Batik Ciprat Sukabumi, Dari Terapi Menjadi Karya Mendunia

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Jumat, 02 Okt 2026 16:02 WIB
Foto: Istimewa
Sukabumi -

Di bawah naungan selasar Sentra Phalamartha di Kebon Randu, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, selembar kain mori putih terbentang rapi di atas kerangka pipa persegi.

Pagi itu, semilir angin membawa aroma khas lelehan malam dan pekatnya cairan pewarna tekstil. Di sekeliling kain, tampak jemari yang bergerak perlahan, memegang kuas kecil dengan penuh kehati-hatian.

Mereka adalah para penerima manfaat penyandang disabilitas mental yang tengah merajut kembali rasa percaya diri melalui selembar kain batik.

Mengisi momentum Hari Batik Nasional, suasana menjadi kian hangat ketika puluhan pasang mata mungil murid Raudhatul Athfal (RA) Luqmanul Hakim Cibadak hadir dan larut dalam ruang kreatif yang sama.

Sebelum warna-warni semarak menari di atas kain, lelehan lilin malam terlebih dahulu dicapkan membentuk pola. Cetakan capnya terbilang unik dan beragam, terbuat dari lempengan seng bermotif kelopak bunga, daun maple, ornamen lengkung, hingga fauna seperti lebah dan flamingo yang tertancap pada balok-balok kayu.

Dari batas lilin itulah, warga binaan menyapukan kuas berisi warna merah muda, kuning cerah, hijau, dan cokelat ke atas permukaan mori dengan tatapan fokus.

Siapa sangka, batik cipratan dengan berbagai corak ini dibuat oleh ODGJ. Karena keeksotisannya ini, batik tersebut sukses tembus pasar antar pulau Foto: Istimewa

Tawa polos anak-anak berseragam hijau-putih seketika memecah keheningan selasar. Dengan bimbingan penuh kesabaran dari para guru dan instruktur, tangan-tangan mungil itu mencelupkan kuas ke dalam gelas plastik dan mengibaskannya ke udara bebas.

Percikan cairan warna ungu, kuning, dan merah muda berhamburan, mendarat di atas serat kain putih tanpa aturan baku. Tak ada sekat pembatas, tak ada rasa canggung.

Yang ada hanyalah perpaduan tawa riang dan ketelatenan, melahirkan keindahan visual abstrak yang dinamai Batik Ciprat.

Instruktur Batik Sentra Phalamartha, Edeh Rukoyah, memperhatikan setiap gerak tangan warga binaan dengan senyum bangga. Baginya, batik ciprat bukan sekadar kain bermotif, melainkan sarana terapi dan jalan kemandirian.

"Batik ini warisan bangsa, harus kita jaga bersama jangan sampai diakui negara lain. Di sini prosesnya sudah berjalan sekitar dua tahun, dari kain putih polos sampai bercorak. Karena kondisi warga binaan kami ODGJ, prosesnya tidak bisa dilepas begitu saja. Kami mendampingi setiap hari, bersama-sama mencipratkan warna dan menikmati setiap prosesnya. Kalaupun ada sapuan yang meleset atau kurang pas, justru dari situlah lahir gradasi baru yang membuat hasilnya semakin estetik," tutur Edeh.

Ketelatenan itu kini berbuah manis. Dari sudut Sukabumi, karya tangan warga binaan telah melanglang buana menembus batas pulau. Lebih dari seribu helai kain batik berukuran 2,15 x 1,25 meter telah diproduksi dan dipasarkan ke berbagai penjuru tanah air, mulai dari pelosok Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga tanah Papua dan Nusa Tenggara Timur.

Moncernya pasar batik ciprat ini tak lepas dari kebijakan Kementerian Sosial yang mewajibkan seluruh pegawainya mengenakan pakaian batik ciprat setiap hari Selasa.

Aturan tersebut membuka pasar tersendiri melalui jejaring sentra dan satuan kerja Kemensos di berbagai daerah. Untuk harga jual, kain berbahan mori dipatok Rp 155.000 per lembar, sementara katun primisima yang lebih halus dan adem dibanderol Rp 180.000.

Kehangatan interaksi ini turut membekas bagi Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Guru Raudhatul Athfal (PC IGRA) Cibadak, Lia Muhafilah, S.Pd.I. Baginya, mengajak anak-anak melihat langsung proses membatik bersama warga binaan memberikan pelajaran hidup yang jauh melampaui lembar buku pelajaran.

"Anak-anak belajar mengenali identitas bangsanya bukan sekadar dengan memakai baju batik ke sekolah, melainkan menyentuh langsung proses pembuatannya. Mereka melihat sendiri bagaimana kesabaran dan keindahan berpadu. Antusiasmenya luar biasa, bukan cuma muridnya tapi gurunya juga ikut senang," ungkap Lia.

Siapa sangka, batik cipratan dengan berbagai corak ini dibuat oleh ODGJ. Karena keeksotisannya ini, batik tersebut sukses tembus pasar antar pulau Foto: Istimewa

Melihat manfaat edukasi yang begitu besar, Lia berencana memperluas kolaborasi tersebut. Ia berniat mengoordinasikan sekolah-sekolah di bawah naungan PC IGRA se-Kecamatan Cibadak agar dapat menjadwalkan kunjungan serupa secara bertahap.

"Pihak Sentra Phalamartha sangat menyambut baik. Insyaallah ke depan kami di jajaran PC IGRA akan mengajak lembaga-lembaga RA lainnya di Cibadak untuk datang dan belajar langsung ke sini," tambah Lia.

Keterbukaan itu ditegaskan oleh Kepala Sentra Phalamartha Kemensos Sukabumi, Febrialdi. Ia menyatakan ruang belajar dan bertumbuh di sentra terbuka seluas-luasnya untuk siapa saja tanpa dipungut biaya sepeser pun.

"Pelatihan vokasional batik ciprat ini sepenuhnya gratis. Masyarakat, sekolah, maupun kelompok disabilitas bisa mengaksesnya. Polanya sangat fleksibel, bisa datang langsung ke sentra kami, atau kami yang melakukan sistem jemput bola ke lokasi pemohon. Kami pernah memberikan pelatihan ke SLB Handayani, LKS, hingga kader Posyandu," terang Febrialdi.

Febrialdi berharap kegiatan membatik yang dijalani warga binaan setiap hari ini terus bergulir dan memberi manfaat ganda.

"Kami ingin kegiatan positif di sentra ini memberi dampak nyata. Warga binaan kami merasa dihargai dan berdaya melalui karya nyata, sementara masyarakat di luar sana bisa belajar dan melihat potensi luar biasa yang mereka miliki," pungkasnya.

Di selembar kain yang kini penuh taburan rona warna-warni, tersimpan sebuah pesan bisu: bahwa keterbatasan tak pernah mampu memadamkan keindahan seni, dan dari balik cipratan warna itu, asa untuk pulih dan berdaya senantiasa menyala.





Simak Video "Menikmati Kesegaran Kelapa Pasca Berenang di Sukabumi"

(sya/tya)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork