Menembus Batas, Mengukir Prestasi: Kisah Atlet Paralimpik Indramayu

Menembus Batas, Mengukir Prestasi: Kisah Atlet Paralimpik Indramayu

Burhannudin - detikJabar
Rabu, 15 Jul 2026 18:39 WIB
Beberapa atlet paralimpik berlatih di Sport Center Indramayu, Rabu (15/7/2026).
Beberapa atlet paralimpik berlatih di Sport Center Indramayu, Rabu (15/7/2026). (Foto: Burhannudin)
Indramayu -

Di Sport Center Indramayu, semangat para atlet disabilitas terlihat begitu menyala. Ada yang berlatih melempar lembing, memanah, hingga mengangkat beban. Keterbatasan fisik bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Justru dari keterbatasan itulah lahir tekad, yang membawa mereka mengharumkan nama Indramayu hingga tingkat nasional bahkan internasional.

Kabupaten Indramayu kini menjadi salah satu daerah yang cukup diperhitungkan dalam pembinaan olahraga disabilitas. Di bawah naungan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Indramayu, lebih dari seratus atlet dari berbagai cabang olahraga dibina secara berkelanjutan. Mereka berasal dari cabang atletik, renang, panahan, menembak, angkat berat, hingga bola voli duduk.

Prestasi yang mereka raih bukan sekadar pelengkap statistik. Medali demi medali berhasil dibawa pulang dari ajang Pekan Paralimpik Daerah (Peparda), Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas), bahkan kompetisi tingkat ASEAN.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di balik berkembangnya olahraga disabilitas di Indramayu, ada sosok Suprayitno, Ketua NPCI Kabupaten Indramayu. Perjalanan hidupnya menjadi alasan mengapa ia begitu mengabdikan diri bagi penyandang disabilitas.

Suprayitno bukan sekadar pengurus organisasi. Ia mengalami sendiri pahitnya menjadi penyandang disabilitas. Saat berusia sembilan tahun, kecelakaan sepeda motor membuat salah satu kakinya harus diamputasi setelah terlindas truk. Masa kecilnya berubah drastis. Ia mengalami depresi, putus sekolah, dan sempat kehilangan arah hidup.

ADVERTISEMENT

Harapan itu kembali muncul ketika ia berangkat ke Solo. Di kota tersebut ia belajar membuat kaki palsu sekaligus mengenal dunia olahraga disabilitas. Dari sanalah kehidupannya berubah. Ia menjadi atlet lari menggunakan kaki palsu dan berhasil mengukir prestasi dengan meraih medali emas pada Pekan Paralimpik Nasional 1989 di Jawa Timur, serta medali perunggu dalam kejuaraan di Kobe, Jepang.

Pengalaman hidup itulah yang kini ia bagikan kepada para atlet muda. Baginya, disabilitas bukan akhir kehidupan, melainkan awal perjuangan untuk menunjukkan kemampuan.

"Saya ingin teman-teman disabilitas tidak putus asa. Kekurangan jangan dijadikan alasan untuk menyerah. Tunjukkan kemampuan melalui prestasi," katanya, saat ditemui di Sekretariat NPCI Indramayu, Rabu (15/7/2026).

Dedikasi Suprayitno tidak hanya terlihat di arena olahraga. Ia juga membuat kaki palsu bagi penyandang disabilitas yang membutuhkan. Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah ketika membantu seorang anak, yang bertahun-tahun tidak bisa berjalan akibat cacat sejak lahir.

"Setelah dipasangi kaki palsu, anak itu akhirnya bisa berjalan. Saat dianterin pulang, ibunya nangis terharu ngeliat anaknya bisa jalan untuk pertama kalinya," tuturnya.

Di NPCI Indramayu, kisah sukses serupa terus bermunculan.

Nurhadi, misalnya, pernah mengalami kecelakaan hingga harus kehilangan kaki. Setelah bergabung dengan NPCI, ia menekuni olahraga panahan dan berhasil menembus kompetisi internasional. Kini ia dipercaya menjadi pelatih, membimbing generasi atlet berikutnya.

Ada pula Juned dan Fianto yang sukses meraih gelar juara pada ajang Peparda dan Peparnas. Juned bahkan berhasil membawa pulang dua medali emas. Sementara atlet muda seperti Amini mulai dipersiapkan sebagai regenerasi, sedangkan Sopan pernah mengharumkan Indonesia pada ASEAN Para Games 2017 di Malaysia.

Di cabang atletik, semangat serupa terlihat dari sosok Tarno. Kakinya diamputasi setelah mengalami kecelakaan saat masih berusia lima tahun. Namun kondisi itu tidak menghalanginya menjadi atlet serbabisa. Ia pernah meraih medali emas lompat jauh pada 2003, disusul medali perak dan perunggu di Karawang, serta terus aktif hingga kini di cabang atletik maupun bola voli duduk.

Suprayitno berharap semakin banyak keluarga yang tidak lagi menyembunyikan anggota keluarganya yang menyandang disabilitas.

"Setiap penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang apabila memperoleh ruang, pembinaan, dan dukungan yang tepat," katanya.

Di Indramayu, lapangan latihan itu bukan hanya tempat berolahraga. Ia menjadi ruang lahirnya harapan baru. Dari sana, para atlet membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah mampu membatasi mimpi.

Dengan kerja keras, ketekunan, dan dukungan berbagai pihak, mereka terus melangkah, mengukir prestasi, sekaligus mengubah cara masyarakat memandang disabilitas.

Bagi mereka, kemenangan sejati bukan hanya ketika berdiri di podium menerima medali, melainkan ketika mampu membuktikan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads