Cara Desa Kaduela Perangi Bank Emok Lewat Sektor Wisata

Cara Desa Kaduela Perangi Bank Emok Lewat Sektor Wisata

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Jumat, 05 Jun 2026 07:00 WIB
Desa wisata Kaduela Kuningan
Desa wisata Kaduela Kuningan. Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar
Kuningan -

Selain membuka lapangan kerja bagi penduduk sekitar melalui sektor pariwisata, Desa Wisata Kaduela, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan juga menyediakan jasa simpan pinjam bagi warga yang membutuhkan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Arya Kemuning.

Direktur BUMDes Arya Kemuning Kaduela Iim Ibrahim memaparkan unit usaha simpan pinjam tersebut didorong oleh keresahan atas banyaknya masyarakat Kaduela yang terjebak bank emok. Menurutnya, kala itu, saat COVID-19, banyak rentenir yang mendatangi desa untuk menagih utang. Bunga yang besar membuat banyak rumah tangga terjerat, bahkan beberapa warga terpaksa menjual barang berharga demi lepas dari jeratan tersebut.

"Parah-parahnya kan seperti ini. Saya kan melihat langsung, masyarakat ini ketika ada kebutuhan atau apa dia pinjam jam 7 pagi eh pas jam 9 nya sudah ada yang nagih. Banyak penagih bank keliling itu tiap harinya. Banyak sampai jual barang. Ada juga yang rumah tangganya jadi ribut terus karena utang. Saat itu, ada ratusan orang yang terjerat mah, " tutur Iim.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melihat kondisi tersebut, pada tahun 2021, Iim berinisiatif untuk mengedukasi warga agar tidak berutang kepada bank emok. Sebagai solusinya, BUMDes Kaduela yang ia pimpin membuka unit usaha simpan pinjam. Modal usaha tersebut bersumber dari pendapatan sektor pariwisata Desa Kaduela.

ADVERTISEMENT

"Awal-awal karena kita penyertaan modal dari desa wisata Rp 100 juta. Untuk awal kita kasih limit pinjaman ke masyarakat itu Rp 1 juta per orang. Jadi di tahun pertama ada 100 orang yang pinjam di sini," tutur Iim.

Berbeda dengan jasa simpan pinjam pada umumnya, unit usaha milik BUMDes Kaduela ini menawarkan bunga yang lebih rendah dan persyaratan yang lebih mudah. Debitur hanya perlu melampirkan KTP dan terdaftar sebagai warga yang berdomisili di Desa Kaduela.

"Kalau Rp 1 juta. Cicil selama 10 bulan satu bulannya Rp 115.000.Kita mengambil bunganya di angka 1,5% per 10 bulan jadi totalnya Rp 1.150.000. Untuk pinjamannya kita batasi satu juta dulu. Kalau lancar bisa naik pinjamannya. Persyaratannya mudah itu cuman khusus warga Kaduela sama KTP atau KK saja. Biasanya warga kalau pinjam itu buat kebutuhan mendesak kayak bayar anak sekolah," tutur Iim.

Selain pinjaman untuk kebutuhan mendesak, BUMDes Kaduela juga menyediakan pinjaman modal usaha. Iim menjelaskan bahwa debitur dapat meminjam hingga Rp 5 juta untuk keperluan usaha. Kini, dari total 202 debitur, sekitar 100 di antaranya menggunakan pinjaman tersebut sebagai modal usaha. Pihaknya juga, menyediakan pinjaman sosial tanpa bunga bagi masyarakat yang terkena musibah atau membutuhkan dana darurat.

"Kami juga ada pinjaman sosial contohnya orang hajatan, orang orang kena musibah, sakit, dadakan butuh uang secepatnya. Itu kita bisa ngasih pinjaman tanpa bunga. Tapi ada jangka waktunya maksimal tuh sebulan ya dengan nominal maksimal Rp 5 juta," tutur Iim.

Bagi debitur yang terlambat membayar, petugas akan berkeliling untuk melakukan penagihan secara persuasif dari rumah ke rumah. Iim mengaku tidak khawatir akan risiko gagal bayar karena tujuan utama program ini adalah untuk membantu masyarakat.

"Ada saja yang macet karena usahanya kurang berjalan. Jadi kita solusinya mulai per tahun kemarin kita door-to-door ke tiap warga yang macet, tiap 2 minggu sekali. Kalau di formulir itu telat 1 hari kita kena sanksi Rp 1.000, cuman pada kenyataannya kita nggak tega jadi enggak pernah melakukannya lagi. Kalau saya kan intinya untuk membantu masyarakat, yang utang juga warga sini juga. Jadi lebih mudah," tutur Iim.

Salah satu debitur, Fieri (26), seorang pedagang martabak, mengaku sudah tiga kali meminjam uang di BUMDes untuk menambah modal usahanya. Ia menjelaskan bahwa meski banyak tawaran dari bank konvensional maupun pinjaman daring (pinjol), ia tetap memilih BUMDes Kaduela karena faktor kepercayaan dan kemudahan proses.

"Alasannya karena dekat, mudah dan percaya. Dibandingkan sama bank lain di sini lebih mudah. Kemarin pinjam Rp 5 juta. Sudah tiga kali pinjaman. Alhamdulillah lancar nggak ada kendala. Usaha juga jadinya terbantu. Apalagi sekarang omzetnya satu juta sehari bisa. Jadi bisa nutup lah," tutur Fieri.

Senada dengan Fieri, debitur lainnya, Sani (40), juga merasakan manfaat serupa. Sebagai ibu dua anak dengan suami yang bekerja sebagai buruh harian lepas, Sani beberapa kali memanfaatkan pinjaman BUMDes untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menurutnya, skema di BUMDes Kaduela jauh lebih meringankan dibandingkan bank emok.

Keseharian Sani juga dihabiskan sebagai pekerja wisata di Telaga Biru Cicerem, Desa Kaduela. Pendapatannya dari sektor wisata tersebut dirasa cukup untuk melunasi cicilan pinjamannya.

"Beberapa kali pinjam di sini. Pertama Rp 1 juta, keduanya Rp 2 juta. Kenapa di sini, karena bunganya kecil. Ringan nggak dikejar-kejar kayak bank emok. Seumpama nggak punya uang sekarang. Minggu depan bisa dicicil. Apalagi di sini juga saya sambil kerja upahnya Rp 85 ribu sehari. Misal nominalnya sebulan Rp 230 ribu. Saya mah paling dicicil seminggu Rp 50 ribu. Jadi pas 1 bulan itu bisa Rp 230 ribu. Uangnya buat bayaran yang kepepet tuh kayak bayar anak sekolah kemarin," pungkas Sani.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads