Di tepi aliran air sungai Objek Wisata Cipaniis terdapat seorang pedagang makanan ringan bernama Yuli (44). Siang itu, meski cuaca sedang gerimis dan sepi pengunjung, Yuli tampak setia menunggu sambil sesekali menawarkan pengunjung yang lewat untuk mampir ke lapak sederhana miliknya.
Yuli memaparkan bahwa sudah berjualan sejak tahun 2013 atau 13 tahun yang lalu. Kala itu, selepas pulang merantau dari Jakarta, Yuli memutuskan untuk membuka usaha di Objek Wisata Cipaniis Kuningan. Ramainya pengunjung jadi alasan Yuli ingin berjualan di Objek wisata air tersebut.
Menurutnya, saat itu, dalam satu hari ia bisa mendapatkan omzet sekitar ratusan ribu rupiah. Uang tersebut, lanjut Yuli, bisa ia gunakan untuk menyekolahkan anak-anaknya di pondok pesantren.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun 2013 sampai tahun 2019 itu masih ramai banget. Kalau hari biasa selain weekend itu bisa dapat Rp 300 ribu. Tapi kalau Sabtu-Minggu atau hari libur itu bisa dapat sampai Rp 800 ribu. Alhamdulillah awal-awal mah cukup banget untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mah," tutur Yuli.
Namun, itu dulu, sekarang pendapatan Yuli dari berjualan turun drastis bahkan tidak menentu. Menurutnya, hal ini disebabkan karena mulai sepinya pengunjung yang datang ke Objek Wisata Cipaniis.
Bahkan, saking sepinya pengunjung, sejak tiga bulan terakhir, di hari Senin-Jumat, Yuli memutuskan untuk tidak lagi berjualan dan hanya akan berjualan di hari Sabtu-Minggu atau hari libur. Menurutnya, jadwal berdagang hanya di hari Sabtu-Minggu, juga diikuti oleh para pedagang lain yang di objek wisata Cipaniis Kuningan.
"Sekarang kalau hari Sabtu-Minggu paling dapat Rp 200 ribu sampai Rp 250 ribu. Kalau hari biasa malah nggak jualan, karena sepi, nggak menentu, lagi nggak baik-baik saja kondisinya. Dulu yang jualan sampai ada 20 pedagang lebih, sekarang lihat aja paling sisa beberapa. Untungnya suaminya kerja, jadi meski nggak jualan juga pendapatan masih ada," tutur Yuli.
Yuli menjelaskan ada beberapa faktor yang menyebabkan sepinya pengunjung yang datang ke objek wisata Cipaniis. Pertama, karena banyaknya tempat wisata baru. Kedua, kurangnya daya tarik tambahan dari objek wisata Cipaniis, dan ketiga karena adanya isu banjir yang terjadi selama beberapa bulan terakhir.
Yuli saat berjualan di warung miliknya di Cipaniis Kuningan Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar |
"Puncaknya tiga bulan ini, karena ada isu banjir. Tapi kalau kemarau airnya malah berkurang, batu-batunya banyak yang disingkirkan buat aliran air ke sawah. Ditambah sekarang sudah banyak tempat wisata juga. Apalagi di sininya belum ada penarik lagi, jembatan aja ini belum dibangun. Kalau ada pengunjung juga kebanyakan bawa makanannya sendiri," tutur Yuli.
Meskipun penghasilannya sudah tidak menentu, namun, Yuli tetap akan berjualan di Objek Wisata Cipaniis Kuningan. Ia hanya berharap, ke depan, semoga objek wisata Cipaniis dapat lebih ditata agar bisa lebih banyak menarik pengunjung.
"Tetap jualan, mau gimana lagi, penghasilanya dari sini. Harapannya tiketnya bisa dimurahin, biar bisa banyak menarik pengunjung. Bisa lebih ditata lagi biar banyak orang yang datang lagi kayak dulu," pungkas Yuli.
(yum/yum)











































