5 Warisan Budaya Jawa Barat yang Diakui UNESCO

5 Warisan Budaya Jawa Barat yang Diakui UNESCO

Yogi Bagus Prasetyo - detikJabar
Minggu, 18 Okt 2026 15:00 WIB
Pencak Silat
Pencak Silat (Foto: dok Kemenpora)
Bandung -

Jawa Barat memiliki kekayaan budaya yang tidak hanya hidup di tengah masyarakat, tetapi juga mendapat pengakuan di tingkat dunia.

Kesenian dan tradisi dari wilayah Sunda, Cirebon, serta daerah lain di Jawa Barat terus diwariskan melalui pertunjukan, pendidikan, upacara adat, kerajinan, dan kehidupan sehari-hari.

Meski begitu, sejumlah warisan tersebut memiliki akar yang kuat di Jawa Barat dan berkembang sebagai bagian dari identitas masyarakat Sunda serta budaya Cirebon. Berikut lima warisan budaya yang dapat dikaitkan dengan Jawa Barat dan telah tercatat dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Angklung

Angklung merupakan warisan budaya Jawa Barat yang paling kuat kaitannya dengan pengakuan UNESCO. Alat musik ini dibuat dari bambu dan dimainkan dengan cara digoyangkan sehingga menghasilkan bunyi khas.

Satu angklung biasanya menghasilkan satu nada atau akor tertentu, sehingga sebuah lagu membutuhkan kerja sama banyak pemain.

ADVERTISEMENT

UNESCO menetapkan Indonesian Angklung ke dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2010. Dalam dokumen keputusan UNESCO, angklung disebut memiliki hubungan erat dengan identitas budaya masyarakat Jawa Barat dan Banten.

Cara memainkannya yang dilakukan secara berkelompok juga mengajarkan kerja sama, sikap saling menghormati, disiplin, tanggung jawab, konsentrasi, serta keharmonisan sosial.

Dalam tradisi masyarakat Sunda sendiri, angklung dahulu berkaitan dengan kegiatan agraris dan upacara tertentu. Bunyi angklung dipercaya memiliki hubungan dengan harapan terhadap kesuburan, keberhasilan panen, dan keseimbangan kehidupan. Seiring waktu, angklung berkembang menjadi alat musik pendidikan dan pertunjukan.

Perkembangan angklung modern tidak dapat dilepaskan dari Daeng Soetigna. Pada 1938, ia memperkenalkan angklung dengan tangga nada diatonis yang kemudian dikenal sebagai angklung padaeng.

Dari inovasi tersebut membuat angklung dapat memainkan lagu-lagu modern dan digunakan dalam pendidikan musik. Tak hanya itu, kini angklung dapat dipelajari di sekolah, sanggar, komunitas, dan pusat kebudayaan seperti Saung Angklung Udjo di Bandung.

2. Wayang

Wayang merupakan seni pertunjukan yang memadukan cerita, seni rupa, musik, sastra, dan kemampuan seorang dalang. UNESCO memasukkan Wayang Puppet Theatre ke dalam Representative List pada 2008, setelah sebelumnya ditetapkan sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 2003.

Di Jawa Barat sendiri, bentuk wayang yang paling dikenal adalah wayang golek. Boneka wayang dibuat dari kayu dan dimainkan oleh seorang dalang yang mengatur gerak, suara, dialog, serta jalannya cerita.

Pertunjukan biasanya diiringi gamelan Sunda dan dapat menampilkan kisah dari Mahabharata, Ramayana, cerita kerajaan, legenda, maupun cerita kehidupan masyarakat.

Wayang golek memiliki ciri khas yang membedakannya dari wayang kulit di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bentuk bonekanya tiga dimensi, dengan kepala dan tangan yang dapat digerakkan. Karakter tokoh juga diperkuat melalui bentuk wajah, warna pakaian, suara, serta gaya bicara.

Pertunjukan wayang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Di dalamnya terdapat nasihat moral, kritik sosial, humor, filosofi kepemimpinan, serta gambaran hubungan manusia dengan lingkungan. Dalang sering menyisipkan isu kehidupan sehari-hari sehingga pertunjukan terasa dekat dengan penonton.

Di Bandung dan berbagai daerah Priangan, wayang golek masih dapat ditemukan dalam acara kebudayaan, hajatan, festival, serta pertunjukan khusus. Tantangan pelestariannya terletak pada regenerasi dalang, pembuat boneka, penabuh gamelan, dan penonton.

3. Pencak Silat

Ilustrasi pencak silat.Ilustrasi pencak silat. Foto: jabarprov.go.id

Pencak silat merupakan tradisi bela diri yang berkembang di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat. UNESCO menetapkan Traditions of Pencak Silat ke dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2019.

UNESCO menjelaskan bahwa pencak silat tidak hanya mencakup unsur olahraga dan bela diri, tetapi juga memiliki dimensi mental-spiritual, seni, pendidikan, serta hubungan sosial.

Di Jawa Barat, pencak silat berkembang dalam berbagai aliran dan gaya yang berkaitan dengan budaya Sunda. Gerakannya dapat dipadukan dengan musik tradisional, kendang penca, busana khas, serta tata cara tertentu.

Dalam pertunjukan, pencak silat sering terlihat sebagai rangkaian gerak yang indah, tetapi tetap menyimpan teknik pertahanan diri.

Tradisi ini biasanya diwariskan melalui perguruan atau padepokan. Seorang murid tidak hanya belajar menyerang dan bertahan, tetapi juga diajarkan etika, pengendalian diri, penghormatan kepada guru, serta tanggung jawab untuk tidak menggunakan kemampuan secara sembarangan.

Pencak silat juga hadir dalam berbagai acara adat dan pertunjukan masyarakat. Musik pengiring, pantun, salam, dan nasihat menjadi bagian dari proses pembelajaran.

UNESCO menyebut tradisi pencak silat dapat memperkuat persahabatan, menjaga keteraturan sosial, serta menjadi hiburan dalam upacara atau perayaan.

Di Jawa Barat, pencak silat dapat ditemukan dalam festival budaya, pertunjukan seni, kegiatan pendidikan, dan latihan rutin di sanggar. Keberadaannya menunjukkan bahwa bela diri dapat menjadi bagian dari identitas budaya sekaligus sarana pembentukan karakter generasi muda.

4. Batik

Perajin menjemur kain batik yang telah direbus melalui kompor biogas kotoran sapi di desa Kalibaru, Tengahtani, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026). Perajin batik di desa itu memanfaatkan biogas kotoran sapi yang diolah menjadi biogas untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi kompor saat proses pembuatan batik. ANTARA FOTO/Dedi SuwidiantoroPerajin menjemur kain batik yang telah direbus melalui kompor biogas kotoran sapi di desa Kalibaru, Tengahtani, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026). Perajin batik di desa itu memanfaatkan biogas kotoran sapi yang diolah menjadi biogas untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi kompor saat proses pembuatan batik. ANTARA FOTO/Dedi Suwidiantoro Foto: ANTARA FOTO/Dedi Suwidiantoro

Batik Indonesia ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2009. Pengakuan tersebut tidak hanya ditujukan pada kain atau motifnya, tetapi juga mencakup teknik pembuatan, pengetahuan, simbol, nilai sosial, dan tradisi yang berkembang di balik batik.

Jawa Barat memiliki sejumlah tradisi batik yang khas, terutama Batik Cirebon. Salah satu motif yang paling dikenal adalah mega mendung, yaitu motif awan dengan bentuk berlapis dan warna yang kuat.

Motif tersebut memiliki hubungan dengan karakter budaya pesisir Cirebon yang terbentuk melalui pertemuan berbagai pengaruh budaya.

Selain mega mendung, Cirebon memiliki tradisi batik dari kawasan Trusmi yang menjadi salah satu sentra batik penting di Jawa Barat. Proses pembuatannya meliputi pemilihan kain, pembuatan pola, pencantingan, pewarnaan, pelorodan, hingga penyelesaian akhir.

Tidak sampai disitu, batik juga rupanya memiliki fungsi sosial. Kain batik digunakan dalam acara adat, upacara keluarga, kegiatan keagamaan, serta berbagai peristiwa penting. Motif dan warna tertentu dapat memiliki makna simbolis, meskipun pemaknaannya berbeda-beda sesuai tradisi daerah.

5. Gamelan

Gamelan ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2021. UNESCO mencatat gamelan sebagai ansambel musik tradisional Indonesia yang berkembang di berbagai wilayah, termasuk Jawa, Bali, dan Sunda.

Di Jawa Barat, gamelan berkembang dalam bentuk yang berkaitan dengan musik Sunda. Salah satu jenis yang dikenal adalah gamelan degung. Ansambel ini menggunakan sejumlah instrumen seperti bonang, saron, jengglong, kendang, gong, dan suling.

Suaranya yang memiliki karakter lembut, tenang, dan sering digunakan untuk mengiringi tari atau tembang Sunda. Selain itu, gamelan juga tidak dimainkan secara individual sama seperti angklung.

Setiap alat memiliki fungsi berbeda dan harus dimainkan dengan mengikuti irama bersama. Karena itu, gamelan mengajarkan keselarasan, kepekaan mendengar, kedisiplinan, serta kemampuan menempatkan diri dalam kelompok.

Dalam budaya Sunda, gamelan dapat mengiringi pertunjukan wayang golek, tari tradisional, upacara, penyambutan tamu, dan kegiatan masyarakat. Musiknya juga berkembang di lingkungan pendidikan, sanggar seni, dan pertunjukan modern.

(yum/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads