Nyuguh, Cara Warga Kampung Adat Kuta Ciamis Rawat Adat dan Alam

Nyuguh, Cara Warga Kampung Adat Kuta Ciamis Rawat Adat dan Alam

Dadang Hermansyah - detikJabar
Senin, 10 Agu 2026 12:30 WIB
Tradisi Nyuguh di Kampung Adat Kuta, Kabupaten Ciamis.
Tradisi Nyuguh di Kampung Adat Kuta, Kabupaten Ciamis. (Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar)
Ciamis -

Langit cerah di Kampung Adat Kuta, Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Minggu (9/8/2026) pagi, kala warga mulai berdatangan dan berkumpul di alun-alun kampung.

Suasana khas Sunda begitu terasa. Sebagian warga mengenakan pakaian tradisional, sementara alunan musik kesenian khas Kampung Kuta terdengar di tengah kerumunan. Hari itu, masyarakat bersiap menjalankan tradisi Nyuguh yang rutin digelar setiap 25 Sapar dalam kalender Islam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nyuguh bukan sekadar acara tahunan bagi warga Kampung Adat Kuta. Tradisi ini menjadi bagian dari adat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kampung Kuta sendiri dikenal memiliki sejumlah aturan adat yang masih dipertahankan hingga sekarang. Rumah warga, misalnya, tidak boleh dibangun menggunakan tembok. Kampung ini juga kerap disebut sebagai kampung dengan banyak pantangan atau pamali yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

ADVERTISEMENT

Di tengah kehidupan adat tersebut, Nyuguh tetap menjadi salah satu tradisi yang paling dinanti. Konon, tradisi ini berkaitan dengan masa lalu ketika Nyuguh dilakukan sebagai bentuk jamuan dan bekal bagi prajurit Kerajaan Pajajaran yang hijrah menuju Yogyakarta. Seiring waktu, maknanya terus diwariskan dan dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki serta hasil bumi yang diperoleh masyarakat.

Memasuki siang hari, suasana kampung semakin ramai. Pentas kesenian digelar dengan menampilkan Gondang Buhun, kesenian asli Kampung Kuta. Tabuhan dog-dog dan rengkong ikut mengiringi rangkaian kegiatan.

Kesenian tersebut turut menyambut rombongan pemerintah daerah dan tamu undangan yang hadir dalam pelaksanaan Nyuguh. Namun, puncak kegiatan baru berlangsung selepas salat Ashar.

Warga dan tamu undangan kemudian berjalan bersama menuju tepian Sungai Cijolang. Sungai tersebut menjadi batas antara wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Di sepanjang perjalanan, arak-arakan dongdang menarik perhatian. Warga membawa tandu berisi berbagai hasil bumi, ketupat, umbi-umbian, hingga perlengkapan sesaji. Tabuhan dog-dog mengiringi langkah warga menuju sungai. Bagi masyarakat Kampung Kuta, rangkaian tersebut menjadi simbol rasa syukur sekaligus semangat berbagi.

Sesampainya di tepian Sungai Cijolang, warga kemudian berkumpul untuk mengikuti doa bersama. Mereka memanjatkan doa kepada Tuhan agar diberikan keselamatan dan keberkahan.

Setelah doa selesai, suasana menjadi lebih cair. Warga dan tamu undangan duduk bersama. Makanan yang sebelumnya dibawa dalam arak-arakan kemudian disantap dan dibagikan. Tidak ada jarak antara warga dan tamu. Semua duduk bersama dan menikmati hidangan yang tersedia.

"Intinya adalah sedekah dan saling berbagi, sama seperti leluhur kami yang dahulu memberi jamuan kepada para prajurit," ujar Kepala Dusun Kampung Kuta, Didi Sardi.

Menurut Didi, Nyuguh tidak hanya berbicara tentang ritual. Di dalamnya terdapat pesan agar masyarakat tetap mengingat asal-usul sekaligus menjaga hubungan dengan sesama. "Nyuguh dilaksanakan satu tahun sekali, setiap tanggal 25 Sapar," kata Didi.

Tradisi tersebut juga menjadi cara masyarakat menjaga hubungan sosial sekaligus lingkungan di sekitar kampung. Keterlibatan hampir seluruh warga membuat Nyuguh terus memiliki ruang dalam kehidupan masyarakat Kampung Kuta.

Pemkab Ciamis pun melihat Nyuguh sebagai salah satu kekayaan budaya yang perlu dijaga. Sekretaris Disbudpora Ciamis Ayi Daud mengatakan, Ciamis memiliki banyak warisan budaya, baik berupa benda maupun tak benda. Kampung Adat Kuta adalah satu tempat yang masih menjaga warisan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. "Nyuguh sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah," ujar Ayi.

Tema Nyuguh kali ini mengusung "Ngamumule Adat Karuhun, Ngukuhkeun Deduluran Sapanjang Wates Lembur jeung Provinsi." Tema tersebut menunjukkan semangat untuk merawat adat leluhur dan juga memperkokoh persaudaraan masyarakat di wilayah perbatasan.

Makna menjaga alam juga ikut dibawa dalam rangkaian kegiatan. Pelaksanaan Nyuguh tahun ini dilengkapi dengan pameran produk UMKM dan kelompok perhutanan sosial. Warga juga mendapat bibit pohon secara gratis.

(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads