Di Desa Babakanmulya, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, terdapat sebuah destinasi wisata yang tengah berjuang bangkit setelah bertahun-tahun mati suri. Destinasi tersebut adalah objek wisata Bumi Pelangi Kuningan.
Sejak beberapa bulan terakhir, kawasan wisata ini mulai dihidupkan kembali oleh AKP Junaedi, seorang purnawirawan Polri yang kini menjabat sebagai Plt Direktur BUMDes Babakanmulya, atau yang akrab disapa Didi.
Didi menjelaskan bahwa objek wisata Bumi Pelangi telah berdiri sejak tahun 2018. Pada awalnya, pengelolaan dilakukan melalui kerja sama antara pihak BUMDes dengan pihak ketiga. Namun, hantaman pandemi COVID-19 mengakibatkan jumlah pengunjung merosot tajam. Minimnya inovasi dan pemeliharaan membuat objek wisata tersebut perlahan ditinggalkan hingga akhirnya terbengkalai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kebetulan saat itu saya sudah pensiun dari polisi tahun 2023. Terakhir tugas itu jadi Kapolsek di Mandirancan. Terus ditunjuk buat jadi Plt Direktur BUMDes. Dari Covid saja terbengkalai. Nah kemudian dari tahun ke tahun nggak ada pengembangan. Akhirnya dibiarkan terbengkalai sampai 4 tahunan mah ada. Sekarang sudah dikelola BUMDes. Luasnya ada 4 hektar mah," tutur Didi.
Didi memaparkan bahwa ketertarikan dirinya untuk mengembangkan kembali Bumi Pelangi didasari oleh potensi besar yang dimiliki lokasi tersebut. Terletak di kaki Gunung Ciremai, objek wisata ini menawarkan udara sejuk dan pemandangan alam yang asri. Oleh karena itu, pada awal masa jabatannya sebagai direktur, ia segera memfokuskan perhatian pada revitalisasi Bumi Pelangi.
Langkah awal yang ditempuh adalah menambah fasilitas baru guna menarik minat wisatawan. Menurutnya, pembaruan fasilitas sangat krusial sebagai daya tarik utama. Salah satu inovasi yang dilakukan adalah membangun perosotan air sepanjang 70 meter.
Didi mengakui bahwa keterbatasan anggaran menjadi kendala utama saat memulai proyek tersebut. Alhasil, ia bersama pengelola lainnya berinisiatif menggunakan dana talangan pribadi untuk membiayai pembangunan kembali sarana di Bumi Pelangi. Pembangunan perosotan pelangi tersebut diperkirakan menelan biaya sekitar Rp70 juta.
"Saya awal pertama kita pakai dana talangan. Artinya orang-orang pengurus ini mah yang punya duit urunan. Itu mulai sebelum bulan puasa. Bulan Januari. Saya kan ngejar target Lebaran. Lebaran ini kita harus modal balik gitu lah. Nah saya pertama ngebangun ini mungkin perosotan aja ya, kalau kita hitung-hitung hampir Rp70 juta," tutur Didi.
Suasana objek wisata Bumi Pelangi Kuningan Foto: Fahmi Labibinajib |
Upaya tersebut membuahkan hasil manis saat libur Lebaran lalu. Objek wisata Bumi Pelangi kembali dipadati pengunjung, bahkan jumlahnya melonjak drastis hingga ratusan bahkan ribuan orang per hari. Dalam periode liburan tersebut, pihak pengelola berhasil mengembalikan dana talangan yang digunakan untuk pembangunan fasilitas perosotan.
"Tapi alhamdulillah 1 minggu Lebaran. Sudah kita balikin. Kita kan targetnya mengembalikkan dulu. Jangan sampai jadi beban utang. Selama liburan juga kita merekrut pekerja freelance ada 10 sampai 13 orang mah," tutur Didi.
Kendati belum mampu memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa (PAD), Didi berkomitmen untuk terus mengembangkan dan mempromosikan Bumi Pelangi. Ia berharap sektor pariwisata ini dapat menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat desa di masa depan.
"Belum ada PAD. Karena kita masih fokuskan ke pembangunan. Kita upayakan menggali potensi desa untuk kesejahteraan masyarakat. Karena umpamanya ketika PAD nanti, buat sosial, itu harapan kami ke sana. Bisa saja kan kita target umpamanya satu keluarga harus satu sarjana, kalau pendapatannya bagus," pungkas Didi.
(yum/yum)

