Di balik manis gurih masakan khas Indramayu, terselip peran penting kecap tradisional yang telah puluhan tahun menghuni dapur warga hingga rumah makan. Salah satunya Kecap Kijang Emas, atau yang lebih akrab disebut Kecap Junti, produk unggulan UMKM milik Ade Sutadi di Desa Juntinyuat, Kabupaten Indramayu.
Usaha keluarga ini bukan pemain baru. Kecap Junti diproduksi secara turun-temurun sejak 1962 dengan resep yang tetap dipertahankan keasliannya. Produk ini resmi mengantongi legalitas pada awal 2021, membuka jalan untuk bersaing di pasar modern tanpa menanggalkan identitas tradisionalnya.
Desa Juntinyuat memang lekat dengan aroma kecap. Menurut Ade, terdapat puluhan perajin yang menjadikan desa tersebut sebagai sentra kecap tradisional di Indramayu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selain kami, ada banyak pembuat kecap di sini. Ini sudah jadi ciri khas desa kami. Harapan saya, ke depan Junti tidak hanya dikenal karena pantainya, tapi juga kecapnya," ujar Ade kepada detikJabar, Rabu (22/1/2025).
Sebagai warisan leluhur, Kecap Kijang Emas tetap setia pada proses tradisional. Seluruh tahapan produksi dikerjakan secara manual demi menjaga cita rasa autentik. "Proses pembuatan kecap memakan waktu hingga 12 jam, sehingga produksi hanya dilakukan satu hari dalam sepekan," katanya.
Bahan bakunya pun pilihan. Kedelai hitam dan gula dipasok dari Toko Kelapa Sari di Cirebon, langganan keluarga sejak lama. "Sekarang tokonya dikelola cucu pemilik lama. Pernah saya coba bahan dari daerah lain, tapi rasanya tidak sama," ungkap Ade.
Selain bahan baku, proses fermentasi menjadi kunci. Ade menjelaskan, fermentasi yang tidak sempurna bisa berdampak fatal. "Kalau prosesnya salah, kecap yang sudah dikemas bisa meledak," tuturnya. Berdasarkan uji laboratorium, Kecap Junti memiliki daya simpan yang sangat panjang, meski label best before tetap dicantumkan sebagai panduan kualitas.
Dalam satu siklus produksi, Ade mengolah lebih dari satu kuintal kedelai hitam. Produk ini didistribusikan ke berbagai tempat, termasuk Rumah Makan Ikan Bakar Perdut yang rutin memesan 40 liter setiap pengiriman. Harganya pun ramah di kantong; botol kecil dijual Rp15 ribu, sementara ukuran 300 ml seharga Rp25 ribu.
Sejarah dan Upaya Menjaga Tradisi
Ade menceritakan, sejarah kecap di desa ini bermula dari geliat ekonomi pada era 1960-an. Melimpahnya produksi kedelai saat itu mendorong upaya menjadikan Juntinyuat sebagai sentra kecap guna mendukung kemandirian ekonomi warga.
Hal tersebut disambut positif oleh orang tua Ade, meski awalnya harus melewati masa sulit. "Pembuatan kecap itu harus tekun. Pernah gagal karena fermentasi kurang lama, akhirnya satu kuintal kedelai terbuang," kenangnya. Kala itu, penjualan dilakukan dengan berjalan kaki mengelilingi desa, menawarkan produk dari rumah ke rumah.
Ketekunan itu berbuah manis. Pada 1970-an, Kecap Junti mulai dikenal luas di Indramayu karena harganya yang lebih terjangkau. Usaha ini terus berkembang hingga tongkat estafet beralih ke tangan Ade sebagai generasi kedua pada era 2000-an.
Di tangan Ade, inovasi dilakukan tanpa meninggalkan nilai tradisional. Ia melengkapi legalitas mulai dari uji lab, label halal, hingga izin BPOM. Kini, Kecap Junti telah merambah hotel di wilayah Ciayumajakuning, Subang, hingga Jawa Tengah. Produknya bahkan sampai ke mancanegara seperti Singapura melalui para pekerja migran.
"Bayangan saya ke depan, Junti benar-benar menjadi sentra produksi kecap yang mandiri," pungkas Ade.
Kecap Kijang Emas kini bukan sekadar bumbu dapur, melainkan simbol keteguhan menjaga kearifan lokal yang mampu bertahan dan berkembang melintasi zaman.











































