Tabuhan Bedug Dlugdag dari Keraton Kasepuhan Cirebon, Tanda Ramadan Tiba

Tabuhan Bedug Dlugdag dari Keraton Kasepuhan Cirebon, Tanda Ramadan Tiba

Ony Syahroni - detikJabar
Rabu, 18 Feb 2026 18:17 WIB
Tradisi Dlugdag di Keraton Kasepuhan, Cirebon
Tradisi Dlugdag di Keraton Kasepuhan, Cirebon (Foto: Ony Syahroni/detikJabar)
Cirebon -

Halaman Keraton Kasepuhan pada Rabu (18/2) sore dipadati warga. Mereka berdiri menghadap ke arah Langgar Agung, menanti momen yang setiap tahun digelar menjelang Ramadan, yakni tradisi Dlugdag.

Di Cirebon, datangnya bulan Ramadan tak hanya diketahui dari pengumuman resmi pemerintah. Di lingkungan Keraton Kasepuhan, penandanya adalah bunyi bedug yang ditabuh dalam sebuah prosesi khusus.

Menjelang waktu pelaksanaan, sejumlah keluarga keraton berjalan beriringan menuju lokasi prosesi. Mereka mengenakan pakaian serba putih lengkap dengan penutup kepala khas keraton, mengikuti jalannya tradisi Dlugdag.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bedug yang digunakan berada di halaman Langgar Agung. Ukurannya besar, ditopang rangka kayu yang kokoh. Selepas salat Ashar, prosesi dimulai.

Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon, Pangeran Raja Goemelar Soeriadiningrat, melangkah ke depan. Dengan busana adat keraton, ia memegang alat pemukul, lalu menabuh bedug. Suara yang berulang menjadi tanda Ramadan segera tiba.

ADVERTISEMENT

Sejumlah kerabat keraton berdiri di belakangnya. Warga yang hadir menyaksikan dengan tenang. Tidak ada rangkaian acara panjang, hanya prosesi pemukulan bedug sebagai simbol.

"Makna Dlugdag ini adalah menandakan, insyaallah besok kita memasuki 1 Ramadan. Insyaallah besok kita sudah melaksanakan ibadah puasa," ujarnya.

Ia menjelaskan, Dlugdag merupakan tradisi turun-temurun sebagai bentuk kegembiraan menyambut bulan yang penuh berkah dan ampunan.

"Keraton setiap tahun menggelar prosesi pemukulan bedug sebagai simbol penyambutan Ramadan," kata dia.

Sementara itu, Penghulu Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Kiai Jumhur, menambahkan tabuhan bedug dalam tradisi Dlugdag tidak dilakukan sembarangan. Ada pola dan irama tertentu saat pelaksanaannya.

Selain itu, kata dia, mereka yang memukul bedug tidak sekadar menabuh, tetapi juga melantunkan zikir. "Jadi kita sambil berzikir," ujarnya.

Menurut dia, irama tabuhan tersebut mengandung makna religius sebagai pengingat sekaligus pemberitahuan kepada masyarakat bahwa Ramadan akan segera dimulai.

"Penabuhan bedug ini merupakan ikhbar atau pemberitahuan kepada masyarakat, bahwa besok kita melaksanakan ibadah puasa," kata dia.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya menyatakan pihaknya mendukung pelestarian tradisi keraton sebagai bagian dari identitas budaya daerah.

Menurutnya, tradisi itu bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan mengandung nilai religius, sejarah, sekaligus budaya yang penting untuk terus dirawat.

"Pemerintah daerah mendukung setiap upaya pelestarian tradisi dan budaya di Kota Cirebon," ujarnya.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads