2 Tahun Tanpa Kabar, TKI Indramayu Meninggal Diduga Dianiaya di Arab

2 Tahun Tanpa Kabar, TKI Indramayu Meninggal Diduga Dianiaya di Arab

Burhanuddin - detikJabar
Minggu, 08 Mar 2026 18:43 WIB
Keluarga menunjukkan foto TKI indramayu meninggal diduga dianiaya
Keluarga menunjukkan foto TKI indramayu meninggal diduga dianiaya (Foto: Burhanuddin/detikJabar)
Indramayu -

Kabar duka datang dari keluarga pekerja migran Indonesia asal Kabupaten Indramayu. Seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) bernama Watirih (40), warga Desa Segeran Kidul, Blok Bedug, Kecamatan Juntinyuat, dilaporkan meninggal dunia di Arab Saudi. Kematian Watirih diduga berkaitan dengan kasus kekerasan oleh majikannya.

Suasana duka masih menyelimuti rumah keluarga Watirih di Desa Segeran Kidul. Adik korban, Maghfuroh (29), didampingi sang bapak, Masngud (63), menceritakan bagaimana keluarga menerima kabar mengejutkan tersebut setelah hampir dua tahun kehilangan kontak dengan korban.

"Kami sudah dua tahun tidak ada komunikasi sama sekali. Tiba-tiba dapat kabar dari sana kalau kakak saya sudah meninggal dunia," ujar Maghfuroh saat ditemui di rumahnya, Minggu (8/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut informasi yang diterima keluarga, Watirih diduga menjadi korban penganiayaan oleh majikannya. Namun hingga saat ini penyebab pasti kematian korban masih dalam proses penyelidikan oleh pihak berwenang di Arab Saudi.

ADVERTISEMENT

"Katanya motifnya penganiayaan dari majikan. Tapi masih belum jelas juga. Yang kami dengar sudah ada tersangkanya, yaitu majikan perempuan," kata Maghfuroh.

Keluarga juga mendapat kabar bahwa kasus tersebut tengah ditangani oleh kepolisian setempat. Pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Arab Saudi disebut turut memantau proses hukum yang berjalan.

"Tadi malam juga ada telepon dari KBRI menanyakan perkembangan. Katanya kasusnya masih diperdalam dan kami diminta menunggu prosesnya," ujarnya.

Watirih diketahui berangkat bekerja ke Arab Saudi pada awal tahun 2022. Pada tahun pertama bekerja, ia masih rutin berkomunikasi dengan keluarga di kampung halaman.

Namun setelah itu, komunikasi mendadak terputus.

"Awalnya masih ada kabar, komunikasi dengan Bapak juga masih lancar. Tapi setelah satu tahun, sudah tidak ada kabar lagi sampai dua tahun," kata Maghfuroh.

Keluarga baru menerima kabar duka pada 15 Februari 2026. Sementara berdasarkan informasi yang mereka terima, Watirih meninggal dunia pada 9 Februari 2026 dan dimakamkan pada Jumat 6 Maret beberapa waktu lalu di Arab Saudi.

Di tengah duka yang mendalam, keluarga berharap kasus yang menimpa Watirih dapat diusut secara tuntas.

"Kami berharap kasus ini bisa terang. Kalau memang benar ada penganiayaan, semoga majikan yang melakukan dihukum setimpal," ujar Maghfuroh.

Ia menambahkan, keluarga sebenarnya telah berusaha mengikhlaskan kepergian Watirih jika memang itu sudah menjadi takdir. Namun mereka mengaku tidak akan bisa menerima apabila kematian tersebut benar terjadi akibat tindak kekerasan.

"Kami sekeluarga ikhlas kalau memang sudah takdir meninggal di sana. Tapi kami tidak ikhlas kalau memang ada motif lain, apalagi sampai dianiaya," ucapnya.

Watirih diketahui meninggalkan keluarga serta seorang anak yang selama ini menjadi salah satu alasan dirinya bekerja di luar negeri. Kini keluarga hanya berharap keadilan dapat ditegakkan atas peristiwa yang menimpa perempuan asal Indramayu tersebut.



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads