Mitos Onom Penguasa Lahan Gambut Basah Tanah Jawa di Ciamis

Unak-anik Jabar

Mitos Onom Penguasa Lahan Gambut Basah Tanah Jawa di Ciamis

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Kamis, 20 Agu 2026 07:00 WIB
Woman in white dress with the boy walking in haunted forest,3d rendering
ilusttrasi (Foto: Getty Images/chainatp).
Bandung -

Jawa Barat pernah punya lahan gambut basah terbesar di Tanah Jawa yang luasnya sekitar 2.000 hektare, meski kini lahan itu telah bertransformasi menjadi lahan persawahan yang subur. Lahan gambut basah ini tepatnya di kawasan Lakbok, Kabupaten Ciamis yang terkenal dengan Rawa Lakbok.

Lahan yang sunyi dan jarang terjamah itu-kecuali setelah proyek besar pembukaan Rawa Lakbok menjadi lahan sawah yang diinisiasi Bupati Sukapura, Raden Adipati Aria Wiratanuningrat sekitar tahun 1924-tentu menjadi hunian yang nyaman untuk para makhluk halus.

Makhluk halus yang khas di sekitar rawa ini adalah Onom. Makhluk ini dianggap sebagai penguasa di situ. Sebab, perbincangan tentang Onom telah banyak disinggung oleh orang-orang terdahulu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai siluman, tidak ada yang tahu persis bagaimana rupa mereka. Orang-orang hanya mengenal tempat tinggal para siluman itu di Rawa Onom dan Rawa Lakbok.

Siapa itu Onom?

Menurut R.A. Danadibrata dalam buku 'Onom dan Rawa Lakbok' (Kiblat Buku Utama, 2022), sebenarnya semua rawa yang ada di situ, yakni Onom, Lakbok 1, dan Lakbok 2 awalnya bernama Rawa Onom belaka. Di kemudian hari, rawa di bagian selatan Kota Banjar saat ini tersebut dinamai Rawa Lakbok.

ADVERTISEMENT

Makhluk ini sering kali bersinggungan dengan orang-orang yang kebetulan berada di sekitar rawa atau sedang menghadiri acara di mana Onom diberi tempat khusus di situ. Berikut ini persinggungan manusia dengan Onom yang pernah tercatat dalam literatur Sunda:

1. Onom Menyerupai Perempuan Cantik

Di silam masa, setiap tanggal 31 Agustus, ada perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina, ratu negeri Belanda yang digelar di sejumlah kota di negeri jajahan. Termasuk di pusat kota Ciamis. Orang-orang mengenal acara ini sebagai Pesta Raja.

Di sana, diadakan beragam hiburan yang menampilkan kesenian-kesenian saat itu. Dengan demikian, orang dari penjuru wilayah datang ke pusat kota untuk menikmati hiburan itu.

R.A. Danadibrata menuliskan kisah ini berdasarkan catatan R. Iskandar Bratanegara (lahir 29 Agustus 1895), seorang wadana di Ciamis, tentang seorang lelaki dari Bandung yang berkenalan dengan perempuan lokal.

Diceritakan, pada tahun sebelum 1930-an ini, lelaki tersebut berkenalan dengan perempuan yang dia temukan di antara banyak pengunjung Pesta Raja tersebut.

Kecantikan perempuan itu membuat si lelaki terpikat. Lalu, dengan kemahirannya, dia melakukan pendekatan. Dengan gaya pendekatan khas orang kota, perempuan setempat itu pun luluh sehingga keduanya membuat janji untuk keluar dari keriuhan pesta itu dan pergi jalan-jalan.

Mereka jalan-jalan sambil mengobrol saja sampai jauh dari keramaian. Hingga pada suatu tempat, perempuan itu tiba-tiba menghilang!

Lelaki itu melihat ke sekeliling. Sepi belaka! Ketika dia sadar perempuan itu sudah menghilang, tersadar pula dia sedang berada di tengah-tengah pekuburan. Lelaki itu ketakutan dan teriak-teriak minta tolong.

2. Perempuan Cantik di Tengah Hujan

Perjumpaan lain dengan Onom dicatat oleh seorang tokoh Muhammadiyah berjuluk Muallim. Namanya, Muallim Ahmad Syadili. Dia mengisahkan perjumpaannya dengan siluman ini dalam buku catatannya berjudul 'Hayang jadi Jalma Ngarti: Panineungan di Sakola jeung Pasantren (1921-1945)' (Unpad Press, 2019).

Syadili mengisahkan pengalamannya ketika menjadi santri dan melakukan perjalanan ke berbagai tempat, termasuk ketika harus berjalan kaki menembus wilayah hutan di sekitar Lakbok menuju Pamarican. Dia dan pamannya, teman dalam perjalanan itu, mengambil rute Manonjaya-Banjarsari-Pamarican.

"Waktu itu sudah Ashar. Saya berjalan kaki dengan bergegas. Di jalan yang agak datar, tiba-tiba tampak dari kejauhan ada seorang perempuan, memakai sandal selop, cara berjalannya juga santai, baju yang dipakainya pantas, seperti penampilan orang kota. Malah waktu itu saya agak sedikit guyon dengan paman, 'Silakan Mang! Tidak disangka di tengah-tengah hutan ada bintang!'. Pamanku tersenyum." tulis Muallim Syadili dalam bahasa Sunda.

Karena perempuan itu jalannya pelan, maka Syadili dan pamannya mendahuluinya sambil menyapa dengan ungkapan permisi. Perempuan itu pun menoleh dan menjawab silakan dengan ramah.

Selepas mendahului perempuan itu, jalan di tengah hutan itu dilanda hujan teramat deras. Mau bagaimana lagi, Syadili dan pamannya harus terus berjalan supaya sampai di perkampungan sebelum malam. Tak menghiraukan baju dan perbekalan yang basah kuyup.

Nah! Ketika tiba di tepi sungai untuk menyeberang menggunakan sebuah rakit yang disediakan warga setempat, dia melihat dari bibir sungai bahwa perempuan yang tadi dia dahului telah ada di seberang sungai. Tetapi, tampak bahwa baju yang dikenakan perempuan itu tidak basah sama sekali. Lagi pula gayanya sebagai 'perempuan kota' tidak lusuh, padahal sebelumnya hujan deras.

Di jalan selepas menyeberang sungai, Syadili dan pamannya kembali bisa mendahului perempuan itu karena jalan perempuan itu sangat pelan. Seperti pada pertemuan pertama, ketika mendahului, Syadili mengucap permisi. Perempuan itu pun kembali menjawab dengan ramah.

Beberapa langkah ke depan, Syadili iseng menoleh ke belakang. Perempuan itu hilang dari pandangan. Padahal, tidak ada jalan berbelok di sekitar itu.

"Paman, jangan-jangan itulah yang disebut 'urang Lakbok' (orang Lakbok)," tulisnya.

3. Bunyi Gamelan yang Membuat Linglung

Selain menyerupai perempuan, Onom juga sering menandai keberadaannya di dunia manusia dengan suara tabuhan gamelan. Bukan sepintas, melainkan bunyi gamelan yang tamat sampai subuh.

Sialnya, kalau orang berkata-kata tidak sopan atau bertindak sembrono ketika suara gamelan itu terdengar, orang itu sering linglung. Sebagai contoh, jika sedang berjalan di sekitar rawa itu lalu mendengar gamelan, menurut kepercayaan orang situ, sebaiknya diam. Jangan mengikuti sumber suara gamelan.

Mereka yang penasaran dengan suara gamelan itu akan terus melangkah ke depan, tetapi ketika mencari jejak langkahnya untuk kembali, hanya gelap gulita pandangan belaka. Jalan yang tadi dilintasi tidak ditemukan, akhirnya tersesat di wilayah itu.

R.A. Danadibrata mengulas tentang suara gamelan tersebut. Pengalaman banyak orang ini menjadi bahan untuk sastrawan Saini K.M. menulis bab khusus dalam cerita silat seri Kesatria Hutan Larangan, tentang Rawa Siluman.

Yang dimaksud Rawa Siluman dalam cerita itu tiada lain adalah kawasan Onom dan Lakbok. Di dalam kisahnya, Pangeran Muda, anak Pangeran Anggadipati yang bertugas menumpas pengacau di wilayah itu, mengikuti bunyi gamelan.

Ketika semakin jauh ke dalam hutan di sekitar rawa, suara gamelan makin tegas. Tetapi meski semakin tegas suara musik itu, bahkan suara tertawa-tawa seperti di pasar malam, tidak ada cahaya obor sedikit pun. Pangeran Muda memutuskan untuk kembali ke tempatnya semula, tapi jalan di belakang hanya gulita belaka. Dia linglung sampai pagi.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Di COP30, Indonesia-Kongo Ajak Semua Negara Kelola Lahan Gambut"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads