Deru mesin penggilingan itu terdengar sejak pagi di sudut Desa Bunder, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, Jumat (15/5/2026). Karung-karung beras tersusun rapi di lantai pabrik, sementara beberapa pekerja sibuk menimbang hasil gilingan, memastikan bulir-bulir beras jatuh bersih dari mesin pemoles, hingga memasukkan gabah ke dalam truk.
Di tengah aktivitas itu, Anas Ghozali berdiri memperhatikan para pekerjanya satu per satu. Usianya baru 34 tahun, tetapi tanggung jawab yang dipikulnya tidak kecil. Ia dipercaya mengelola pabrik beras milik ayahnya, PT Munir Jaya, yang kini menjadi salah satu penggerak ekonomi warga sekitar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak bermitra dengan Perum Bulog Indramayu pada 2024, aktivitas pabrik semakin hidup. Truk pengangkut gabah lebih sering datang dan pekerja pun semakin sibuk menjaga ritme produksi.
Namun bagi Anas, yang paling penting bukan sekadar jumlah beras yang diproduksi. "Alhamdulillah ada sebanyak lima puluh pekerja, berarti lima puluh keluarga hidup dari pabrik ini," katanya saat ditemui di pabrik, Jumat (15/5/2026).
Kalimat itu meluncur sederhana, nyaris tenggelam oleh suara mesin penggilingan. Tetapi di balik kesederhanaannya, ada cerita tentang dapur-dapur yang tetap mengepul, anak-anak yang terus sekolah, dan keluarga-keluarga yang bertahan dari pekerjaan di pabrik tersebut.
Tampak para pekerja menyiapkan beras untuk dimasukkan ke dalam mobil truk. Foto: Burhannudin/detikJabar |
Salah satu yang merasakan itu adalah Syaiful Anwar, atau yang akrab dipanggil Epung. Lelaki berusia 29 tahun itu sudah bekerja di pabrik sejak 2011. Lima belas tahun hidupnya dihabiskan bersama aroma gabah dan debu penggilingan.
Tangannya tampak cekatan ketika memindahkan karung beras ke sudut gudang. Sesekali ia melempar senyum kepada rekan kerjanya. Rutinitas itu telah dijalaninya bertahun-tahun, dari pagi hingga petang.
"Alhamdulillah bekerja di sini bisa buat nikah, buat bikin rumah, beli motor, dan intinya menghidupi keluarga," ujar Epung.
Bagi sebagian orang, pekerjaan di pabrik beras mungkin terlihat biasa. Tidak banyak sorotan, tidak pula menjanjikan gemerlap kehidupan kota. Namun bagi Epung, tempat itu menjadi jalan untuk membangun hidup perlahan-lahan.
Dari penghasilan yang dikumpulkannya selama bekerja, ia mulai menata masa depan sedikit demi sedikit. Menikah, membangun rumah, hingga membeli kendaraan bukan datang sekaligus, melainkan melalui tahun-tahun panjang bekerja di tengah panas mesin dan tumpukan gabah.
Seorang pekerja memanggul beras yang belum bersih untuk dimasukkan di mesin pembersih. Foto: Burhannudin/detikJabar |
"Sekarang lagi musim sepeda listrik, anak pengen beli. Terus juga kebutuhan rumah lainnya. Tapi kalau mendesak, saya biasanya minta kasbon ke pabrik. Tapi kadang-kadang Kang Anas cuma ngasih saja, nggak dihitung kasbon, waktu itu saya butuh uang untuk berobat anak," ungkapnya.
Di daerah agraris seperti Indramayu, keberadaan pabrik penggilingan bukan hanya soal produksi pangan. Tempat seperti PT Munir Jaya menjadi simpul kehidupan banyak warga desa. Ketika gabah petani terserap, roda ekonomi ikut bergerak. Buruh angkut bekerja, sopir truk mendapat penghasilan, hingga pekerja pabrik membawa nafkah pulang ke rumah masing-masing.
Menjelang sore, aktivitas di pabrik perlahan mulai mereda. Beberapa pekerja duduk melepas lelah sambil bercanda kecil. Di luar gudang, matahari memantul di hamparan sawah Widasari yang sebagian besar sudah dipanen.
Sementara mesin-mesin perlahan berhenti berdengung, aktivitas dihentikan sejenak hingga selesai waktu Isya, lalu perkejaan dilanjutkan oleh pekerja shift malam. Nyaris tidak ada lengang di pabrik ini setiap harinya.
Kehidupan lima puluh keluarga tetap berjalan dari tempat itu -dari bulir-bulir beras yang digiling setiap hari di sebuah desa kecil di Indramayu.
(sud/sud)


