Jagat media sosial diramaikan oleh unggahan video yang memperlihatkan prosesi pernikahan seorang kiai di Desa Gandasoli, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan.
Berbeda dengan prosesi pernikahan pada umumnya, dalam rekaman tersebut tampak dua wanita mendampingi mempelai pria di pelaminan. Dengan mengenakan riasan siger Sunda dan baju pengantin berwarna putih, kedua wanita itu terlihat bahagia saat mendampingi sang suami.
Unggahan video tersebut menyertakan keterangan bahwa istri sah memberikan hadiah berupa istri baru untuk suaminya yang sedang berulang tahun. Selain itu, disebutkan pula bahwa istri baru tersebut merupakan salah seorang santri yang pernah menimba ilmu di pondok pesantren yang diasuh kiai tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan penelusuran, acara tersebut merupakan pernikahan kedua dari pimpinan Pondok Pesantren Raudhatul Ummah Desa Gandasoli, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan, yakni Kiai Dede Nadif Ar-Rasyid (40). Informasi ini dikonfirmasi langsung oleh pengurus pondok pesantren, Ustaz Solehudin.
Menurut Solehudin, Kiai Dede melangsungkan pernikahan kedua dengan Syifa Sri Wahyuni (20), yang merupakan alumni santri di pesantren tersebut. Sementara itu, sosok perempuan lain yang turut berada di pelaminan adalah istri pertama Kiai Dede yang bernama Ida (34).
"Betul kemarin pernikahannya tanggal 6 Juni 2026. Namanya Kiai Dede Nadif Ar-Rasyid dengan Syifa Sri Wahyuni sebagai istri kedua. Untuk istri pertamanya itu namanya Ida yang kelahiran 1991," tutur Solehudin, Minggu (7/6/2026).
Solehudin menjelaskan pernikahan kedua ini merupakan kado ulang tahun untuk sang suami yang lahir pada tanggal 1 Juni, sekaligus kado peringatan hari pernikahan pertama mereka yang ke-16. Ia mengungkapkan istri pertama telah berencana mencarikan calon istri kedua bagi suaminya sejak tiga tahun lalu. Hal itulah yang mendasari kehadiran istri pertama untuk mendampingi suaminya di pelaminan.
"Itu rencananya sudah tiga tahun yang lalu. Awalnya ditanggapi dingin oleh suaminya. Nah, kemudian istri yang pertama itu ingin memberikan kejutan gitu dengan mencarikan istri. Pas di tahun inilah sang suami usianya 40 tahun dipertemukan dengan calon istri kedua. Jadi ini perempuan hadiah untuk suaminya, gitu. Pernikahannya juga tepat di hari jadi pernikahan suaminya dan istri pertama," tutur Solehudin.
Dalam potongan video viral lainnya, tampak istri pertama didampingi istri kedua duduk di pelaminan. Berbahasa Sunda, ia menyatakan telah memberikan izin kepada suaminya untuk menikah kembali. Ia menegaskan bahwa pernikahan ini adalah kado spesial bagi suami yang berulang tahun pada bulan Juni, sekaligus kado ulang tahun pernikahan mereka yang ke-16.
Selain itu, sang istri pertama berharap pernikahan kedua suaminya tersebut dapat menjadi jalan bagi dirinya untuk menjadi orang yang lebih bertakwa dan diridai Allah SWT.
"Dina danget ayeuna, dina waktos anyena mangga umi sareng putra putri umi sejak widi ngawidian abi nanggo nikah deui ka istri anu namina Teh Syifa Sri Wahyuni binti Bapak Marlin sebagai bentuk rasa syukur umi ka Abdi anu parantos ngabimbing umi lahir-batin. Kedua, sebagai kado ulang tahun anu spesial kangge Abi nu lahir di bulan Juni. Alhamdulillah kenging weding na ge di tanggal 6 bulan 6 tahun 2026 tanpa di engaja ya sebagai kado ulang tahun pernikahan Abi sareng umi anu tos rumah tangga tos 16 tahun (Pada saat ini, di waktu sekarang ini, Umi serta putra-putri Umi memohon izin untuk mengizinkan Abi untuk menikah lagi dengan seorang wanita yang bernama Teh Syifa Sri Wahyuni binti Bapak Marlin sebagai bentuk rasa syukur Umi kepada Abi yang telah membimbing Umi secara lahir dan batin. Kedua, sebagai kado ulang tahun yang spesial untuk Abi yang lahir di bulan Juni. Alhamdulillah tanggal pernikahan di tanggal 6 bulan 6 tahun 2026 tanpa sengaja juga jadi kado ulang tahun pernikahan Umi dan Abi yang ke-16 tahun)," tutur Ida, istri pertama, dalam video yang diunggah oleh akun TikTok @meydins tersebut.
Solehudin menambahkan istri kedua merupakan alumni dari Pondok Pesantren Raudhatul Ummah. Ia menegaskan tidak ada unsur paksaan dalam pernikahan tersebut, baik dari pihak istri pertama maupun istri kedua. Ia mengatakan, dari pernikahan dengan istri pertama, Kiai Dede sendiri telah dikaruniai enam anak.
"Sebelumnya istri pertama sudah mencari sampai ke pesantren yang di Tasik, Ciamis sampai ke Cikijing. Kan asli Cikijing istrinya pertamanya tuh. Cuman enggak dapat. Akhirnya ditemukanlah dengan santri aja yang sudah lulus. Warga Desa Gandasoli. Itu juga salah satu putri ini jemaah di sini, usianya itu 20 tahun. Pihak istri yang pertama menyampaikan dan, memberikan izin. Dan memang dari istri pertama juga sudah rela banget. Dari istri pertama itu udah ada 6 anak, yang bungsunya kembar malah," tutur Solehudin.
Ia memaparkan bahwa alasan di balik pernikahan tersebut adalah sebagai upaya untuk mendukung kegiatan dakwah sang suami selaku pimpinan pondok pesantren.
"Memang tujuannya dakwah. Jadi untuk menyamakan persepsi, ya sudah. Daripada sekarang nyari luar belum tentu sama dengan persepsi pesantren, akhirnya ada di alumni. Kan alumni kan berarti kan satu guru, satu visi. Karena sempat ditanya sama Pengadilan Negeri apa posisinya. Tujuan awalnya memang untuk membantu dakwah di pesantren. Karena santri sudah mulai banyak. Bareng-bareng dakwah untuk mengurus pondok pesantren, santri sama umat," pungkas Solehudin.
