Ratusan keramik langka nan bersejarah kini tampil memikat dalam Museum Keramik di Kompleks Ponpes Dzikir Al Fath, Kota Sukabumi. Dari ribuan koleksi yang ada, 368 keping artefak pilihan telah berhasil dikurasi oleh tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan dibukukan ke dalam Katalog Keramik Koleksi Museum Prabu Siliwangi.
Koleksi keramik ini bukan sekadar pajangan. Setiap keping porselen dan batuan (stoneware) yang terpajang menyimpan narasi panjang tentang jejak diplomasi, maritim, dan perdagangan internasional Nusantara di masa lampau.
"Yang paling tua itu berasal dari abad ke-8 sampai 10 Masehi, mewakili Dinasti Tang, Song, hingga Qing. Kesimpulannya, sejak abad ke-10 Masehi di Nusantara ini sudah ada hubungan perdagangan dengan Tiongkok," ujar Pendiri Museum Prabu Siliwangi, KH Fajar Laksana, Jumat (7/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keberagaman Artefak Lintas Benua
Koleksi yang dipamerkan di Museum Keramik mencakup linimasa dan rentang geografis yang sangat luas. Mulai dari masa Tiongkok kuno, Asia Tenggara, Jepang, Eropa, Mesir hingga di Nusantara peninggalan era Majapahit.
Pada masa Tiongkok kuno, koleksi keramik yang dimiliki museum ini dimulai dari era Dinasti Tang (abad 7-10 M) yang dikenal dengan keramik tiga warna (Changsha), hingga porselen biru-putih (blue-underglazed) dari era Dinasti Ming dan Qing.
Kemudian untuk koleksi Asia Tenggara meliputi keramik Vietnam (abad 14-16 M) yang memadukan teknik Tiongkok dengan ciri khas warna merah besi di bagian dasar, serta keramik Sawankhalok atau Sukothai dari Thailand dengan ciri khas glasir hijau seladon bermotif kelopak padma.
Screenshot Koleksi keramik kuno di Museum Prabu Siliwangi, Kota Sukabumi Foto: Siti Fatimah/detikJabar |
Sementara itu, koleksi keramik Jepang terdiri atas keramik Hizen atau Imari abad ke-17 yang masuk lewat jalur perdagangan era Edo, hingga vas unik Satsuma buatan tahun 1950-an berhias lukisan Geisha bernuansa emas dan enamel polikrom.
Torpedo jar dari Mesir Foto: Siti Fatimah/detikJabar |
Raritas Eropa dan Mesir menampilkan botol stoneware berbentuk onion buatan Flagon Jerman (abad 18 M) untuk wadah wine, porselen khas Eropa berbahan faience, serta koleksi langka Torpedo Jar 2 dari Mesir yang diduga kuat berasal dari muatan kapal karam abad silam. Kemudian terakota Majapahit melengkapi jejak sejarah lokal Nusantara dari abad ke-13 hingga 15 Masehi.
Awal Mula Koleksi Keramik hingga jadi Pusat Edukasi
Fajar menceritakan, ribuan keramik ini mulanya merupakan benda peninggalan keluarga besar Raden Sumawinata. Sejak museum didirikan pada 2010, keturunan dan kerabat dari Kesultanan Banten hingga Cirebon terus menitipkan koleksi mereka.
"Saudara-saudara dari Banten, Cirebon, Sumatera, dan Jakarta ikut mengirimkan koleksi mereka agar bisa dipajang dan menjadi sarana edukasi masyarakat," terang Fajar.
Melihat nilai historisnya yang begitu tinggi, Kementerian Kebudayaan RI berkomitmen memberikan pendampingan konservasi. Direktur Warisan Budaya Ditjen Perlindungan Kebudayaan, Agus Widiatmoko, menyampaikan bahwa pemerintah akan memfasilitasi perawatan berkala bersama tim ahli.
"Fungsi utama museum adalah sebagai ruang pembelajaran publik dan wadah pelestarian melalui konservasi. Kami akan terus mendukung penguatan ekosistem kebudayaan ini," kata Agus.
(yum/yum)


