Suasana hangat menyelimuti pemutaran film dokumenter 'Pesta Babi' di sebuah angkringan yang tak jauh dari kawasan Bunderan Munjul, Kabupaten Majalengka, Kamis (14/5/2026) malam. Para penonton terlihat menikmati jalannya film hingga selesai.
Sejumlah penonton yang hadir tampak serius menyimak setiap adegan dalam film garapan Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale. Pemutaran film itu digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Majalengka yang bekerja sama dengan Komunitas Pancaloka.
Tidak terlihat adanya pembubaran maupun intervensi dari aparat keamanan selama pemutaran film berlangsung. Berbeda dengan sejumlah kejadian, di beberapa daerah lain, nobar di Majalengka berjalan tertib, aman, dan kondusif hingga acara selesai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden BEM Universitas Majalengka, Nendi Nurdiana mengatakan, kondusifnya pemutaran film Pesta Babi di Majalengka tak lepas dari komunikasi dan koordinasi yang dilakukan panitia sebelum kegiatan berlangsung.
"Kalau soal komunikasi ataupun koordinasi kita tentu, mungkin saja faktor perpindahan waktu dan tempat. Semula itu kita (akan) dilaksanakan di kampus Universitas Majalengka, namun akhirnya dilaksanakan di angkringan di sekitaran Munjul," kata Nendi saat diwawancarai detikJabar.
Tak hanya itu, kondusifnya pemutaran film tidak lepas dari tujuan kegiatan yang lebih menitikberatkan pada ruang diskusi dan refleksi bersama.
"Dan tentunya menanggapi daripada kondusifitas ini sebetulnya faktor daripada kita juga sebagai panitia yang memang tujuan daripada nonton bersama ini bukan untuk hal-hal yang negatif, tapi ke hal-hal yang positif untuk bagaimana mahasiswa Majalengka, masyarakat Majalengka ini mengetahui realitas yang ada di Papua dan juga bisa menjadi sebuah refleksi di Majalengka itu sendiri," jelasnya.
Dengan demikian, Nendi pun menyampaikan pesan kepada kelompok masyarakat lain yang ingin menggelar kegiatan serupa agar tak perlu resah dengan adanya intimidasi serta praktik-praktik pembungkam lainnya.
"Pesan untuk teman-teman yang memang ada rencana untuk melaksanakan nonton bareng ini tentunya harus disampaikan dengan baik-baik. Karena memang tujuan kita juga adalah untuk mencari insight wawasan luas, kemudian untuk melihat kebenaran dan realitas daripada substansi film itu sendiri," ujarnya.
Adapun pemutaran film sengaja digelar di ruang publik, jelas Nendi, agar bisa diakses lebih luas oleh masyarakat. "Karena kami menilai bahwasanya dalam persoalan ini publik harus mengetahui. Karena ini bukan hanya segmentasi daripada mahasiswa saja, namun juga harus direfleksikan oleh masyarakat Majalengka dan masyarakat luas di Indonesia," ucapnya.
Ia menyebut, peserta yang hadir berasal dari berbagai unsur, mulai dari BEM se-Majalengka, komunitas Pancaloka hingga masyarakat umum dan komunitas lainnya di Kabupaten Majalengka.
"Jumlah yang hadir lumayan banyak, kurang lebih ada 50 orang lebih," ujarnya.
Hal serupa disampaikan Founder Komunitas Pancaloka, Muhammad Rifki Ramdoni. Ia mengatakan, sejauh ini pemutaran film dokumenter yang digelar komunitasnya di wilayah Ciayumajakuning masih berjalan aman.
"Alhamdulillah sejauh ini masih kondusif. Dari segi pengamanan kami juga sudah mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi," katanya.
Rifki mengungkapkan, Pancaloka tercatat sudah tiga kali menggelar nobar film dokumenter Pesta Babi melalui kolaborasi dengan berbagai komunitas dan kampus di wilayah Cirebon dan Majalengka.
Soroti Realitas Papua hingga Kekhawatiran Alih Fungsi Lahan
Dalam pemutaran tersebut, isu yang paling banyak disorot peserta adalah kondisi masyarakat adat Papua serta dampak proyek strategis nasional terhadap lingkungan dan ruang hidup masyarakat.
Nendi menilai film tersebut menggambarkan realitas sosial yang terjadi di Papua, terutama terkait masyarakat adat dan persoalan lingkungan.
"Kalau saya secara pribadi setelah melihat daripada film yang telah kita lihat, menunjukkan betapa realitas yang ada di tanah Papua. Di sana ada beberapa persoalan yang melibatkan daripada aparat itu sendiri, bagaimana melanggengkan apa yang menjadi tujuan daripada negara itu sendiri untuk proyek strategis nasional," ujar Nendi.
Menurutnya, keresahan serupa juga mulai dirasakan di Majalengka, terutama terkait masifnya pembangunan industri dan proyek strategis nasional.
"Kami menilai dan mengkhawatirkan itu, khawatirnya dengan adanya proyek strategis ini akan memperburuk apa namanya alih fungsi lahan yang ada di Kabupaten Majalengka," ucapnya.
Oleh karena itu, Ia berharap pemerintah daerah tetap memperhatikan keberadaan lahan pertanian yang dilindungi dalam menjalankan pembangunan.
"Kami harapkan dari mahasiswa bahwa dalam mengelola proyek strategis atau bahkan untuk industri itu sendiri harapannya adalah tidak terlalu banyak memakan lahan sawah yang dilindungi, karena memang itu juga ada aturan yang memang dipedomani oleh Pemda itu sendiri. Jangan sampai hal tersebut dilakukan untuk bagaimana melanggengkan kepentingan-kepentingan politik itu sendiri," tuturnya.
Sementara itu, Rifki mengatakan pemutaran film dilakukan sebagai bentuk literasi publik terkait kondisi masyarakat adat Papua.
"Kami ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait kondisi realitas yang terjadi di tanah Papua. Bagaimana penindasan terhadap masyarakat adat dan persoalan lingkungan yang terjadi di sana," ujarnya.
Ia pun mengajak komunitas lain agar tidak takut menggelar diskusi maupun pemutaran film dokumenter selama bertujuan untuk edukasi dan penyebaran informasi.
"Yang kami tunjukkan adalah data dan kondisi riil masyarakat adat Papua. Jadi jangan takut dengan ancaman-ancaman di luar sana," pungkasnya.
Simak Video "Bangun Generasi Tangguh, BNN Gelar Kuliah Umum di Universitas Majalengka"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
