Penjelasan SPPG Gunungmanik Majalangka soal Dugaan Keracunan MBG

Penjelasan SPPG Gunungmanik Majalangka soal Dugaan Keracunan MBG

Erick Disy Darmawan - detikJabar
Senin, 01 Jun 2026 20:28 WIB
ilustrasi keracunan
Ilustrasi keracunan massal. Foto: Dok.Detikcom
Majalengka -

Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Gunungmanik, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka, buka suara terkait puluhan penerima manfaat yang dilarikan ke fasilitas kesehatan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Jumat (29/5).

Kepala SPPG Gunungmanik Dewi Andayani menilai, peristiwa tersebut diduga dipicu oleh waktu konsumsi makanan yang tidak sesuai dengan anjuran. Berdasarkan hasil penelusuran pihak SPPG juga, banyak penerima manfaat yang tidak langsung mengonsumsi makanan setelah dibagikan.

"Setelah kita cek lapangan, kebanyakan penerima manfaat ini memasukkan makanan ke wadah dan tidak langsung makan di tempat. Padahal setiap pembagian kami selalu mengimbau dan sudah jelas juga ada aturannya harus makan di tempat dan makanan fresh, tidak boleh dibawa pulang," kata Dewi kepada detikJabar, Senin (1/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Namun ternyata, kenyataannya malah mereka membawa pulang dan memakan di waktu yang sangat rentan, malah tidak boleh untuk dimakan lagi. Kebanyakan dari mereka itu mengonsumsinya pada sore hingga malam hari," sambungnya.

ADVERTISEMENT

Menurut Dewi, makanan MBG idealnya dikonsumsi dalam waktu 4 hingga 6 jam setelah diporsikan ke dalam ompreng. Adapun menu MBG yang disajikan pada hari itu terdiri dari nasi putih, telur puyuh bumbu kecap untuk porsi kecil dan balado untuk porsi besar, tumis labu siam dan jagung, serta tahu krispi.

"Untuk ideal dikonsumsi itu dari 4 sampai 6 jam setelah diporsikan dan disimpan di ompreng," jelasnya.

Terlepas hal tersebut, Dewi menegaskan pihaknya belum dapat memastikan penyebab kejadian tersebut karena masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari sampel makanan yang telah dikirim ke pihak provinsi.

"Kita juga masih menunggu hasil lab. Jadi kita tidak bisa memastikan apakah betul itu memang kesalahan dari pihak dapur atau memang makanan yang bermasalah. Kita belum bisa memastikan itu," tegasnya.

Atas kejadian tersebut, Dewi menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak yang terdampak. Ia memastikan seluruh proses operasional dapur telah dilaksanakan sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.

"Sehubungan dengan kejadian yang terjadi, saya selaku Kepala Dapur menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak yang terdampak. Kami berharap kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari," ucap Dewi.

Ke depan, kata Dewi, pihaknya juga akan melakukan evaluasi menyeluruh mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan hingga edukasi kepada penerima manfaat terkait waktu konsumsi makanan.

"Evaluasi ke depan tentu kami akan lebih hati-hati dalam memilih bahan, lebih memperhatikan aspek keamanan pangan, proses memasak, dan terus mengedukasi penerima manfaat terkait waktu konsumsi makanan," katanya.

Sementara itu, jumlah penerima manfaat yang tercatat mengalami keluhan yakni sebanyak 22 orang. Penerima manfaat yang mengalami keluhan berasal dari kalangan siswa SMP, SMA hingga guru. Gejala yang dialami berupa mual, muntah dan diare.

"Rata-rata masuk Puskesmas Talaga itu pada hari Sabtu pukul 02.00 WIB, dini hari. Pembagian MBG dilakukan pada hari Jumat, sementara sebagian besar makanan dikonsumsi dari sore sampai malam," ungkap Dewi.

Dewi memastikan seluruh biaya pengobatan penerima manfaat yang terdampak ditanggung pihak dapur. Ia juga menyebut kondisi para korban kini telah membaik dan sebagian besar sudah kembali beraktivitas.

"Alhamdulillah sudah membaik dan sudah pulang. Yang dirawat juga sekarang sudah pada pulang dan masa pemulihan. Anak-anak sekolah yang terdampak secara data sudah pada main lagi," ujarnya.

Menyusul kejadian tersebut, operasional dapur MBG untuk sementara dihentikan setelah menerima surat teguran dari Badan Gizi Nasional (BGN) hingga hasil pemeriksaan selesai.

"Untuk saat ini kita sudah menerima surat teguran secara langsung dari BGN, kita berhenti dulu sementara sampai hasilnya keluar," pungkasnya.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads