Kisah Sugianto, PMI Indramayu Terima Penghargaan dari Presiden Korsel

Kisah Sugianto, PMI Indramayu Terima Penghargaan dari Presiden Korsel

Burhannudin - detikJabar
Senin, 05 Jan 2026 08:30 WIB
Kisah Sugianto, PMI Indramayu Terima Penghargaan dari Presiden Korsel
Warsinih menunjukkan foto Sugianto bersama Presiden Korea Selatan. (Foto: Burhannudin/detikJabar)
Indramayu -

Momen haru tergambar jelas dalam raut wajah Warsinih (45) dan Waski (54), kedua orang tua dari Sugianto yang saat ini bekerja di Korea Selatan (Korsel). Sugianto mendapat penghargaan dari Pemerintah Korsel atas aksi heroiknya menyelamatkan para lanjut usia (lansia) dari kebakaran hutan yang mengancam permukiman penduduk di Desa Uiseong, Yeongdeok, Gyeongsang Utara, pada Maret 2025 lalu.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung di Seoul pada Jumat (2/1/2026) lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Warsinih tak kuasa menahan air mata saat berbincang dengan detikJabar. Tanpa kompromi, air mata kebahagiaan itu menetes dan membasahi Warsinih.

"Senang sekali, saya bersyukur Sugianto masih diberi kesehatan," ujar Warsinih saat ditemui di rumahnya yang berada di Desa Jatisura, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, Minggu (4/1/2026).

ADVERTISEMENT

Di waktu yang sama, ayah dari Sugianto, Waski mengaku sering menasihati anaknya agar tetap rendah hati dan berbuat baik terhadap sesama. "Pokoknya harus saling peduli, suka memberikan manfaat bagi orang-orang," kata Waski.

Sementara itu, Indah (30), istri Sugianto, mengatakan suaminya mendapatkan penghargaan juga dari beberapa pihak. Selain penghargaan dari Pemerintah Korea Selatan, Sugianto juga mendapatkan apresiasi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Korea Selatan di Seoul pada 16 April 2025 lalu, atas keteladanan, solidaritas, dan sikapnya yang tanpa pamrih kepada tetangga di tempat kerjanya.

Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PPMI) juga memberikan sertifikat penghargaan kepada Sugianto pada 2025 lalu.

Sertifikat tersebut dibubuhi tanda tangan Menteri PPMI, Abdul Kadir Karding, serta dijelaskan bahwa pemberiannya sebagai bentuk apresiasi terhadap pekerja migran Indonesia yang teladan, atas dedikasi dan kepahlawanan kemanusiaan.

"Semoga suami saya selalu diberi lindungan oleh Allah SWT," harap Indah.

Saat dihubungi via video call di WhatsApp oleh Indah, Sugianto mengeluarkan sejumlah kalimat yang penuh syukur dan kerendahan hati dari mulutnya.

Wajahnya tampak berseri-seri. Baginya, menyelamatkan nyawa manusia dari musibah menjadi kewajiban bagi siapapun yang mampu melakukannya.

"Terima kasih, Pak Presiden Korea Selatan. Juga dari KBRI Korea Selatan dan Kementerian PPMI Indonesia," ujar Sugianto dalam video call tersebut.

Selain itu, Sugianto berpesan kepada para Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk selalu meningkatkan kepedulian sosial di tempat perantauan.

"Intinya, hidup di negeri orang harus punya kesosialan, kepedulian sama tetangga," ungkapnya.

Sugianto menunjukkan piagam penghargaan dari Pemerintah Korea Selatan.Sugianto menunjukkan piagam penghargaan dari Pemerintah Korea Selatan. Foto: Istimewa

Sosok Sugianto dan Hadiah Visa Istimewa

Sugianto adalah pekerja migran asal Desa Jatisura Kecamatan Cikedung Kabupaten Indramayu, yang memulai perjalanan hidupnya di Negeri Gingseng sebagai nelayan pada 12 Desember 2017. Ia memiliki keluarga kecil bersama seorang istri dan seorang anak laki-laki berusia lima tahun.

Saat ini, Sugianto tidak harus menunggu waktu bertahun-tahun untuk pulang ke Tanah Air menemui orang tua dan keluarga kecilnya. Hal tersebut lantaran ia mendapat kepercayaan dari bosnya, dan bisa pulang selama 6 bulan di Indramayu setiap satu tahun.

"Enam bulan di Indramayu, enam bulan di Korea," ungkap Sugianto.

Tidak hanya kepercayaan dari tempat kerjanya, ayah satu anak ini juga mendapat kepercayaan dari Pemerintah Korea Selatan.

Bersamaan dengan pemberian sertifikat penghargaan, Presiden Lee Jae-myung juga memberikan Visa F-2 untuk Sugianto. Visa tersebut adalah visa residensi jangka panjang untuk orang warga negara asing yang ingin menetap di Korea Selatan.

Pemerintah Korea Selatan memberikan izin tinggal untuk periode yang lebih lama dari visa pekerja, dan membuka jalan untuk status penduduk tetap (F-5).

"Saya sudah pertimbangkan membawa anak dan istri ke Korea, tapi anak masih kecil, masih sering tantrum," ucap Sugianto.

Kisah Sugianto semerbak di dunia maya, baik di Kabupaten Indramayu maupun secara nasional di seluruh Indonesia.

Penghargaan dari Presiden Korea Selatan tentunya tidak mudah didapatkan. Secara tidak langsung, Sugianto sudah mengharumkan nama Indramayu di bumi Nusantara, juga Indonesia di Negeri Gingseng.

Aksi Heroik Sugianto

Sekadar diketahui, mengutip dari detikNews, Sugianto menjadi pahlawan bagi warga lanjut usia (lansia) di salah satu desa Korea Selatan. Sugianto berlari bolak balik untuk mengevakuasi lansia saat kebakaran hutan terus mendekati permukiman.

Dilansir Yonhap, Rabu (2/4/2025), warga desa memuji orang-orang tersebut sebagai 'pahlawan tersembunyi' di tengah krisis kebakaran hutan hebat di Korsel. Orang-orang yang disebutnya itu ialah kepala desa Kim Pil-Kyung (56), kepala komunitas nelayan Yoo Myeong-shin (56) dan Sugianto (31).

Kebakaran hutan itu awalnya terjadi di Desa Uiseong pada 22 Maret. Api terus menyebar melalui Andong dan Cheongsong hingga perbatasan barat Desa Yeongdeok sekitar pukul 6 sore tanggal 25 Maret. Dalam 2 jam, api menyebar ke wilayah yang berjarak 25 Km di sisi timur.

Situasi saat itu sangat kacau dan listrik serta komunikasi lumpuh akibat kebakaran hutan. Hanya sedikit penduduk yang tahu pukul berapa kebakaran hutan itu tiba.

Sekitar pukul 19.40 waktu setempat, asap tebal sudah terlihat di luar. Pada pukul 20.00, banyak warga yang yakin api telah menjalar ke desa.

Sekitar 60 penduduk kota saat itu sedang berada di rumah atau bahkan sudah tertidur ketika kebakaran terjadi. Kepala desa, Kim, sempat keluar karena mencium bau aneh dan pergi ke sisi kanan dermaga.

Kepala komunitas Yoo kemudian pergi ke sisi kiri. Sementara, Sugianto pergi ke tengah untuk membangunkan penduduk desa dan mengevakuasi mereka.

"Kami sudah siarkan kepada mereka agar segera keluar, tetapi mereka tidak keluar juga. Jadi, kami bertiga membangunkan mereka dengan berteriak dan menyuruh mereka keluar," ujar Kim.

Sugianto menggendong tujuh lansia di punggungnya. Dia melakukannya dengan cara berlari bolak-balik dari rumah satu lansia ke lansia lain. Aksinya itu membuat lansia, yang sudah kesulitan bergerak, bisa selamat dari kebakaran hutan.

(sud/sud)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads