petarung hidup. Casmita pernah melanglang buana hingga ke Aceh dan Medan sebagai penebang kayu. Ia juga pernah bergelut di tambak, hingga mahir membuat roti dan tahu demi menyambung hidup.

Kini, tangan yang dulu kekar memegang gergaji itu hanya bisa menengadah menerima kiriman makanan dari kerabat.

"Saya bersyukur masih dikasih makan. Tapi saya ingin sehat lagi supaya bisa kerja. Rasanya tidak enak terus-terusan menerima bantuan," katanya.

Kalimat itu meluncur tanpa nada mengeluh. Ada getar kerinduan yang kuat di sana, kerinduan seorang lelaki yang ingin kembali memegang kendali atas hidupnya sendiri.

Seiring bertambahnya usia Casmita, rumahnya pun kian merapuh. Saat hujan mengguyur Indramayu, air merembes bebas dari langit-langit, membawa hawa dingin hingga ke tempatnya berbaring. Namun, saat ditanya soal penderitaannya, Casmita tak sedikit pun mengeluhkan kondisi rumahnya yang bocor. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal, kesembuhan.

"Saya ingin seperti dulu. Bisa berjalan, bisa bekerja," harapnya.

Sebuah keinginan yang terdengar begitu sederhana, namun terasa sangat mewah bagi kondisinya saat ini.

Di tengah kesunyian itu, Casmita tidak benar-benar sendirian. Ada Irwan (28), pemuda yang telah ia asuh sejak masih merah. Irwan hadir di kehidupan Casmita dan almarhum istrinya saat baru berusia tiga hari. Kini, pemuda itulah yang menjadi kaki dan tangan bagi Casmita.

Setiap hari, dengan penuh ketelatenan, Irwan membersihkan tubuh Casmita, mengurus kotorannya, hingga menyiapkan segala keperluan medis saat penyakitnya kambuh.

"Beliau yang membesarkan saya. Sekarang giliran saya membalas jasa beliau," ucap Irwan.

Irwan menyambung hidup dengan bekerja serabutan. Sering kali, ia harus merelakan pekerjaannya demi memastikan Casmita baik-baik saja. Rasa khawatir selalu membuntutinya ke mana pun ia pergi.

"Pernah tengah malam saya merasa tidak tenang. Saya pulang, ternyata Bapak sedang kesakitan," kenangnya.

Bahkan saat merantau ke Jakarta pun, Irwan tak ragu untuk langsung pulang begitu mendengar kondisi ayah angkatnya memburuk.

Bagi Irwan, ini adalah bentuk penebusan. Ia menyimpan sesal karena merasa kurang maksimal merawat almarhum istri Casmita dahulu. Kini, ia tak ingin mengulang lubang yang sama.

"Saya tidak ingin menyesal lagi," katanya.

Hingga hari ini, Casmita belum pernah mendapatkan perawatan medis yang menyeluruh di rumah sakit. Dompet yang tipis memaksanya hanya bergantung pada obat-obatan warung atau apotek seadanya. Meski dokter menyebut ia menderita asam urat dan asam lambung, cedera akibat jatuh itulah yang disinyalir menjadi penyebab utama kelumpuhannya.

Namun, di mata Casmita, harapan belum mati. Sesekali, ia masih mencoba menggerakkan tangan dan kakinya, melatih otot-otot yang sudah lama kaku. Jika matahari sedang hangat, ia akan meminta bantuan untuk duduk di luar, sekadar merasakan dunia luar yang ia rindukan.

Di pengujung usianya, Casmita tidak mengejar harta atau kemewahan. Ia tidak meminta istana atau rumah yang megah. Ia hanya ingin kembali tegak berdiri.

Sebab bagi seorang pekerja keras, kehilangan kemampuan untuk menafkahi diri sendiri adalah beban yang jauh lebih berat daripada rasa sakit fisik mana pun. Di rumah yang mulai rapuh itu, Casmita terus merapal doa yang sama, agar suatu hari nanti, ia bisa kembali melangkah dan menjalani sisa hidupnya dengan martabat seorang lelaki mandiri.



(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads