Saat Kopi dan Rempah Jadi Bagian Pertunjukan Seni Multisensori di Majalengka

Saat Kopi dan Rempah Jadi Bagian Pertunjukan Seni Multisensori di Majalengka

Erick Disy Darmawan - detikJabar
Minggu, 13 Sep 2026 17:03 WIB
Pertunjukan seni Multisensorial di Majalengka
Foto: Erick Disy Darmawan
Majalengka -

Pertunjukan seni biasanya mengandalkan apa yang dilihat dan didengar penonton. Namun, pertunjukan multisensori yang digelar di Kabupaten Majalengka menawarkan pengalaman berbeda.

Kopi, teh, dan rempah tak hanya menjadi produk, tetapi turut menjadi bagian dari pertunjukan.

Pertunjukan bertajuk Dapur itu digelar di Cabanas Outdoor Venue Hotel Metland Smara Kertajati, Sabtu (12/9/2026) malam. Pertunjukan tersebut merupakan kolaborasi tinyUH dan Ocky Sandi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ocky Sandi yang terlibat sebagai penulis naskah, dramaturg sekaligus pemain mengatakan, pertunjukan tersebut menjadi cara untuk memperkenalkan produk usaha melalui seni.

"Jadi ini tuh sederhananya upaya kami untuk memperkenalkan diri melalui seni pertunjukan," kata Ocky kepada detikJabar.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, para pelaku usaha yang terlibat juga memiliki kedekatan dengan dunia kesenian. Hal itu kemudian melahirkan gagasan untuk mempertemukan produk dengan pertunjukan.

Konsep tersebut dinilai menarik karena penonton tidak hanya menikmati pertunjukan melalui audio dan visual. Ada pula sesuatu yang dapat dimakan dan diminum sebagai bagian dari pengalaman pertunjukan.

"Yang disebut pertunjukan multisensori itu jarang dilakukan. Jadi biasanya kalau pertunjukan kan hanya audio dan visual, sekarang ada sesuatu yang bisa diminum," ujarnya.

Dapur, Kopi dan Jejak Kolonialisme

Cerita dalam pertunjukan tersebut berangkat dari ruang yang sangat dekat dengan kehidupan manusia, yakni dapur.

Ocky mengatakan, dapur sejak dahulu bukan sekadar tempat untuk menyiapkan makanan. Di dalamnya terdapat kehidupan, nilai, hingga aktivitas perdagangan yang kemudian berkembang dan memiliki kaitan dengan perjalanan sejarah.

Meski teknologi membuat aktivitas di dapur semakin praktis, menurut Ocky, makna dasar dari ruang tersebut tetap penting untuk diingat.

Pertunjukan itu kemudian membawa penonton menelusuri bagaimana dapur dan komoditas seperti kopi serta rempah pernah memiliki pengaruh besar terhadap perjalanan dunia.

"Di tengah-tengah pertunjukan ini akan ada narasi dibawakan oleh seorang penjelajah. Dia menceritakan tentang bagaimana dapur ini pernah mengubah arah dunia," tuturnya.

Pertunjukan seni Multisensorial di MajalengkaPertunjukan seni Multisensorial di Majalengka Foto: Erick Disy Darmawan

Kedatangan bangsa-bangsa Eropa untuk mencari komoditas dari Nusantara kemudian menjadi bagian dari narasi pertunjukan. Cerita itu ditarik hingga persoalan yang masih relevan dengan kehidupan saat ini.

Dalam pertunjukan, unsur bunyi menjadi salah satu kekuatan artistik. Ocky mengambil peran melalui keaktoran dan narasi, sementara para kolaborator membangun musikalitas serta prosesi penyuguhan.

Gerakan saat menyeduh minuman juga menjadi bagian dari dramaturgi pertunjukan.

Di balik kopi dan rempah yang disuguhkan, Ocky membawa pesan tentang hubungan antara nilai kemanusiaan dan kepentingan ekonomi.

Menurutnya, keduanya semestinya berjalan beriringan. Sebab ketika kepentingan perdagangan berkembang tanpa keseimbangan, manusia dan nilai yang dimilikinya berpotensi terpinggirkan.

"Pertunjukan ini mencoba untuk mengingatkan kita semua bahwa nilai dan kapital itu harus berjalan beriringan," katanya.

Ia juga mengajak penonton untuk kembali menyadari apa yang dimiliki dan merawatnya. Gagasan tersebut sekaligus menjadi refleksi terhadap sejarah ketika kekayaan alam menjadi alasan kedatangan bangsa asing ke Nusantara.

Ocky menggambarkan pesan itu melalui ajakan agar masyarakat tidak kehilangan kendali atas apa yang dimilikinya sendiri.

"Untuk kita, mari kita rawat yang kita punya. Mari jadi raja dan ratu yang pandai merawat kerajaannya sendiri," ucapnya.

Menurutnya, masyarakat tetap bisa membuka diri kepada pihak luar. Namun, hubungan tersebut semestinya berlangsung secara adil dan tidak kembali menempatkan masyarakat sebagai pihak yang hanya menyediakan sumber daya.

Selain membawa isu ekonomi dan sejarah, pertunjukan tersebut juga mengajak penonton mengingat kembali cara manusia memperlakukan sesuatu yang masuk ke dalam tubuh.

Prosesi penyuguhan menjadi bagian penting dalam pertunjukan. Bagi Ocky, makanan dan minuman seharusnya tidak diperlakukan secara sembarangan karena berkaitan langsung dengan tubuh manusia.

Ia menilai perkembangan teknologi dan ritme kehidupan yang semakin cepat membuat manusia terkadang melupakan perhatian terhadap hal-hal sederhana, termasuk proses menyiapkan dan menikmati makanan atau minuman.

"Prosesi penyuguhan ini juga menjadi bahwa kami masih meyakini sesuatu yang masuk ke dalam perut itu harus dipersiapkan benar-benar," ujarnya.

Melalui pertunjukan Dapur, kopi dan rempah akhirnya tidak berhenti sebagai sesuatu yang sekadar disajikan untuk diminum. Keduanya menjadi medium untuk membawa penonton menyusuri hubungan antara dapur, sejarah, perdagangan, kesenian, hingga cara manusia merawat apa yang dimilikinya.



(tya/tya)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads