Kisah Jaja, Eks Buruh Pabrik yang Kini Jadi Pilot Drone Cicerem

Kisah Jaja, Eks Buruh Pabrik yang Kini Jadi Pilot Drone Cicerem

Fahmi Labibnajib - detikJabar
Rabu, 08 Jul 2026 06:00 WIB
Jaja Sujana mantan kuli pabrik yang jadi penerbangan drone
Jaja Sujana mantan kuli pabrik yang jadi penerbangan drone (Foto: Fahmi Labibnajib/detikJabar).
Kuningan -

Di tepi Telaga Biru Cicerem yang airnya sebening kaca, Jaja Sujana (33) tampak sibuk. Di tengah keriuhan wisatawan yang mengisi libur sekolah, jemarinya lincah memainkan tuas kendali. Bukan sekadar hobi, pria asal Desa Kaduela, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan ini sedang menjemput rezeki sebagai pilot drone dan fotografer di objek wisata andalan daerah tersebut.

Namun, siapa sangka, sebelum mahir menerbangkan "burung besi" di atas permukaan telaga, Jaja adalah seorang perantau yang akrab dengan deru mesin pabrik. Jauh sebelum ia dikenal sebagai kreator konten lokal, ia hanyalah satu dari sekian banyak pemuda desa yang terpaksa mengadu nasib ke kota karena sulitnya lapangan kerja di kampung halaman.

"Merantau itu kurang lebih 2 tahun kerja jadi kuli pabrik di Tangerang sampai tahun 2012," tutur Jaja mengenang masa lalunya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nasib membawanya pulang ke Kaduela setelah kontrak kerjanya habis. Di masa-masa menganggur itulah, titik balik hidupnya pun dimulai. Tanpa guru, tanpa sekolah formal, Jaja mulai menyelami dunia multimedia secara otodidak. Baginya, modal utama bukan sekadar rasa suka, melainkan keteguhan untuk terus mencoba meski berkali-kali gagal.

Perjalanannya menjadi pilot drone tidaklah mulus. Jaja harus merelakan tabungannya ludes demi sebuah proses belajar. Ia menceritakan bagaimana sejumlah drone miliknya rusak hingga hilang saat ia masih meraba-raba teknik penerbangan yang benar. Namun, kegagalan itu justru menjadi guru terbaik hingga ia menguasai teknik fotografi dan penyuntingan video yang mumpuni.

"Waktu itu sebelum jadi pilot drone kita coba coba sampai habis 7 drone yang terbuang yang harganya Rp 700 ribu sampai Rp 1,5 juta. Maksudnya terbuang tuh ketika kebawa angin, hilang kendali, masuk air. Dulu mah speknya masih spek belajar gitu, kita ngulik-ngulik. Belum ada GPS, jadi akhirnya daya terbang juga terbatas. Alhamdulillah. Kita sekarang kita sudah tahu ilmunya," tutur Jaja.

Keahlian yang ia asah secara mandiri itu kemudian ia dedikasikan untuk membangun tanah kelahirannya. Jaja memutuskan bergabung dalam pengembangan Desa Wisata Kaduela. Di Telaga Biru Cicerem, ia tak hanya menjadi fotografer, tetapi juga videografer drone yang bertugas menangkap keindahan alam dari ketinggian. Tak berhenti di situ, ia pun merambah dunia digital sebagai kreator konten lokal.

"Dulunya ikut Karang Taruna. Setelah itu, masa transisi Karang Taruna. Tapi BUMDes juga merangkul anak-anak Karang Taruna untuk diberdayakan. Akhirnya sejak 2021 mulai meledak tuh. Ramai di sini. Untuk sekarang kita buka jasa video dan foto drone untuk perahu kano transparan juga. Kita juga tekuni FB Pro, Instagram, TikTok, semua kalangan media kita coba tekuni. Cuman YouTube agak sedikit kurang. Lumayan dibayarnya pakai dollar," tutur Jaja.

Kini, Jaja tak perlu lagi berdesakan di angkutan umum atau menghirup polusi industri di perantauan. Baginya, bekerja di desa sendiri memberikan ketenangan yang tak ternilai harganya. Meski pendapatan di kota mungkin terlihat lebih besar secara angka, tetapi kehangatan keluarga dan biaya hidup yang terjangkau di Kuningan jauh lebih bermakna.

"Kalau di sini ya lumayan, nggak terlalu banyak pengeluaran kayak di Tangerang meski di sana pendapatnya besar, tapi pengeluaran besar juga. Di sini alhamdulillah UMR Kuningan dapat sebulan, dekat sama keluarga juga bisa sambil ngonten juga. Ini juga mau coba buka usaha PS," pungkas Jaja.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Bos Terra Drone Dituntut 2 Tahun di Kasus Kebakaran Tewaskan 22 Orang"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads