Matahari belum sepenuhnya tinggi saat rombongan tiba di kompleks pemakaman di Desa Talaga Wetan, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka, Minggu (5/7/2026). Jarum jam baru menunjukkan sekitar pukul 08.00 WIB.
Di tengah padatnya agenda sebagai Jaksa Agung, ST Burhanuddin menyempatkan diri pulang untuk berziarah ke makam kedua orang tuanya. Momen itu berlangsung khidmat. Ia datang didampingi sang kakak, Anggota DPR RI Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin, Bupati Majalengka Eman Suherman, serta para pejabat lain.
Di bawah rindangnya pepohonan, Burhanuddin menundukkan kepala. Doa-doa dipanjatkan di hadapan pusara ayah, ibu, kakek, nenek, hingga sejumlah anggota keluarga besarnya yang dimakamkan di lokasi tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"(Di sini) ada makam ibu saya, bapak saya, ada nenek saya, saudara-saudara saya di sini, kakek," kata Burhanuddin saat diwawancarai detikJabar, Minggu (5/7/2026).
Di sela-sela wawancara usai ziarah, Burhanuddin mengenang masa kecilnya. Di balik kesuksesan yang kini diraihnya bersama sang kakak, TB Hasanuddin, tersimpan cerita tentang keluarga sederhana dengan sepuluh keluarga. Kehidupan sederhana itu justru membentuk eratnya hubungan di antara mereka.
"Kami sangat dekat karena kami ini 10 besar. Jadi keluarga besar dan tentunya kami saling bahu-membahu dalam menjalani kehidupan. Dari 10 bersaudara itu sekarang tinggal empat," ujarnya.
Menurut Burhanuddin, orang tuanya tak pernah mewariskan harta berlimpah. Yang diwariskan adalah nilai kehidupan.
"Nasihat dari orang tua, selalu ingat bahwa kita juga akan kembali semua. Dalam perjalanan hidup ini selalu diingatkan bahwa kita harus mempersiapkan diri untuk kembali seperti mereka, kembali kepada Tuhan," tuturnya.
Anggota DPR RI Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin dan Jaksa Agung ST Burhanudin saat ziarah ke makam orang tuanya di Majalengka. Foto: Erick Disy Darmawan/detikJabar |
Cerita kemudian disambung oleh TB Hasanuddin. Mantan perwira tinggi TNI itu tersenyum saat mengingat bagaimana sang ibu mengajarkan arti berbagi melalui hal yang sangat sederhana.
"Masa kecil kami itu indah. Kami keluarga besar, tetapi dalam kehidupan sehari-hari selalu berbagi. Contohnya ketika ibu membuat dadar telur, itu benar-benar dibolak-balik setipis mungkin lalu dibagi menjadi 10 bagian sama rata," kenangnya.
Ia lalu membandingkan kondisi itu dengan kehidupan saat ini. "Anak-anak sekarang dikasih dua telur saja kadang tidak mau. Padahal zaman dulu satu telur dibagi 10 juga masih cukup," ujarnya sambil tersenyum.
Kesederhanaan itu juga terlihat dari keseharian mereka semasa kecil. Keduanya mengaku sering mencari rumput sepulang sekolah demi memberi makan kambing peliharaan keluarga.
"Bapak kami petani. Kami ingin memelihara kambing. Bapak bilang silakan, tapi harus kasih makan sendiri. Jadi kami berdua mencari rumput sepulang sekolah," kata TB Hasanuddin.
Tak jauh dari area pemakaman, mereka juga menghabiskan masa kecil bermain di aliran sungai kecil. Mandi, mencari ikan, hingga menjelajah kampung dilakukan berdua hampir setiap hari.
"Di belakang sini dulu ada walungan (sungai) kecil. Tempat kami mandi, nyari ikan, dan lain sebagainya. Kami memang ke mana-mana berdua karena kakak-kakak kami perempuan," ujarnya.
Bagi keduanya, masa kecil yang sederhana bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Dari anak seorang petani yang terbiasa mencari rumput dan berbagi sebutir telur, keduanya akhirnya menapaki jalan hidup berbeda hingga dipercaya menduduki jabatan penting di tingkat nasional.
"Maksud kami ingin katakan begini, masyarakat, siapa pun punya hak untuk maju, punya hak untuk berkembang, punya hak bahkan mungkin untuk bukan hanya sekadar (menjadi) anggota DPR, Jaksa Agung, tapi punya hak untuk jadi presiden sekalipun," pungkasnya.
(yum/yum)

