Pelabuhan Cirebon merupakan salah satu pelabuhan bersejarah yang masih aktif beroperasi hingga kini dan menjadi pintu gerbang distribusi barang antarwilayah di Indonesia.
Di pelabuhan yang berada di pesisir utara Jawa itu, kapal-kapal pengangkut barang silih berganti bersandar di dermaga, diiringi aktivitas bongkar muat yang terus dijalankan oleh para pekerja.
Kesibukan itu menunjukkan Pelabuhan Cirebon masih memiliki peran penting sebagai pintu gerbang pengiriman dan masuknya barang antardaerah di Nusantara, bahkan mancanegara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, ada berbagai macam komoditas yang rutin keluar masuk melalui pelabuhan tersebut. Beberapa di antaranya seperti batu bara, garam, jagung hingga barang lainnya.
Saat detikJabar mengunjungi Pelabuhan Cirebon beberapa waktu lalu, suasana siang di kawasan itu tampak ramai aktivitas. Sejumlah kapal pengangkut barang terlihat tengah bersandar di dermaga.
Di antara kapal-kapal besar itu, beberapa membawa muatan jagung, sementara lainnya mengangkut batu bara dan garam yang dikirim dari luar daerah.
Deretan kapal pengangkut beragam komoditas saat bersandar di Pelabuhan Cirebon: Ony Syahroni/detikJabar |
Saat kapal-kapal tengah bersandar, para pekerja fokus menjalankan tugas. Mereka sibuk memindahkan muatan dari lambung kapal ke truk-truk pengangkut yang terus bergerak keluar masuk pelabuhan.
Meski cuaca siang itu terasa panas, aktivitas di pelabuhan tetap berlangsung. Sengatan terik matahari seolah tak mengganggu kegiatan bongkar muat di pelabuhan.
Di balik fungsinya yang masih berjalan, Pelabuhan Cirebon sendiri memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pelabuhan penting di pesisir utara Jawa.
Pelabuhan itu disebut telah menjadi tempat keluar masuk kapal-kapal dari berbagai daerah sejak ratusan tahun lalu.
Menilik Sejarah Pelabuhan Cirebon
Pemerhati sejarah Cirebon, Farihin menjelaskan tentang awal mula keberadaan pelabuhan di daerah berjuluk 'Kota Udang'. Menurutnya, pelabuhan pertama di daerah ini adalah Muara Jati yang sudah ada sejak abad 15. Lokasinya berada di kawasan yang kini masuk wilayah Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon.
"Kalau kita bicara awal, Pelabuhan Cirebon awal itu Muara Jati, lokasinya di Kecamatan Gunungjati. Itu pelabuhan awal yang sudah ada sejak abad 15 atau tahun 1400-an," kata Farihin saat berbincang dengan detikJabar.
Pada masa itu, kata dia, Pelabuhan Muara Jati menjadi tempat singgah kapal-kapal dari berbagai wilayah. Kapal dari Malaka, Jawa, Madura, Tumasik atau Singapura, hingga dari berbagai daerah lainnya disebut pernah datang ke pelabuhan tersebut.
"Dalam naskah Purwaka Caruban Nagari, kapal-kapal dari Malaka, Tumasik atau Singapura, Jawa wetan, Madura, dah dari berbagai negara lain itu di Pelabuhan Muara Jati awal mulanya. Dan yang tercatat sebagai tokoh Syahbandarnya adalah Ki Gedeng Tapa Jumajan Jati," terang Farihin.
Sejak masa itu, kata dia, aktivitas perdagangan dan distribusi barang pun sudah mulai berjalan di kawasan pelabuhan tersebut.
"Saat itu pelabuhan jadi tempat interaksi antarbudaya, antarnegara. Di sisi lain berfungsi juga untuk perdagangan. Distribusi barang, ekspor-impor, memang dari pelabuhan," kata Farihin.
Di era selanjutnya, ketika Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati memimpin Kerajaan Cirebon, dibangunlah pelabuhan baru yang lokasinya lebih dekat dengan keraton. Pelabuhan itu yang kini dikenal sebagai Pelabuhan Cirebon di Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon.
"Setelah Sunan Gunung Jati naik tahta, dibangunlah pelabuhan itu pada abad 16. Jadi pelabuhan itu dibuat di era Sunan Gunung Jati supaya aksesnya lebih dekat dengan keraton," kata Farihin.
Menurutnya, sejak dulu pelabuhan tersebut memiliki peran penting sebagai jalur perdagangan dan distribusi barang. Selain itu, pelabuhan juga berfungsi sebagai akses hubungan antarnegara.
"Fungsi utama pelabuhan memang untuk perdagangan. Dan juga saat itu hubungan antarnegara masuknya lewat pelabuhan," kata dia.
Bangunan tua di kawasan Pelabuhan Cirebon Foto: Ony Syahroni/detikJabar |
Kemudian, memasuki masa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), pelabuhan tersebut lalu dikenal dengan sebutan Pelabuhan Tanjung Emas. Menurut Farihin, nama itu merujuk pada komoditas dari Cirebon yang saat itu dinilai cukup unggul.
"Komoditas ekspor Cirebon itu dulu bagus-bagus. Seperti misalnya kopi itu nomor satu dulu di Cirebon zaman VOC tahun 1700-an. Kemudian ada kayu manis, beras, terasi, kayu jati, daging, sampai rempah-rempah," ucap Farihin.
"Jadi kenapa disebut Pelabuhan Tanjung Emas, itu karena komoditas ekspornya bagus-bagus di antara pelabuhan-pelabuhan yang lain," sambung dia.
Pada masa itu, selain komoditas dari Cirebon, sejumlah hasil bumi dari wilayah Priangan juga biasa didistribusikan melalui pelabuhan tersebut.
"Seperti sayur-sayuran atau palawija segala macam itu kan dari Priangan. Priangan kan enggak punya pelabuhan, maka distribusinya melalui Pelabuhan Cirebon," jelas Farihin.
Farihin mengatakan, pada era Orde Baru nama Tanjung Emas kemudian digunakan untuk pelabuhan di Semarang.
"Nama Tanjung Emas dipakai untuk pelabuhan di Semarang itu zaman Orde Baru. Sebelum nama itu dipakai Semarang, Pelabuhan Cirebon dulu yang disebut Tanjung Emas," kata Farihin.
Kesibukan Pelabuhan Cirebon saat Ini
Hingga kini, aktivitas bongkar muat terus berlangsung di Pelabuhan Cirebon. Kapal-kapal pengangkut barang masih rutin keluar masuk di area pelabuhan.
Saat ini, PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) Cabang Cirebon merupakan operator terminal nonpetikemas di Pelabuhan Cirebon. Branch Manager PTP Cabang Cirebon, Hari Priyatna, mengatakan pelabuhan tersebut saat ini melayani bongkar muat berbagai jenis komoditas.
"Jadi untuk penanganannya ada beberapa komoditas. Di antaranya adalah curah cair, curah kering, general kargo," kata Hari.
Ia menjelaskan, komoditas yang termasuk curah cair antar lain seperti aspal, minyak sawit dan CPO. Sementara curah kering di antaranya batu bara, pasir, garam, semen, jagung dan beberapa komoditas lain.
Ia menyebut, Pelabuhan Cirebon merupakan pintu masuk berbagai komoditas dari sejumlah daerah untuk memenuhi kebutuhan di wilayah Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah.
"Komoditas yang dari Kalimantan, dari Sumatera, dan daerah-daerah lain itu sandar di sini. Dan itu untuk kebutuhan di Bandung Raya, Ciayumajakuning, sampai ke Jawa Tengah, seperti Ajibarang, Tegal, bongkarnya di sini. Purwakarta, Karawang, di sini semua," kata dia.
Pada Kamis (21/5/2026) misalnya, terdapat kiriman beragam komoditas dari sejumlah daerah yang diangkut menggunakan kapal dan tiba di Pelabuhan Cirebon. Salah satunya garam dari Australia yang akan didistribusikan untuk kebutuhan industri.
Proses pemindahan muatan dari kapal ke truk pengangkut barang di Pelabuhan Cirebon Foto: Ony Syahroni/detikJabar |
Selain garam, ada pula kapal-kapal yang membawa muatan jagung dari Dompu, Nusa Tenggara Barat. Jagung tersebut didatangkan untuk kebutuhan pakan ternak.
"Untuk garam, itu garam impor dari Australia, untuk industri. Sedangkan jagung dari Dompu, NTB, itu untuk pakan ternak," ucap Hari.
Di hari yang sama, aktivitas pemindahan batu bara dari kapal ke truk-truk pengangkut juga tengah berlangsung di Pelabuhan Cirebon. Proses pemindahan dilakukan dengan menggunakan alat berat berupa ekskavator.
"Seperti batu bara itu juga kebanyakan untuk industri," kata Hari
Sementara itu, Hari juga turut memaparkan data mengenai throughput beragam komoditas yang ditangani PTP Cabang Cirebon dalam beberapa tahun terakhir.
Sepanjang 2025, arus barang di Pelabuhan Cirebon lebih banyak diisi batu bara yang jumlahnya mencapai 2.673.216 ton. Kemudian ada pula pasir kuarsa sebanyak 181.243 ton, jagung 162.386 ton, minyak sawit 104.211 ton, cangkang sawit 101.823 ton, pasir 97.429 ton, barang proyek 70.673 ton dan aspal 70.529 ton.
Komoditas lainnya seperti gypsum tercatat sebanyak 54.289 ton, semen curah 51.643 ton, bungkil 43.935 ton, tepung sago 41.222 ton, copper slag 35.244 ton, sludge 29.189 ton, tanah liat 17.794 ton, garam 17.397 ton, CPO 16.857 ton, laterite 14.654 ton, tapioka 9.014 ton, serta komoditas lainnya sebanyak 40.747 ton. Secara keseluruhan, throughput sepanjang 2025 mencapai 3.833.495 ton.
Di tahun ini, realisasi throughput hingga April 2026 terdapat peningkatan pada beberapa komoditas. Batu bara masih menjadi komoditas dengan jumlah terbanyak, yakni mencapai 1.051.241 ton atau naik 298.774 ton dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, peningkatan juga terjadi pada pasir yang jumlahnya mencapai 68.355 ton atau naik 63.469 ton dibanding periode yang sama tahun lalu. Selain itu, minyak sawit, cangkang sawit, aspal curah dan beberapa komoditas lainnya juga mengalami peningkatan pada priode tersebut.
Secara keseluruhan, throughput di Pelabuhan Cirebon hingga April 2026 tercatat mencapai 1.359.261 ton, meningkat 397.228 ton dibanding periode yang sama tahun 2025.
'Mata Elang' Pengawas Keselamatan Kerja di Pelabuhan
Petugas saat memantau aktivitas di kawasan Pelabuhan Cirebon melalui control room Foto: Ony Syahroni/detikJabar |
Di tengah riuhnya kegiatan bongkar muat di Pelabuhan Cirebon, pengawasan operasional dan keselamatan kerja dinilai menjadi hal penting. Untuk itu, setiap aktivitas di area pelabuhan dipantau lewat control room.
Dalam ruangan tersebut, terdapat deretan layar yang menampilkan setiap aktivitas yang berlangsung di kawasan pelabuhan, mulai dari hilir mudik kendaraan hingga kegiatan bongkar muat barang.
Deputi Manager Operasi, Teknik, HSSE PTP Cabang Cirebon, Aloysius Nugroho Saputro, menjelaskan ruangan tersebut menjadi pusat pemantauan operasional terminal, bongkar muat, hingga HSSE (Health, Safety, Security, and Environment).
"Yang diawasi itu ada dua aspek. Aspek operasional dan HSSE. Aspek operasional itu meliputi operasional terminal dan operasional bongkar muat. Kemudian HSSE pun dibagi menjadi dua lagi, yaitu aspek security dan safety," terang Aloysius.
Untuk mendukung fungsi pemantauan, ruangan tersebut terhubung dengan CCTV yang berjumlah sekitar 33 dan tersebar di sejumlah titik area pelabuhan.
Selain itu, terdapat pula beberapa titik pengeras suara. Menurut Aloysius, selain untuk memberikan informasi, pengeras suara itu juga berfungsi sebagai alat pengawasan keselamatan kerja.
Ia mengatakan, jika terjadi pelanggaran safety di area pelabuhan, maka akan diberi teguran langsung melalui pengeras suara tersebut.
"Ibaratnya command center itu seperti mata elang. Jadi di dalam satu meja ini bisa mengamati keseluruhan area," ujar Aloysius.
Peninggalan Sejarah di Pelabuhan Cirebon
Sebagai tempat bersejarah, hingga kini Pelabuhan Cirebon masih menyimpan sejumlah peninggalan masa lalu. Fasilitas dan bangunan-bangunan lama masih berdiri kokoh di kawasan pelabuhan.
Deretan bangunan-bangunan tua itu dapat ditemukan tak jauh dari gerbang masuk pelabuhan. Dengan arsitektur lawas yang khas, bangunan-bangunan itu masih bertahan hingga sekarang.
Pada salah satu bangunan, tulisan '1918' masih terlihat jelas di bagian atas. Di bawahnya, tulisan 'Gudang' juga terpampang pada pintu bangunan.
General Manager Pelindo Regional 2 Cirebon, Darwis, mengatakan Pelabuhan Cirebon merupakan pelabuhan tua di Jawa Barat yang hingga kini masih aktif beroperasi.
"Pelabuhan Cirebon ini termasuk salah satu pelabuhan heritage, pelabuhan tua yang ada di Jawa Barat," kata Darwis.
Ia menyebut, hingga sekarang pelabuhan itu masih memiliki peran penting sebagai tempat keluar masuk barang. Di balik deretan bangunan tua dan aktivitas distribusi yang terus berlangsung, Pelabuhan Cirebon belum berhenti menjadi penghubung daerah-daerah di Nusantara.
(yum/yum)




