Mentari pagi baru saja menebarkan sinarnya di sudut jalan Desa Dermayu, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu. Di bawah rindangnya pepohonan dan di tepi jalan yang mulai ramai dilalui warga, seorang perempuan berhijab hitam tampak sibuk melayani pembeli.
Tangannya cekatan memindahkan serabi yang telah matang dari cetakan ke wadah plastik. Perempuan itu adalah Yuni (41), penjual serabi yang setiap hari mengandalkan kehangatan tungku untuk menghidupi keluarganya.
Sejak pagi buta, ketika sebagian besar orang masih terlelap, Yuni sudah memulai aktivitasnya. Adonan serabi yang terbuat dari campuran tepung beras, santan, dan bahan-bahan sederhana lainnya telah ia siapkan sejak dini hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baginya, waktu adalah modal penting. Semakin pagi ia berjualan, semakin besar peluang dagangannya habis sebelum siang.
Di atas tungku sederhana, serabi-serabi berwarna hijau tersusun rapi. Warna itu berasal dari bahan alami berupa pandan yang membuat tampilannya semakin menarik. Aroma harum santan yang berpadu dengan panas bara menjadi penanda bahwa dagangan Yuni siap dinikmati. Tak sedikit warga yang sengaja mampir sebelum berangkat bekerja atau mengantar anak ke sekolah.
Bagi Yuni, berjualan serabi bukan sekadar mencari nafkah. Dari usaha kecil itulah ia membesarkan dua orang anak yang menjadi sumber semangat dalam hidupnya.
Setiap serabi yang terjual memiliki arti penting: membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, membayar biaya sekolah, hingga memastikan dapur tetap mengepul setiap hari.
"Yang penting anak-anak bisa sekolah dan kebutuhan sehari-hari tercukupi," ujar Yuni saat ditemui di lapaknya, Kamis (18/6/2026) pagi.
Meski terlihat sederhana, perjalanan menjadi pedagang kaki lima tidak selalu mudah. Cuaca menjadi salah satu tantangan terbesar. Saat hujan turun, jumlah pembeli biasanya berkurang. Belum lagi harga bahan baku yang kadang naik tanpa bisa diprediksi.
Namun, keadaan itu tidak membuat Yuni menyerah. Ia tetap berjualan dengan tekun, karena ia percaya bahwa rezeki akan datang bagi mereka yang mau berusaha.
Kesetiaan pelanggan menjadi penyemangat tersendiri. Banyak pembeli yang sudah mengenal serabi buatan Yuni karena rasanya yang khas dan harganya yang terjangkau.
"Di sini ada serabi gupak yang warna hijau ini, terus ada serabi polosan putih, serabi dage, telur, oncom, gula merah, dan bisa request mau dikasih apa barangkali isiannya mau bawa sendiri dari rumah juga nggak papa. Harganya di sini mulai dari Rp2 ribu saja," katanya.
Di tengah menjamurnya makanan modern, jajanan tradisional seperti serabi masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Di balik kesederhanaan lapaknya yang berdiri di pinggir jalan, tersimpan kisah ketangguhan seorang perempuan. Yuni membuktikan bahwa kerja keras tidak selalu hadir dalam bentuk usaha besar. Dari tungku kecil dan serabi yang dijajakan setiap pagi, ia merawat mimpi-mimpi dua anaknya agar tetap tumbuh dan berkembang.
Ketika matahari semakin meninggi dan satu per satu serabi di atas papan mulai berkurang, Yuni kembali melayani pembeli yang datang. Senyum tipis sesekali terlihat di wajahnya. Bagi sebagian orang, serabi hanyalah jajanan tradisional. Namun bagi Yuni, setiap serabi adalah simbol perjuangan, harapan, dan cinta seorang ibu kepada keluarganya.
Di sudut Desa Dermayu, kisah itu terus berulang setiap hari; hangat seperti serabi yang baru diangkat dari tungku.
(yum/yum)
