Rencana menghadirkan aliran listrik ke Kabupaten Majalengka ternyata sudah muncul sejak masa Hindia Belanda. Hal itu terungkap dari arsip koran Surat Kabar Hindia Belanda yang terbit pada 16 Mei 1936 berjudul Het Licht van Madjalengka atau Cahaya untuk Majalengka.
Dalam pemberitaan tersebut dijelaskan, pemerintah kolonial tengah membahas proyek elektrifikasi untuk Majalengka beserta wilayah sekitarnya. Bahkan, terdapat dua skema yang dipertimbangkan untuk mewujudkan rencana tersebut. Koran tersebut membuka laporannya dengan kabar baik bagi masyarakat Majalengka.
"Er is goed nieuws in de maak voor de bewoners van Madjalengka en omgeving. Er worden namelijk onderhandelingen gevoerd over de electrificatie van deze kota," tulis koran Surat Kabar Hindia Belanda yang dikutip detikJabar, Senin (6/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada kabar baik yang sedang dipersiapkan bagi penduduk Majalengka dan sekitarnya. Saat ini tengah berlangsung perundingan mengenai elektrifikasi kota ini," translate dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia.
Dalam berita itu disebutkan pula, dua perusahaan ikut dalam pembahasan sebagai calon pemasok tenaga listrik, yakni N.I. Gas Maatschappij dan G.E.B.E.O. Rencana yang dibahas bukan hanya untuk Majalengka bagian kota saja, tetapi juga mencakup Kadipaten dan Djatiwangi.
"De besprekingen loopen in hoofdzaak over twee mogelijkheden, namelijk het stichten van een electriciteitsbedrijf voor Madjalengka, Kadipaten en Djattiwangi samen," ujarnya.
"Pembicaraan itu pada dasarnya membahas dua kemungkinan, yakni mendirikan sebuah perusahaan listrik yang akan melayani Majalengka, Kadipaten, dan Djatiwangi secara bersama-sama," dalam terjemahan.
Namun apabila proyek berskala besar itu dianggap tidak layak secara ekonomi, pemerintah kolonial telah menyiapkan opsi lain, yakni mendirikan perusahaan listrik yang hanya melayani wilayah Majalengka.
Tak hanya itu, koran tersebut juga mengungkap langkah pemerintah Kabupaten (Regentschap) yang siap mengambil alih proyek apabila perusahaan swasta tidak bersedia menggarapnya.
"Het regentschap er toe zal overgaan om zelf een zoodanig bedrijf op te richten en in eigen beheer te exploiteeren," terangnya.
"Pemerintah kabupaten akan mengambil langkah untuk mendirikan perusahaan listrik tersebut sendiri serta mengelola dan mengoperasikannya di bawah pengelolaan pemerintah," dalam terjemahan.
Pada bagian akhir berita disebutkan bahwa Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Air Hindia Belanda bahkan telah menyiapkan rancangan proyek untuk mendukung pembangunan perusahaan listrik tersebut.
Meski demikian, arsip surat kabar itu tidak menjelaskan apakah rencana elektrifikasi tersebut akhirnya benar-benar direalisasikan pada masa kolonial atau baru terwujud setelah Indonesia merdeka. Yang jelas, dokumen yang terbit pada 16 Mei 1936 itu menjadi bukti bahwa gagasan menghadirkan listrik ke Majalengka sudah dibahas sejak hampir 90 tahun silam.
Sementara itu, pegiat sejarah Majalengka Nana Rohmana atau yang akrab disapa Naro menyampaikan, berdasarkan penelusurannya, peresmian jaringan listrik pertama di Kota Majalengka diduga berlangsung pada 14 Februari 1937.
"Kalau melihat data yang saya temukan, peresmian listrik pertama di Kota Majalengka kemungkinan berlangsung pada 14 Februari 1937. Saat itu pengelola listriknya diduga adalah GEBEO, perusahaan listrik pada masa Hindia Belanda. Kalau sekarang, kurang lebih seperti PLN," kata Naro.
Menurut Naro, keberadaan jaringan listrik sebelum Indonesia merdeka juga diperkuat oleh cerita yang ia dengar dari sang ayah. Ia menyebut, di Jalan Satari pernah berdiri tiang listrik yang menjadi saksi masa perang.
"Ayah saya pernah bercerita bahwa di Jalan Satari dulu sudah ada tiang listrik. Bahkan, salah satu tiangnya berlubang atau copong akibat terkena peluru saat masa perang. Saya tidak tahu apakah tiang itu masih ada atau sudah diganti dengan yang baru," ujarnya.
Naro juga mengungkapkan, berdasarkan foto arsip peninggalan zaman Belanda, pernah berdiri sebuah gardu listrik di kawasan Andir, Majalengka.
"Kalau tidak salah, gardu listrik yang berada di Andir dulu dikenal dengan nama Sentral. Menurut cerita yang saya dapat, bangunan itu dibom oleh para pejuang Majalengka pada tahun 1947. Peristiwa itu menjadi bagian dari dinamika perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Majalengka," pungkasnya.
(yum/yum)
