Suasana tenang di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ciporang 1, Kelurahan Ciporang, Kecamatan Kuningan, mendadak berubah riuh. Seekor ular picung ditemukan menyelinap masuk ke area vital lembaga tersebut pada Minggu (24/5/2026) sore.
Peristiwa ini bermula sekitar pukul 16.10 WIB, saat matahari mulai condong ke barat. Kala itu, Yudi, salah seorang pegawai SPPG, tengah sibuk membersihkan lingkungan kantor. Namun, langkahnya terhenti seketika saat ia mencapai area penginapan atau mess. Matanya menangkap gerakan seekor ular yang tengah melata santai di sana.
Khawatir keberadaan tamu tak diundang itu bakal mengancam keselamatan penghuni SPPG, Yudi bergegas menghubungi petugas pemadam kebakaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menurut keterangan pelapor, ular pertama kali terlihat saat ia sedang membersihkan area mess relawan SPPG. Kemudian karena khawatir berbahaya, keberadaan ular tersebut dilaporkan ke Call Center UPT Pemadam Kebakaran Satpol PP Kabupaten Kuningan untuk meminta bantuan evakuasi," tutur Kepala UPT Damkar Kuningan, Andri Arga Kusuma, Senin (25/5/2026).
Merespons laporan tersebut, empat personel Damkar Kuningan langsung diterjunkan ke lokasi. Namun, sebelum petugas tiba, warga sekitar telah bahu-membahu mengamankan ular tersebut menggunakan alat seadanya berupa bambu sederhana yang dijepitkan ke tubuh ular.
Meski ukurannya tergolong kecil, gigitan ular jenis ini tetap patut diwaspadai karena dapat memicu luka dan iritasi pada kulit manusia.Setelah diukur, ular yang diduga berasal dari area persawahan di sekitar pemukiman itu memiliki panjang sekitar 50 sentimeter. Diduga kuat, sang ular nekat masuk ke area SPPG karena tergiur dengan keberadaan kolam ikan kecil yang ada di halaman tersebut.
"Ular picung masih termasuk ular jenis koros dan tidak berbahaya dengan panjang 50 sentimeter. Diperkirakan berasal dari persawahan di sekitar pemukiman bertujuan untuk mencari makan, karena di halaman terdapat kolam ikan kecil. Sebelum anggota Damkar sampai di lokasi, ular tersebut berhasil ditangkap oleh warga sekitar pakai alat bambu yang dijepitkan," tutur Arga.
Belajar dari kejadian ini, Damkar Kuningan mengimbau masyarakat untuk memperketat kewaspadaan terhadap masuknya hewan liar ke dalam pemukiman. Kebersihan lingkungan menjadi kunci utama agar predator melata ini tidak betah bertamu.
Warga disarankan untuk rutin menutup lubang-lubang yang berpotensi menjadi pintu masuk, serta menggunakan wewangian menyengat seperti kapur barus yang tidak disukai oleh indra penciuman ular.
(yum/yum)
