Pesantren Ekologi, Cara Siswa SMAN 2 Majalengka Rawat Iman dan Bumi

Pesantren Ekologi, Cara Siswa SMAN 2 Majalengka Rawat Iman dan Bumi

Erick Disy Darmawan - detikJabar
Kamis, 26 Feb 2026 17:00 WIB
Pesantren Ekologi SMAN 2 Majalengka
Pesantren Ekologi SMAN 2 Majalengka (Foto: Erick Disy Darmawan/detikJabar).
Majalengka -

Langit pagi masih pucat ketika langkah-langkah pelajar mulai memenuhi halaman SMAN 2 Majalengka. Waktu belum genap pukul 06.30 WIB, tapi aktivitas sudah dimulai. Ramadan tahun ini di sekolah tersebut membawa suasana berbeda. Bukan hanya soal memperdalam ibadah, tetapi juga belajar merawat bumi.

Di sekolah itu, Ramadan dihidupkan lewat program Pesantren Ekologi. Sebanyak 138 siswa mengikuti kegiatan ini setiap hari, sejak pagi hingga pukul 13.30 WIB. Mereka dijadwalkan bergiliran tiap pekan sesuai jenjang kelas, dimulai dari kelas 10, lalu kelas 11, dan terakhir kelas 12.

Selama sepekan penuh, hari-hari mereka bukan hanya digembleng dengan mata pelajaran umum, tetapi juga latihan membangun kesadaran ekologi dan rohani. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 2 Majalengka Aan Usmairin mengatakan, program ini dirancang untuk menghadirkan makna Ramadan yang lebih utuh, yakni menghubungkan ibadah dengan tanggung jawab terhadap lingkungan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Alhamdulillah kegiatan Ramadan di kita memang beda dengan tahun yang kemarin. Kalau tahun kemarin berkaitan dengan smart tren, sekarang adalah pesantren ekologi. Di sini dititikberatkan anak-anak selain mendalami ilmu agama seperti tahsin, tahfidz, materi puasa dan tarawih, juga bagaimana mereka menyayangi alam dan bumi," kata Aan kepada detikJabar, Kamis (26/2/2026)

Di Pesantren Ekologi, siswa memperdalam tahsin dan tahfidz, memahami makna puasa, serta memperkuat kebiasaan ibadah. Namun di luar itu, mereka diajak memahami dan menjaga lingkungan.

ADVERTISEMENT

"Adapun pesan sederhananya seperti mematikan lampu saat tidak digunakan atau menutup keran air setelah penuh menjadi bagian dari pembelajaran. Hal-hal kecil itu dilatih agar menjadi kebiasaan, bukan sekadar pengetahuan," ujarnya.

Praktik tersebut berlanjut hingga ke rumah masing-masing. Para siswa diminta mendokumentasikan kebiasaan hemat energi dan kepedulian lingkungan dalam bentuk laporan, lengkap dengan foto dan video, yang kemudian dikirim melalui tautan khusus.

"Mereka mengirim laporan lewat link. Jadi implementasinya betul-betul di rumah. Kami sudah melihat hasilnya," ungkap Aan.

"Ya, di tengah berbagai persoalan lingkungan yang semakin nyata, pendekatan ini menjadi cara sekolah menanamkan kesadaran sejak dini. Para siswa belajar bahwa merawat bumi tidak selalu dimulai dari hal besar, tetapi dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten," sambungnya.

Selain itu, pembentukan karakter juga menjadi bagian penting. Melalui tujuh kebiasaan anak hebat Indonesia, siswa dilatih bangun sahur tepat waktu, melaksanakan salat Subuh, serta menjaga konsistensi ibadah sepanjang Ramadan. Setiap aktivitas dicatat sebagai bagian dari proses membangun disiplin diri.

Momentum kebersamaan terasa lebih kuat setiap Jumat. Para siswa bekerja bersama membersihkan ruang kelas, merapikan lingkungan sekolah, hingga memastikan halaman tetap bersih. Aktivitas itu menjadi wujud nyata dari nilai yang mereka pelajari.

"Anak-anak dituntut bukan hanya paham, tapi melakukan. Ada salat berjamaah, ada kultum, lalu praktik ekologinya juga jalan," jelasnya.

Program ini juga menghadirkan 12 narasumber yang memberikan materi sepanjang Ramadan. Kegiatan berlangsung setiap hari dan dijadwalkan hingga 13 Maret mendatang.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Hangatnya Munggahan Warga Kawunghilir Jelang Ramadan"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads