Bidadari adalah makhluk tak kasat mata yang biasanya berada di tempat-tempat suci dan tidak terjamah manusia. Dalam kosmologi Sunda, jikapun mereka turun ke dunia pasti ada urusan penting, di antaranya mengurus padi. Para bidadari juga sering dikisahkan sekali waktu mandi di kubangan mata air yang tersembunyi di tengah hutan, jauh dari jangkauan manusia.
Nah! Dalam sastra lisan Sunda, ada carita pantun yang mengisahkan para bidadari itu turun ke dunia justru menjadi sosok yang lekat dengan nuansa profan (kurang suci). Mereka turun ke bumi sebagai Ronggeng.
Namun, bukan tanpa alasan. Kehadiran mereka sebagai penari cantik molek yang selalu hadir dalam ramainya pesta-pesta punya tujuan yang jelas. Cerita ini terdapat dalam carita pantun dari Bogor atau yang lebih akrab disebut Pantun Bogor berjudul "Ronggeng Tujuh Kala Sirna". Bagaimana cerita para bidadari itu? Simak yuk!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berawal dari Dunia yang Semerawut
Tatanan dunia menurut kosmologi Sunda ada tiga: Kahiangan, dunia, dan neraka (Buana Nyungcung, Buana Pancatengah, Buana Larang). Cerita bidadari ini bermula ketika tatanan dunia manusia atau Buana Pancatengah kacau balau karena pengaruh Sunda-Pajajaran tergantikan oleh pengaruh Banten.
Di dunia ini, banyak orang berjaya tapi menyengsara rakyat, banyak agamawan yang menyelewengkan kewenangan keagamaannya, banyak lelaki yang menyakiti istrinya, banyak petani yang meninggalkan cara bertani dari leluhurnya, dan banyak lagi banyak-banyak yang lainnya.
Ketika itu, Sanghyang Kala, yakni dewa yang bertugas menyelaraskan manusia di bumi telah melihat gejala-gejala ketidakberesan. Maka, dia punya formula untuk membereskannya.
Cara membereskan dunia adalah dengan menjebak mereka yang dianggap 'kacau' ke dalam jebakan Ronggeng. Pejabat, agamawan, orang kaya, petani sekalipun kalau telah jauh dari moralitas maka harus dijebak supaya rakyat tahu keborokan mereka yang sesungguhnya.
7 Bidadari dan Tugasnya
Tujuh bidadari lantas ditugaskan Sanghyang Kala untuk turun ke dunia. Tapi, mereka yang bersifat ruh, tidak akan tampak di mata manusia, kecuali mereka menampakkan diri dalam wujud yang mereka kehendaki.
Kemampuan mereka bukan hanya berubah bentuk, tetapi juga mengubah bentuk. Contoh kasus, sebagaimana menjadi wasiat Aki Lengser yang merupakan saudara kembar Sanghyang Kala, jika ada lelaki yang kepincut atas kecantikan mereka sebagai ronggeng, lantas mereka itu dibawa 'ngamar', para bidadari dapat berlepas diri dari lelaki hidung belang.
Sebagai gantinya, para bidadari akan mengubah gedebog pisan supaya di mata lelaki, gedebog pisan itu seolah-olah ronggeng. Dengan segala nasihat tentang cara menghadapi manusia, para bidadari itu merasa lebih siap untuk mencoba dunia baru dalam upaya membereskan dunia.
Mengutip naskah Carita Pantun "Ronggeng Tujuh Kala Sirna" yang dikumpulkan Budak Satepak tertanggal 13 Februari 2002, dikatakan ketujuh bidadari itu punya tugas yang berbeda-beda.
"Laju Sang Déwa Hiyang Kala nyalukan tujuh putri Bidadari; anu cikal, ngaranna Nyai Putri Maya Indung; anu sadekna, ngaranna Nyai Putri, Maya Kayangan; anu katilu, ngaranna Nyai Putri, Arum Sinayungan; anu panengah, ngaranna Nyai Putri, Mayang Mangarang; anu kalima, ngaranna Nyai Putri, Mayang Mangsaweuhan; anu pangais bungsu, ngaranna Nyai Putri, Arum Tineung; anu bungsu, ngaranna Nyai Putri, Arum Wiyaga." tulis Budak Satepak.
Tugas Masing-Masing Ronggeng
Sebelum mereka turun ke bumi, para bidadari telah menerima tugas masing-masing. Detailnya akan mereka dapatkan ketika bertemu dengan Ki Lengser di Kawah Hiyang.
Pertama, Ronggeng Maya Indung bertugas untuk menggoda mereka yang sedang berada dalam kejayaan. Dengan syarat, kejayaan yang dimiliki itu dipakai untuk menyengsarakan rakyat. Ronggeng bertugas membuat kelompok manusia seperti ini tergelincir ke dalam kehinaan.
Kedua, Ronggeng Maya Kayangan bertugas untuk menggoda mereka yang menjadi pandita atau kaum agamawan secara umum. Yang digoda hanyalah kaum agamawan yang melenceng dari aturan-aturan agamanya. Mereka harus tergelincir.
Ketiga, Ronggeng Arum Sinayungan bertugas untuk menggoda mereka yang berpangkat tinggi tapi melakukan 'abuse of power', penyelewengan kewenangan.
Keempat, Ronggeng Mayang Mangarang bertugas menggoda para petani zaman kiwari yang telah meninggalkan cara-cara tani tradisi: "Goda ku dia anu tarani, tapi arudar tina tali-paranti".
Kelima, Ronggeng Mayang Mangsaweuhan kebagian tugas menggoda orang-orang kaya yang mendapat kekayaannya dengan cara tidak wajar. Dengan ketelitian bidadari dan kemolekan Ronggeng, Mayang Mangsaweuhan akan dapat dengan akurat menganalisa jenis orang seperti ini. Orang-orang seperti ini patut dihinakan.
Keenam, Ronggeng Arum Tineung bertugas untuk menggoda para lelaki yang hobinya melacur dan menyakiti istrinya sendiri.
Ketujuh, Ronggeng Arum Wiyaga. Berbeda dari keenam saudarinya, Arum Wiyaga tidak ditugaskan menggoda kaum adam, melainkan secara langsung membantu kaum hawa. Arum Wiyaga dalam kisah itu diceritakan membantu Nyai Putri Purnamasari, putri Pajajaran yang tinggal di sekitar muara Cimandiri, melawan serangan para bajo atau bajak laut.
Secara utuh, carita pantun 'Ronggeng Tujuh Kala Sirna' ini merupakan lanjutan dari carita pantun yang lebih masyhur, 'Dadap Malang Sisi Cimandiri'. Di dalam kisah ronggeng ini, tampil kembali Rakean Kalang Sunda, seorang pengawal kerajaan Pajajaran yang mengutuk dirinya jadi seekor lutung, karena takut mencederai kesetiaan kepada Nyai Putri Purnamasari yang menjadi jungjunannya.
Rakean Kalang Sunda berpikiran daripada tumbuh hasrat cinta kepada Nyai Putri Purnamasari, mending dia menjadi lutung yang bertengger di Pohon Dadap Melintang Pinggir Sungai Cimandiri. Setelah melepaskan diri dari kutukan namun tampil dalam tubuh pria berwajah buruk, Rakean Kalang Sunda kemudian menjadi panjak atau nayaga untuk para ronggeng.
(iqk/iqk)
