Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat merekomendasikan penetapan status siaga bencana hidrometeorologi basah mulai 1 November 2026 hingga 30 April 2027. Rekomendasi tersebut disampaikan menyusul hasil rapat koordinasi bersama BMKG, PVMBG, serta kepala pelaksana BPBD kabupaten/kota untuk mengantisipasi potensi bencana selama musim hujan.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun, mengatakan rekomendasi itu akan disampaikan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Penetapan status siaga masih menunggu Keputusan Gubernur (Kepgub).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Maka dihasilkan kesepakatan yang pertama ditetapkan bahwa kita kemungkinan akan menetapkan, tapi nanti tunggu keputusan Pak Gubernur ya, Kepgub-nya. Kita merekomendasikan kepada Pak Gubernur untuk menetapkan siaga hidrometeorologi basah per tanggal 1 November 2026 sampai dengan 30 April 2027," ujar Teten saat dikonfirmasi, Kamis (29/10/2026).
Rekomendasi tersebut menjadi langkah antisipasi menghadapi potensi bencana yang mengiringi musim hujan, mulai dari banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, hingga tanah longsor. Meski musim hujan diperkirakan datang lebih lambat, ancaman bencana tetap perlu diwaspadai.
Berdasarkan prakiraan BMKG, sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi mulai memasuki musim hujan pada November 2026, dengan puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Februari 2027.
BPBD Jabar juga menerima laporan mengenai perkembangan kondisi cuaca dan potensi bencana di sejumlah daerah. Teten menyebut beberapa wilayah mulai mengalami hujan, sementara daerah lain masih menghadapi kekeringan.
"Di beberapa daerah memang sudah terindikasi ada hujan, juga ada cuaca ekstrem di Kabupaten Bandung Barat. Kemudian di beberapa kabupaten/kota terutama di daerah Pantura masih kekeringan sebagian," katanya.
Selain merekomendasikan penetapan status siaga tingkat provinsi, BPBD Jabar mulai memetakan wilayah yang berpotensi mengalami gerakan tanah. Pemetaan dilakukan dengan mengacu pada rencana kontingensi yang dimiliki masing-masing kabupaten/kota.
Langkah tersebut mencakup identifikasi kebutuhan penanganan bencana, baik dari sisi sumber daya manusia maupun logistik. Dengan pemetaan itu, pemerintah daerah diharapkan dapat menyiapkan langkah penanggulangan sesuai karakteristik risiko di wilayah masing-masing.
Teten mengatakan pemerintah provinsi juga telah mengirimkan surat edaran gubernur kepada seluruh kepala perangkat daerah serta bupati dan wali kota terkait kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi basah.
"Sudah mulai memetakan ya. Termasuk kita juga sudah memberikan surat edaran Gubernur kepada seluruh kepala perangkat daerah maupun kepada Bupati/Wali Kota terkait kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana hidrometeorologi basah," ujarnya.
"Ini sudah kita sampaikan juga kan, itu apa saja yang harus dilakukan, dinas ini melakukan apa, dinas ini melakukan apa, kabupaten/kota ini melakukan apa saja, seperti itu. Kita berikhtiar, mudah-mudahan tidak terjadi bencana," lanjutnya.
Imbauan Waspada bagi Warga
Di sisi lain, BPBD Jabar mengingatkan masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana agar memahami risiko di lingkungan tempat tinggalnya. Warga juga diminta mengenali jalur evakuasi serta segera menyelamatkan diri apabila muncul tanda-tanda alam yang mengindikasikan potensi bencana.
Teten menyarankan masyarakat memanfaatkan aplikasi InaRISK Personal untuk mengetahui potensi bencana di lokasi tempat tinggal serta langkah yang perlu dilakukan untuk mengurangi risiko.
"Di sana akan tahu lokasi ini potensi bencananya apa saja dan apa saja yang harus dilakukannya. Kemudian di Barata juga sudah ada titik-titik kumpulnya, evakuasinya ke daerah mana saja dan apa saja yang harus dilakukan," tuturnya.
Ia juga mengingatkan warga agar tidak menunda evakuasi ketika mendengar bunyi atau melihat tanda-tanda alam yang mengarah pada kemungkinan banjir maupun longsor.
"Yang berikutnya adalah apabila terjadi bunyi-bunyi atau tanda-tanda alam kemungkinan terjadi bencana banjir longsor, itu segera ya, segera keluar, jangan sampai menunggu dulu evakuasi-evakuasi yang lain," kata Teten.
(bba/orb)
