Perjuangan Hendra: Kehilangan Kaki, Bangkit dari Warung Kecil di Indramayu

Perjuangan Hendra: Kehilangan Kaki, Bangkit dari Warung Kecil di Indramayu

Burhannudin - detikJabar
Selasa, 14 Apr 2026 07:00 WIB
Hendra (40), pria asal Tamansari, Kecamatan Lelea, Indramayu, yang bertahan hidup di tengah keterbatasan.
Hendra (40), pria asal Tamansari, Kecamatan Lelea, Indramayu, yang bertahan hidup di tengah keterbatasan. (Foto: Burhannudin)
Indramayu -

Pagi baru saja menyapa Desa Tamansari, Blok Nagrak, Kecamatan Lelea, Indramayu, Senin (13/4/2026). Suasana tampak sangat cerah di pagi hari tersebut.

Di sebuah rumah sederhana, seorang pria tampak sibuk di depan warung kecilnya. Sesekali ia menyapa pembeli yang datang, menyeduh kopi, dan menyediakan jajanan ringan. Pria itu adalah Hendra (40).

Tak banyak yang tahu, di balik senyum ramahnya, Hendra menyimpan kisah hidup yang penuh ujian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama hampir dua dekade, Hendra menggantungkan hidup sebagai sopir colt diesel. Jalanan lintas pulau sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Ia terbiasa mengangkut gabah dan hasil bumi dari Lampung ke Indramayu, bahkan kerap menempuh perjalanan jauh dari Bali menuju Cikarang menyetir mobil ekspedisi.

Hidupnya terus berjalan, hingga sebuah peristiwa di tahun 2022 mengubah segalanya.

ADVERTISEMENT

Di Tol Karawang Timur, kendaraan yang dikemudikannya menabrak mobil di depan. Benturan keras membuat tubuhnya tergencet setir. Akibat kecelakaan itu, kaki kanannya harus diamputasi, sementara kaki kirinya mengalami patah tulang.

Sejak saat itu, kehidupan Hendra tak lagi sama. Aktivitas yang dulu ia lakukan dengan mudah kini menjadi tantangan besar. Bahkan untuk sekadar berpindah tempat, ia harus berjuang lebih keras.

Namun, keterbatasan tak membuatnya menyerah. Ketika kebutuhan hidup semakin mendesak, Hendra mencoba bangkit. Ia sempat berjualan kopi keliling menggunakan sepeda motor. Harapan untuk kembali mandiri perlahan tumbuh.

Sayangnya, takdir kembali menguji. Saat berjualan, ia terjatuh. Kaki kirinya yang mulai pulih justru kembali patah. Untuk kedua kalinya, ia harus menerima kenyataan pahit.

Bagi sebagian orang, mungkin itu cukup untuk menyerah. Tapi tidak bagi Hendra. Ia memilih jalan lain yakni bertahan.

Kini, dari rumah sederhananya, Hendra membuka warung kecil. Setiap hari, ia melayani pembeli dengan sabar. Kopi panas dan makanan ringan menjadi sumber penghasilan untuk keluarganya.

Di sela aktivitasnya, ia tetap berusaha mandiri. Dengan kreativitasnya, Hendra membuat alat bantu sederhana berupa papan beroda (mirip skateboard) agar ia bisa bergerak tanpa harus terlalu membebani tubuhnya.

"Kalau saya tidak kuat (menjalani hidup), nanti anak dan istri bagaimana," ujarnya pelan saat ditemui di kediamannya, Senin (13/4/2026) pagi.

Kalimat itu sederhana, namun menjadi sumber kekuatannya. Peristiwa nahas di Karawang Timur membawanya ke kehidupan yang baru yang harus diperjuangkan mati-matian.

Di balik perjuangan Hendra, ada sosok yang tak kalah tangguh: Nurlaela, sang istri. Ia setia mendampingi suaminya dalam kondisi apa pun. Meski sempat diliputi kebingungan setelah Hendra tak lagi bisa bekerja seperti dulu, ia memilih untuk bertahan.

"Awalnya bingung, karena biasanya bapak yang mencari nafkah. Tapi sekarang alhamdulillah ada usaha kecil di rumah," tuturnya.

Kini, keduanya berbagi peran. Hendra menjaga warung, sementara Nurlaela memasak di dapur. Saat Hendra lelah, sang istri dengan sigap menggantikannya.

Bagi Nurlaela, kunci menjalani semua ini adalah kesabaran dan keikhlasan tiada ujung. "Yang penting sabar dan ikhlas. Kita jalani saja, yang penting rumah tangga tetap bertahan," katanya.

Harapan mereka pun sederhana: kesehatan, kesembuhan, dan kehidupan yang tetap berjalan.

Di dinding rumah mereka, sebuah tulisan terpampang jelas seolah menjadi pengingat di tengah segala keterbatasan:

"Bersyukurlah setiap hari atas napas, kesehatan, makanan, pekerjaan, keluarga, kerabat, dan semua yang anda miliki. Karena bisa jadi, apa yang anda miliki hari ini adalah mimpi bagi orang lain," begitulah tulisan di dinding rumah Hendra.

Di rumah kecil itu, Hendra dan keluarganya membuktikan satu hal: kehilangan tidak selalu berarti akhir dari kehidupan. Kadang, justru dari situlah kekuatan lahir. Kadang, dari situlah babak baru kehidupan telah dimulai.

Dan di tengah segala keterbatasan, mereka memilih untuk tetap berdiri dengan cara mereka sendiri.

"Semoga saya tetap kuat menjalani hidup, dan berjualan kecil-kecilan seperti ini," pungkas Hendra.

(yum/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads